RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran         : Bahasa Indonesia

Sekolah                       : SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak

Kelas/Semester         : X/ Genap

Alokasi Waktu         : 2 X 35 Menit ( 1 Kali Pertemuan)

 

  1. STANDAR KOMPETENSI :

Mendengarkan : 1. Menyimpulkan isi informasi yang dianalisis melalui media cetak atau  media elektronik secara kritis dan konstruktif dengan berkelompok

 

  1. KOMPETENSI DASAR

Menanggapi siaran atau informasi dari  media  cetak atau media elektronik secara

kritis dan konstruktif dengan berkelompok.

  1. MATERI PEMBELAJARAN
  2. Pokok-pokok Berita

Pokok-pokok berita merupakan hal-hal penting dari sebuah berita. Untuk menentukan pokok-pokok berita kita bisa mencari berdasarkan unsur-unsur di bawah ini.

Pokok-pokok berita meliputi unsur informasi:

  1. Apa yang diberitakan (What)
  2. Siapa saja yang diberitakan (Who)
  3. Di mana peristiwa terjadi (Where)
  4. Kapan peristiwa terjadi (When)
  5. Mengapa peristiwa terjadi (Why).
  6. Bagaimana akhir dari peristiwa (How)

Unsur-unsur tersebut biasa dikenal dengan sebutan 5W + 1H.

 

  1. Struktur Teks Berita
    Struktur teks merupakan gambaran cara teks tersebut dibangun. Tahukah kalian bahwa teks berita disusun dengan struktur teks peristiwa berita diikuti oleh latar belakang peristiwa dan diikuti oleh sumber berita? Untuk lebih mudahnya bisa dilihat dibawah.
  1. Orientasi berita, merupakan pembuka tentang hal yang akan diberitakan.
  2. Peristiwa, merupakan tahap inti dari berita. Pada tahap ini berita dinarasikan sedemikian rupa hingga tersaji beberapa fakta yang dimunculkan kemudian.
  3. Sumber Berita, sumber berita tidak selalu berada di akhir berita, ia bisa berada di dalam berita itu sendiri.

 

  1. Contoh Teks Berita yang bisa dianalisis secara struktur berita

Sudah Telan 40 Korban

Serangan demam berdarah dengue (DBD) kian meluas dan mengganas. Hingga kemarin, dari data yang dihimpun Radar di Rumah Sakit Panti Waluyo (RKZ), Rumah Sakit Tentara Soepraoen (RSTS), dan Rumah Sakit Islam Aisyiah (RSIA), jumlah penderita terus menunjukkan peningkatan tajam.

Penderita terbaru tercatat tiga orang dari Jl. Anyelir 8 Kota Malang, yakni Eddo, 17; Nawasista, 39; dan Fitra, 3. Tiga orang tersebut adalah satu keluarga yang masuk dini hari kemarin di RKZ. Dengan tambahan itu, secara kumulatif di RKZ ada 25 penderita terhitung mulai awal Oktober. Sisanya tersebar di RSI, RST Soepraoen, dan RS Lavallete. Totalnya 40 pasien.

Menurut salah seorang anggota keluarga mereka, Jumat kemarin di kampungnya telah dilaksanakan pengasapan (fogging). Ironisnya, dini hari setelah pengasapan itu tiga anggota keluarganya harus menjalani rawat inap karena DBD. “Malam-malam mas bawanya ke rumah sakit. Ketahuannya malam hari itu,” kata seorang wanita di rumah tersebut.

Sementara di RST tercatat satu penderita di ruang anak-anak Paviliun Nusa Indah. Satu penderita itu adalah Awang Shinta, 8. Dia tak lain adalah kakak kandung dari Awang Akbar Rafsanjani 2,5 tahun, warga Jl. Kemantren  III Gg. 3 No. 12 yang meninggal Jumat lalu akibat serangan DBD pada Kamis sebelumnya.

Sedangkan di RSIA, hingga saat ini tercatat delapan orang penderita. Dua orang dari Klayatan Gg. III, seorang dari Perumahan Sawojajar I, seorang dari Kasin Gg. Keramat,  seorang dari Jl. Kematren, seorang dari kecamatan Dau, dan seorang lagi dari Kebonagung. Sedangkan satu lagi warga dari Klayatan Gg. II masih berstatus  suspect (diduga DBD).

 

  1. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI
  2. Menyampaikan secara lisan isi berita secara runtut dan jelas dengan presentasi
  3. Memberikan tanggapan berdasarkan informasi yang didengar (menyetujui, menolak, menambahkan pendapat)
  4. Menanggapi isi berita dengan menggunakan alasan dan bahasa yang rasional, logis dan kritis.
  5. Mengidentifikasi pokok-pokok berita

 

  1. TUJUAN PEMBELAJARAN
  2. Siswa mampu menganalisis isi berita dengan cara berpikir yang benar dan logis
  3. Siswa mampu mengidentifikasi pokok-pokok isi berita
  4. Siswa mampu mempresentasikan isi berita (kliping berita) dengan baik
  5. Siswa mampu menanggapi informasi isi  berita dengan mengajukan pertanyaan kritis
  6. Siswa mampu memberikan kesimpulan secara benar terhadap berita yang dianalisis

 

  1. METODE PEMBELAJARAN :
  2. Presentasi
  3. Diskusi kelompok
  4. Inquiri
  5. Tanya Jawab

 

  1. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN
No. Kegiatan Belajar Alokasi Waktu Metode Pembelajaran
1. Kegiatan Awal            :

a.      Guru memberi salam dan mengajak peserta didik berdoa.

b.      Guru mengabsensi peserta didik.

c.      Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.

d.     Guru menjelaskan materi tentang cara menganalisis berita

 

15 Menit Ceramah dan Tanya Jawab
2. Kegiatan Inti   :

A.    Eksplorasi

1.      Siswa diminta secara berkelompok untuk mendiskusikan berita yang sudah disiapkan (suratkabar)

2.      Siswa melakukan analisis berita secara berkelompok untuk menemukan pokok-pokok berita dalam suratkabar

3.      Siswa bertukar pikiran dalam menentukan pokok-pokok berita secara logis

 

B.    Elaborasi

1.      Siswa secara berkelompok mempresentasikan hasil analisisnya terhadap berita yang didapatkan dalam suratkabar

2.      Siswa lainnya menanggapi hasil presentasi secara rasional dan logis.

C.    Konfirmasi

1.      Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui

2.      Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui.

45 Menit  

Inquiri

 

 

 

Diskusi

 

 

 

Diskusi dan Tanya Jawab

3. Kegiatan Akhir :

a.    Guru melakukan refleksi dengan menanyakan kesulitan siswa dalam menentukan pokok-pokok berita

b.   Guru menyimpulkan pembelajaran.

c.    Guru memberikan tugas individu.

10 Menit Ceramah dan Diskusi

 

  1. ALOKASI WAKTU

2 X 35 Menit (1 kali pertemuan)

 

  1. SUMBER BELAJAR/ALAT/BAHAN :
  2. Suryanto, Alex dan Agus Haryatna. 2007. Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia (untuk SMA dan MA kelas X). Esis: Jakarta.
  3. LKS (Lembar Kerja Siswa).
  4. Contoh berita tentang DBD Sudah Telan 40 Korban
  5. Suratkabar yang dibawa oleh siswa-siswi
  6. LCD
  7. Spidol
  8. Papan Tulis
  9. PENILAIAN
  10. Teknik : Tes Unjuk kerja
  11. Bentuk Instrumen : Unjuk kerja dan proses

c  Kisi – Kisi soal penilaian

 

Jenis Tagihan:

  1. Tugas individu.

Bentuk Instrumen:

  1. Tentukanlah pokok-pokok berita yang telah dibaca dari sebuah surakabar lokal!
  2. Menurut pendapatmu, hal menarik apa yang kamu dapat dari berita yang kamu baca?
  3. Analisislah pokok-pokok beritanya secara benar1
  4. Apa kesimpulanmu terhadap berita tersebut!

 

  1. RUBRIK PENILAIAN

Pedoman penskoran menuliskan pokok-pokok berita!

No Nama Ketepatan Isi Pokok-pokok berita Jml. Skor Nilai
1 2 3 4 1 2 3 4
                       
                       
                       
                       
                       
                       
                       

 

Keterangan:  1 = kurang                      3 = baik

2            = cukup                       4 = sangat baik

 

Skor =  jumlah skor diperoleh   X 100

Skor maksimal( 8)

 

 

 

 

Mengetahui,

Kepala Sekolah SMA

 

Georgius, S.P.,M.Si.

NIP.-

Pontianak, 18 Januari 2016

Guru  Mata Pelajaran

 

 

Agustinus Sungkalang,S.S.

NIP.-

 

Programme for International Study Assessment (PISA)

TEMPO.COJakarta – Programme for International Study Assessment (PISA) 2012 menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan peringkat terendah dalam pencapaian mutu pendidikan. Pemeringkatan tersebut dapat dilihat dari skor yang dicapai pelajar usia 15 tahun dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains.

“Selama mengikuti studi tersebut sejak 2000, Indonesia selalu berada pada salah satu peringkat rendah,” kata anggota Koalisi Pendidikan, Ade Irawan, melalui rilis pers pada Jumat, 6 Desember 2013.

Dalam studi ini, mutu pendidikan Indonesia yang rendahdikonfirmasikan dengan anggaran dan biaya pendidikan yang langsung dibayar masyarakat naik signifikan dari tahun ke tahun. PISA merupakan studi internasional yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development.

Indonesia mengikuti dua tes internasional, yaitu studi Trends in International Mathematics and Science Studies dan Progress in Internatioal Reading Literacy Studi untuk murid sekolah dasar. “Indonesia juga berada di ranking terendah dalam kedua studi tersebut,” kata Ade.

Menurut Ade, PISA harus dilihat secara kritis. “Karena di balik itu ada agenda yang bersifat ideologis-liberalistis yang hanya mengukur tiga kemampuan dasar murid dan tidak memadai dijadikan dasar dalam pengambilan kebijakan pendidikan nasional,” kata Ade.

Ade mengatakan, selayaknya Kementerian Pendidikan mengembangkan sistem assessment bersifat nasional dan mencerminkan keberagaman anak. Mutu pendidikan Indonesia yang rendah, sebagaimana tercermin dari hasil studi PISA, memperlihatkan ada sesuatu yang salah dalam sistem persekolahan dan kebijakan pendidikan Indonesia.

Beberapa di antara masalah itu adalah ujian nasional dan berbagai tes lainnya; perubahan kurikulum dari waktu ke waktu; program sekolah unggulan (sekolah bertaraf internasional); kompetisi dalam berbagai Olimpiade; penambahan jam belajar; serta sertifikasi dan ujian kompetensi guru. “Ternyata gagal meningkatkan mutu pendidikan,” kata Ade.

Menurut Ade, Koalisi Pendidikan mendesak agar rezim pendidikan neoliberal, yang terlihat dari kebijakan pendidikan nasional beberapa dekade terakhir, diakhiri. “Kami mendesak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mempersiapkan agenda reformasi pendidikan,” kata Ade.

INDONESIA: DITENGAH PUSARAN PENDIDIKAN GLOBAL

DSC_0898

Agustinus Sungkalang, S.S.

Laporan The Learning Curve

Pada 27 November 2012, lembaga penelitian Pearson mengumumkan hasil rangkuman analisis kuantitatif dan kualitatif yang ditulis Economist Intelligence Unit tentang kemampuan para siswa serta kinerja lembaga-lembaga pendidikan di seluruh dunia, The Learning Curve. Mereka, antara lain, merujuk pada hasil beberapa tes internasional (OECD-PISA, TIMMS, dan PIRLS) yang memeringkat kecerdasan para siswa aneka bangsa.

Kurva pembelajaran itu menampilkan peringkat yang menunjukkan bahwa Finlandia (populasi 5,3 juta jiwa) dan Korea Selatan (populasi 48 juta jiwa) kini merupakan dua negara ”superpower pendidikan”. Di belakangnya, yang masuk dalam lima besar adalah Hong Kong, Jepang, dan Singapura.

Lima peringkat berikutnya ditempati oleh Inggris, Belanda, Selandia Baru, Swiss, dan Kanada. Amerika Serikat di peringkat ke-17. Indonesia berada di mana? Sebagaimana ditunjukkan oleh hasil berbagai uji kemampuan (sains, matematika, membaca, dan pemecahan masalah) dalam 10 tahun terakhir, kemampuan para siswa Indonesia selalu berada di dasar jurang (peringkat ke-40)!, di bawah Kolombia, Thailand, Meksiko, dan Brasil.

Bahagia Belajar

Mengapa Finlandia, negeri liliput di Eropa itu, selalu berada di puncak peringkat dunia? Itu karena, antara lain, sistem pendidikannya dibangun berdasarkan prinsip-prinsip: berkualitas, efisien, berkeadilan, berlangsung sepanjang hayat. Penyelenggaraannya bersifat santai dan fleksibel. Negara bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan dasar sembilan tahun yang bermutu untuk seluruh warga negara secara gratis. Para siswa tidak dibebani terlalu banyak mata pelajaran, jam belajar di sekolah sedikit (sesuai dengan kebutuhan siswa, dua sampai delapan jam sehari), dan mereka dibolehkan berbahagia belajar menekuni bidang yang diminatinya. Kuncinya adalah: guru yang bermutu-bermartabat dan sistem pengajarannya efektif.

Seperti Finlandia, Korea Selatan juga melakukan reformasi pendidikan sejak awal 1990-an. Namun, berbeda dari Finlandia, sistem pendidikan di Korea Selatan berlangsung lebih tegang dan rigid, dengan berbagai tes, hafalan, dan pekerjaan rumah. Namun, seperti di Finlandia, Korea Selatan juga tanpa henti meningkatkan kualitas dan harkat para gurunya serta menekankan bahwa semua langkah di bidang pendidikan memiliki nilai dan misi moral yang luhur.

Pencapaian Korea Selatan yang mengejutkan, yang melompat melampaui prestasi Jepang, Hong Kong, Singapura, membuktikan bahwa pemerintahan yang bersungguh-sungguh dan memiliki visi pendidikan yang jelas akan meraih sukses.

Tiga Tahap

Ada tiga tahap yang ditetapkan Pemerintah Korea Selatan dalam strategi pembangunan sumber daya manusianya. Untuk mendukung tekad pemerintah yang hendak menggenjot pertumbuhan ekonomi, dengan anggaran negara terbesar dialokasikan untuk jenjang SD dan SMP (86%), pada tahap pertama (tahun 1960-an), sekolah-sekolah diprogram menciptakan tenaga buruh kasar (lulusan SD) untuk kebutuhan industri padat karya dan manufaktur. Tahap kedua (tahun 1970-1980), seiring dengan kemajuan pesat ekonominya, sekolah-sekolah mempersiapkan tenaga kerja bagi industri berat dan kimia yang padat modal (lulusan SMA).

Tahap ketiga (1990-sampai sekarang), Kementerian Pendidikan fokus pada penciptaan tenaga kerja berpendidikan tinggi untuk mendukung industri teknologi, elektronik, dan industri berbasis ilmu pengetahuan lainnya. Untuk itu, sejak tahun 2000, seluruh sekolah dari SD hingga perguruan tinggi dilengkapi komputer dengan akses internet berkecepatan tinggi.

Hasilnya? Hanya dalam waktu sekitar 25 tahun sejak reformasi pendidikan dimulai, Korea Selatan kini bertahta di puncak kedua dunia. Itu melengkapi prestasinya di bidang industri elektronik dan koneksi internetnya yang berada di peringkat pertama.

Kok bisa? Catatan sangat penting dalam analisis The Learning Curve adalah, untuk menghasilkan pendidikan berkualitas, uang memang penting, tetapi yang lebih penting dari uang adalah besarnya dukungan kultur lingkungan terhadap pendidikan.
Untuk mengimbangi pembangunan domain kognisi yang sarat dengan hafalan dan ulangan, Pemerintah Korea Selatan pun menggalakkan pelajaran seni dan olahraga bagi para siswa sejak SD. Itulah dasar-dasar bagi pembentukan jati diri bangsa dan karakter. Yang dibangun di sekolah tidak hanya kecerdasan otak, melainkan seluruh tubuh, melalui berbagai macam olah seni dan olahraga yang, untuk itu pun, bangsa Korea Selatan mampu mencatatkan prestasi internasional: taekwondo, basket, bulu tangkis, bahkan tim sepak bolanya berhasil mencapai babak kualifikasiPiala Dunia delapan kali berturut-turut dan itu merupakan rekor terbanyak di Asia.

Tradisi Konfusianisme

Meskipun secara spiritual bangsa yang hidup di 3.000 pulau yang berbukit-bukit itu sebagian besar (41,5%) memilih tak beragama (ateis) dan sisanya beragama Buddha (25,8%), Protestan (18,3%), Katolik Roma (10,9%), Islam (0,1%), secara kultural mereka diikat dengan kuat oleh tradisi Konfusianisme yang diterimanya dari Cina pada abad keempat Masehi dan melembaga di seluruh Semenanjung sejak abad XIV.

Sejak itu, Konfusianisme Korea (Yugyo) merasuk ke dalam darah bangsa dan menjadi fondasi kebudayaan yang mengatur sistem moral, pola kehidupan dan hubungan sosial antar-generasi, serta dasar bagi banyak sistem hukum.
Sebagaimana diketahui, spirit Konfusianisme mengajarkan bahwa untuk menjadi sempurna, manusia harus menjalani pendidikan dan latihan yang keras dan terus-menerus. Kualitas itulah yang secara sosial akan menempatkan seseorang di puncak status (meritokrasi).

Itulah yang mendorong para orangtua Korea mati-matian berusaha menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Itulah semangat kebudayaan yang melahirkan ”demam pendidikan” dan terbukti menempatkan Korea Selatan berada di puncak hierarki dunia. Adalah spirit Konfusianisme juga yang, sebagaimana ditunjukkan The Learning Curve, menempatkan Hong Kong, Jepang, dan Singapura di lima besar.

Lalu, apa yang harus dilakukan Pemerintah Indonesia agar mampu mengangkat bangsanya dari dasar jurang? Uang memang penting, tapi budaya jauh lebih penting! Hentikan politik diskriminasi pendidikan yang membangun kasta-kasta sekolah unggulan dan bukan unggulan yang berbiaya mahal! Hentikan ujian nasional yang bukan hanya memboroskan dana, tenaga, dan waktu, melainkan juga, lebih parah dari itu, hanya menjadi pemicu ”kriminalitas pendidikan” dan memberikan ukuran menyesatkan tentang peringkat kecerdasan seseorang. Lebih tragis lagi, ujian nasional telah menghancurkan tujuan pendidikan: bukannya membangun karakter dan akhlak mulia, melainkan menjadikan para anak didik menjadi pemburu nilai, peringkat, dan ijazah!

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus mampu membangun lembaga-lembaga pendidikan yang bermutu, murah, dan adil serta bisa diikuti oleh seluruh warga negara. Metode pembelajaran harus mampu membahagiakan anak (seperti di Finlandia) dan sekaligus harus menyehatkan badan (seperti di Korea Selatan), serta harus memperkuat jati diri dan budaya bangsa dan memberi kesadaran kepada anak dan para orangtua untuk cinta belajar sepanjang hayat (seperti di negara-bangsa bertradisi Konfusian). Itulah makna lirik lagu kebangsaan kita: ”Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.” Hanya dengan itulah, kita bisa menghibur dan menghentikan tangis Ibu Pertiwi!

GURU, MOTIVASI DAN ETOS KERJA

DSC03413

Oleh: Agustinus S.S.

 

Membicarakan masalah pendidikan, kadang-kadang kita dihadapkan pada mata rantai persoalan yang tidak jelas ujung pangkalnya dan dari mana kita harus memulainya. Guru merupakan pihak yang paling sering dituding sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap kualitas pendidikan. Asumsi demikan tentunya tidak semua benar, mengingat teramat banyak komponen mikrosistem pendidikan yang ikut menentukan kualitas pendidikan.
Namun begitu, guru memang merupakan salah satu komponen mikrosistem pendidikan yang sangat strategis dan banyak mengambil peran di dalam proses pendidikan secara luas, khususnya dalam pendidikan persekolahan. Oleh karena itu, kita memang banyak menaruh harapan kepada guru dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Jika harapan tersebut sulit dipenuhi maka setidaknya guru yang menangani langsung masalah pendidikan

adalah guru-guru yang memiliki kualitas yang cukup memadai.

Di dalam buku Effective Schools and Effective Teacher, Gary A. Davis dan Margaret A. Thomas (1989) mengemukakan tentang beberapa ciri guru yang efektif sebagai berikut, pertama, guru harus memiliki kemampuan yang terkait dengan iklim kelas. Kedua, guru memiliki kemampuan yang terkait dengan konsep strategi manajemen. Ketiga, guru memiliki kemampuan terkait dengan pemberian umpan balik dan penguatan (reinforcement). Keempat, guru memiliki kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri.

Tetapi pada faktanya, dalam riset lain, guru-guru di Indonesia masih memiliki penyakit mental. Para guru memiliki penyakit asal masuk kelas (asma), asal sampaikan materi urutan kurang akurat (asam urat), di kelas anak-anak remehkan (diare), gaji nihil jarang aktif dan terlambat (ginjal), kurang disiplin (kudis), kurang strategi (kusta), kurang trampil (kram), lemah sumber (lesu), mutu amat lemah (mual), tidak punya selera (tipus), tidak bisa komputer (TBC), dan sebagainya.(Dion Eprijum Ginanto, 2011 : 19)

Pendidikan kita belum bisa menjadi seperti apa yang disebutkan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) tahun 1996: moulding the character and mind of young generation/mencetak karakter dan pikiran generasi muda. Ada persoalan etos kerja yang serius dalam jati diri bangsa ini. Etos yang berasal dari bahasa Yunani; akar katanya adalah ethikos yang berarti moral atau menunjukkan karakter moral.

Etos juga berarti keberadaan diri, jiwa, dan pikiran yang membentuk seseorang. Webster’s New Word Dictionary, 3rd College Edition, etos didefinisikan sebagai kecenderungan atau karakter; sikap, kebiasaan, keyakinan yang berbeda dari individu atau kelompok. Bahkan dapat dikatakan bahwa etos pada dasarnya adalah tentang etika.

Jansen Sinamo, dalam bukunya 8 Etos Keguruan, merumuskan bahwa etos kerja diartikan sebagai semangat, pola pikir, dan mentalitas yang mewujud sebagai seperangkat perilaku kerja yang khas dan berkualitas. Etos kerja juga berhubungan dengan nilai-nilai etika seperti tekun, ulet, pekerja keras, rajin tak suka mengeluh, memiliki dsiplin tinggi, mampu menahan diri dan nilai-nilai positif lainnya. Maka etos kerja adalah respons seseorang, kelompok, atau masyarakat terhadap kehidupan sesuai keyakinannya. Dengan kata lain, etika kerja merupakan produk dari sistem kepercayaan yang diterima seseorang atau kelompok atau masyarakat. Maka etos kerja yang tinggi akan menghasilkan semangat dan produktivitas yang tinggi pula.

Selanjutnya keberhasilan seorang siswa dalam belajar dipengaruhi oleh motivasi/dorongan untuk belajar yang kuat. Motivasi adalah suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu, baik disadari atau tidak disadari. Motivasi ini juga tidak tumbuh sendiri. Tapi dia juga bisa dirangsang untuk tumbuh, yang dalam bukunya Sukmadinata (2004) menyebutkan beberapa rangsangan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Pertama, mendudukkan dengan persis tujuan sebuah pembelajaran. Masalah yang sering timbul adalah, para peserta didik tidak benar-benar memahami apa tujuan mereka belajar. Kedua, menghindari kebosanan dalam belajar. Caranya dengan menyesuaikan materi pembelajaran yang dibutuhkan oleh peserta didik. Perlu kecakapan dari seorang pendidik untuk melihat dan mengetahui kebutuhan pembelajaran para peserta didiknya. Ketiga, membuka peluang sebesar-besarnya bagi murid untuk mencapai sukses. Berilah mereka persoalan yang bisa diselesaikan dengan baik, carilah cara agar mereka bisa menyempurnakan tugas yang diberikan kepada mereka. Karena ini akan meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Keempat, berilah penghargaan atas setiap prestasi yang dicapainya, sekecil apapun prestasi itu. Karena penghargaan seperti ini akan membangkitkan potensi yang mengendap di dalam diri seorang peserta didik

Evaluasi kegiatan belajar

Dari jurnal penelitian yang penulis baca, bahwa riset Benjamin Bloom menyebutkan bahwa tingkah laku belajar peserta didik dipengaruhi perkiraan peserta didik tentang apa yang akan diujikan. Maka kalau yang akan diujikan adalah penguasaan pengetahuan yang telah dihafal, dengan sendirinya peserta didik hanya akan belajar materi yang akan diujikan.

Ini mengakibatkan peserta didik akan mengabaikan berbagai kegiatan belajar yang tidak akan diujikan, seperti belajar meneliti, menulis makalah, belajar mengapresiasi karya sastra, belajar berdemokrasi, dan berbagai proses belajar yang bermakna transformasi budaya. Maka evaluasi secara nasional bidang pendidikan kita seperti dikatakan Parson yaitu classroom as social sistem/ruang belajar sebagai sistem sosial. Selain itu sekolah sebagai pembudayaan berbagai kemampuan, nilai, dan sikap (Inkeles). Ini adalah bagian dari teori belajar sosial (social learning theory) yang dapat menumbuhkan sikap dan kemampuan yang pada akhirnya menumbuhkan etos kerja tinggi. Hal seperti ini tentu akan amat sulit dicapai dalam model belajar tradisional yang dilakukan pada akhir satuan jenjang atau kelas seperti “ulangan umum” pada akhir semester, dan berakhir pada Ujian Nasional.

Oleh karenanya, jika evaluasi model ujian bagi peserta didik, khususnya ujian nasional yang umumnya menanyakan dimensi kognitif mata pelajaran akan membuat peserta didik hanya merasa perlu mengingat. Mereka tidak akan merasa perlu melakukan percobaan, menguji coba pengetahuan akan suatu ketrampilan yang diajarkan, tidak perlu latihan menulis. Selanjutnya, proses peningkatan jenjang pendidikan seperti dari SD ke SMP atau dari SMP ke SMA dan seterusnya dari SMA ke Perguruan Tinggi hanya akan menjadi nilai ujiannya sebagai referensi. Kalau ada yang membuat ujian saringan masuk, maka wujudnya lebih kurang sama dengan ujian yang para peserta didik alami sebelumnya, malah yang lebih parah adalah ujian sebagai langkah seremornial semata.

Coba kita membandingkan dengan evaluasi pendidikan di Jerman. Di sana peserta didik yang akan naik ke level gymnasium (SMA) maka mereka sudah disaring sejak duduk di kelas lima. Di Amerika Serikat juga begitu, sejak kelas 9 telah diversifikasi kurikulum, yaitu kurikulum untuk calon mahasiswa (Preparatory College) yang merupakan evaluasi pendidikan yang berbeda bagi mereka yang tidak memenuhi syarat menjadi calon mahasiswa. Di Singapura juga seperti itu, di mana untuk masuk SMA (Junior College) peserta didik sudah disaring sejak kelas 5 SD.

Secara sederhana, sistem pendidikan menuju etos kerja yang tinggi adalah sistem pendidikan menjadi suatu rangkaian yang tak terputus dari masing-masing bagiannya. Poin-nya adalah pada kesinambungan pendidikan. Pendidikan dilihat sebagai sebuah sistem yang utuh, saling kait mengait antara satu sama lainnya. Tujuannya adalah membentuk (output) para peserta didik yang memiliki etos kerja yang tinggi. Rangkaian yang utuh itu harus terlihat jelas dari setiap level pendidikan, dari SD ke SMP, dari SMP ke SMA dan dari SMA ke perguruan tinggi. Selanjutnya struktur dan materi yang diajarkan kepada peserta didik memungkinkan mereka mengembangkan potensinya secara optimal sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.

Pendidikan juga mesti menjadi suatu model pembelajaran yang merangsang dan menyenangkan. Karena ini adalah sarana yang stabil untuk mengembangkan potensi diri para peserta didik. Setelah itu, penerapan sistem evaluasi yang relevan yaitu sistem evaluasi yang komprehensif, terus menerus, dan obyektif yang didukung sumber daya pendidikan yang kaya. ***

(Guru SMP & SMA St. Fransiskus  Asisi Pontianak, Kalimantan Barat)

MENGENAL 8 KECERDASAN SISWA

In house training

In house training

Oleh: Agustinus S.S.

Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu proses pengembangan potensi individu siswa. Melalui pendidikan, potensi yang dimiliki oleh individu siswa akan diubah menjadi kompetensi. Kompetensi mencerminkan kemampuan dan kecakapan individu dalam melakukan suatu tugas atau pekerjaan. Tugas pendidik atau guru dalam hal ini adalah memfasilitasi anak didik sebagai individu untuk dapat mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi kompetensi sesuai dengan cita-citanya. Oleh karenanya, program pendidikan dan pembelajaran seperti yang berlangsung saat ini harus lebih diarahkan atau lebih berorientasi kepada invidu peserta didik.

Ada hal yang sangat menarik, ketika penulis membaca buku Julia Jasmine, M.A. berjudul Mengajar Dengan Metode Kecerdasan Majemuk yang mengatakan bahwa kecerdasan intelektual tidak hanya mencakup dua parameter saja, bahasa dan matematika, tetapi dapat dilihat dari aspek kinetis, musikal, visual-spatial, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Jenis-jenis kecerdasan intelektual tersebut dikenal dengan sebutan kecerdasan jamak (Multiple Intelligences). Lebih lanjut Julia Jasmine memaparkan bahwa semua anak pada dasarnya lahir dengan potensi untuk menjadi jenius sesuai dengan bakat dan talentanya masing-masing (Julia, hal 52).

Paradigma pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan kecerdasan selayaknya mengacu pada perkembangan otak manusia seutuhnya. Realitas pembelajaran dewasa ini menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar lebih banyak mengacu pada target pencapaian kurikulum dibandingkan dengan menciptakan siswa yang cerdas secara utuh. Akibatnya, peserta didik dijejali dengan berbagai informasi tanpa diberi kesempatan untuk melakukan telaah dan perenungan secara kritis, sehingga tidak mampu memberikan respons yang positif. Mereka dianggap kertas kosong yang siap menerima coretan informasi dan pengetahuan saja.         Di Indonesia, novel bestseller yaitu Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata juga menggambarkan sosok seorang guru bagaimana Ibu Muslimah yang telah mempraktikkan pembelajaran yang mengutamakan pengembangan potensi yang dimiliki oleh para siswanya. Dalam keterbatasan yang ada pada sekolahnya, Ibu Muslimah memanfaatkan ketidakterbatasan potensi yang dimiliki anak didiknya. Ia sadar betul bahwa setiap individu memiliki kelebihan yang perlu diasah dengan tepat. Kesadaran itulah yang mengantarkan seorang guru dari Belitung tersebut untuk memperoleh penghargaan dari pemerintah. Tetapi bagi penulis, sesungguhnya penghargaan terbesar bagi seorang pendidik adalah di saat ia dapat menyaksikan kesuksesan yang diraih para anak didiknya dengan memaksimalkan potensi yang ia miliki walaupun ditengah keterbatasan.

Menurut Paul Suparno dalam bukunya Teori Intelegensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah mengatakan bahwa pada dasarnya siswa adalah individu yang unik. Setiap siswa memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Tidak semua individu memilki profil intelegensi yang sama. Setiap individu juga memiliki bakat dan minat belajar yang berbeda-beda. Pada era informasi ini memang sangat dirasakan pengetahuan bagaikan air bah yang sangat sulit dibendung, berbagai media sebagai sarana pembelajaran terpampang di depan kita dan sangat mudah meraihnya, dengan demikian tidak semua individu harus mempelajari semua informasi. Setiap individu siswa harus bersifat selektif dalam menentukan keterampilan dan pengetahuan yang akan dipelajari. Individu siswa harus memiliki pilihan untuk memilih apa yang ingin dipelajari dan bagaimana mempelajarinya.

Teori mengenai kecerdasan majemuk adalah salah satu perkembangan paling penting dan menjanjikan dalam pendidikan  dewasa ini. Teori kecerdasan majemuk merupakan validasi tertinggi terhadap gagasan bahwa perbedaan individu adalah penting. Pemakaian teori ini dalam pendidikan sangat bergantung pada pengenalan, pengakuan, dan penghargaan terhadap setiap minat dan bakat masing-masing pembelajar. Teori kecerdasan majemuk bukan hanya mengakui perbedaan individual untuk tujuan-tujuan praktis, seperti pengajaran dan penilaian, tetapi juga menganggap serta menerimanya sebagai sesuatu yang normal, wajar, bahkan menarik, dan sangat berharga.

Menurut Howard Gardner dalam Paul Suparno (2004:57) menegaskan bahwa kecerdasan adalah kemampuan untuk melakukan abstraksi, serta berpikir logis dan cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru. Lebih lanjut dijelaskan, bahwa kecerdasan (inteligensi) secara umum dipahami pada dua tingkat yakni : Pertama, kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kedua, kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. Howard Gardner menjelaskan terdapat delapan jenis kecerdasan (1983) yang sudah diidentifikasinya dan sangat penting bagi siswa, yaitu pertama, kecerdasan linguistik yakni kecerdasan yang berisi kemampuan untuk berfikir dan menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara tertulis maupun lisan, dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya. Peserta didik dengan kecerdasan bahasa yang tinggi umumnya ditandai dengan kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan suatu bahasa seperti membaca, menulis karangan, membuat puisi, menyusun kata-kata mutiara, dan sebagainya.

Kedua, kecerdasan matematis yakni kecerdasan logis matematis memuat kemampuan siswa dalam berpikir secara induktif dan deduktif, berpikir menurut aturan logika, memahami dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir. Ketiga, kecerdasan visual spasial yakni memuat kemampuan siswa untuk lebih memahami secara lebih mendalam hubungan antar objek dan ruang. Peserta didik ini memiliki kemampuan menciptakan imajinasi bentuk dalam pikirannya. Keempat, kecerdasan kinestetik yakni kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah. Hal ini dapat dijumpai pada siswa yang unggul pada salah satu cabang olahraga, seperti bulu tangkis, sepakbola, basket, renang, menari baik balet maupun lainnya. Kelima, kecerdasan musikal yakni kemampuan siswa untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada disekelilingnya, termasuk dalam hal ini adalah nada dan irama. Siswa tipe ini cenderung senang sekali mendengarkan nada dan irama yang indah, bisa melalui senandung yang dilagukan sendiri, ataupun mendengarkan dari alat musik misalnya tape recorder, radio, pertunjukan orchestra, atau alat musik yang dimainkannya sendiri.

Keenam, kecerdasan interpersonal yakni menunjukkan kemampuan siswa untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan sekelilingnya. Ketujuh, kecerdasan intrapersonal yakni kemampuan siswa untuk peka terhadap dirinya sendiri dan senang melakukan intropeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahan yang ada pada diri sendiri dan mencoba memperbaikinya. Kedelapan, kecerdasan naturalis yakni kemampuan siswa untuk peka terhadap lingkungan alam.

Dari paparan di atas, penulis berpendapat, bahwa Gardner memaknai konsepnya tentang kecerdasan majemuk (multiple intellegensi) ini, mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang konvensional mengenai kecerdasan dari tunggal menjadi majemuk. Kecerdasan tidak terbatas pada kecerdasan intelektual yang diukur dengan menggunakan beberapa tes intelegensi yang sempit saja atau sekadar melihat prestasi ditampilkan seseorang melalui ujian dan semacamnya. Akan tetapi, kecerdasan juga menggambarkan kemampuan seseorang pada bidang seni, spasial, olahraga, berkomunikasi, dan cinta akan lingkungan.

Akhir kata penulis, setiap siswa memiliki potensi yang unik yang harus dikembangkan menjadi kompetensi. Pendidikan merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mengembangkan potensi individu menjadi kompetensi. Dalam mengimplementasikan teori kecerdasan majemuk di sekolah, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu: masyarakat dan orang tua, guru, kurikulum, fasilitas pembelajaran dan sistem penilaian, sedangkan kegiatan dapat dilakukan dengan cara menyediakan hari-hari karir, study tour, biografi, pembelajaran terprogram, eksperimen, majalah dinding, papan display, membaca buku-buku untuk mengembangkan kecerdasan majemuk, membuat tabel perkembangan kecerdasan anda, atau human intelligence hunt. ***

(Guru SMP & SMA St. Fransiskus  Asisi Pontianak, Kalimantan Barat)

Abad 21, Indonesia Wajib Cetak Guru Generasi Teknologi

Info pendidikan

PONTIANAK.com – Binus University berkolaborasi dengan Kedutaan Besar Inggis mengadakan seminar tentang penggunaan teknologi untuk mendukung pembelajaran kelas yang lebih kreatif dan modern. Sekitar 60 peserta dari 37 perwakilan Sekolah Menengah Atas di Jakarta berkumpul di Kampus Binus Anggrek, Jakarta, Rabu (7/10/2015).

“Mengembangkan kualitas pendidikan kelas satu menjadi sangat penting bagi Indonesia demi meraih potensi bangsa sepenuhnya,” tutur Moazzam Malik, Duta Besar Inggris untuk Indonesia.

Dalam seminar tersebut, peserta diperkenalkan dengan metode-metode mengajar kreatif yang bisa diaplikasikan dalam proses belajar mengajar. Salah satunya dengan memanfaatkan infografis.

. “Infografis merupakan representasi dari informasi, data, atau ilmu pengetahuan dengan konsep visual yang terdiri dari teks dan gambar ilustrasi,” ujarc Digital Media Development Manager Binus Danu Widhyatmoko yang menjadi instruktur pada sesi pembuatan infografis bagi peserta seminar.

Menurut Danu, salah satu kunci pengajaran modern dan efektif adalah dengan menyederhanakan informasi-informasi rumit sehingga mudah dicerna siswa.

“Awalnya, kita sering mendengar curhatan para guru yang pernah bekerja sama dengan Binus. Mereka ada di Jakarta, tapi kurang akses terhadap teknologi dan informasi,” ujar Risa R Simanjuntak, Head of English Department Binus merangkap pemimpin proyek seminar tersebut.

Dia mengatakan, kualitas lulusan perguruan tinggi tak lepas dari fondasi yang telah dibentuk saat pendidikan dasar, menengah, dan atas. Saat ini saja, menurut Risa, kualitas pendidikan SMA belum merata.

“Kalau kita lihat dari peneriamaan mahasiswa tiap tahunnya, juara satu dari tiap sekolah ternyata beda-beda juga kualitasnya, padahal sama-sama juara satu,” kata Risa.

Karena itu, Risa menyimpulkan, kualitas para pendidik juga perlu ditingkatkan. Niat baik ini lalu mendapat respon positif dari Kedutaan Inggris. Dengan dukungan program The Chevening Alumni Project (CAP) Fund, seminar ini dapat terlaksana.

“Melalui kolaborasi yang harmonis ini, saya berharap kegiatan CAP Fund mampu melengkapi guru dan pendidik dengan wawasan dan pengalaman berharga mengenai tren terkini di (dunia) pendidikan dan pengajaran,” ucap Rektor Binus University Prof Harjanto Prabowo.

Resensi Buku: Membangun Komunitas Berpengharapan

download

Buku yang Menarik untuk dibaca!!!

Selamat membaca!!

Judul Buku : The Catholic Way, Kekatolikan dan Keindonesiaan Kita

Penulis : Mgr Ignatius Suharyo
Penerbit : Kanisius, Jogjakarta
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 248 halaman

JENAZAH orang muda bernama Giorgio Frassati diterbangkan dari kota Torino, Italia, menuju Sydney, Australia. Ini terjadi pada peringatan Hari Kaum Muda Sedunia di Sydney, 2008. Giorgio Frassati lahir dari keluarga kaya namun hidupnya ia dedikasikan untuk melayani orang miskin, sakit, dan telantar. Pelayanannya kepada kaum duafa membuat ia mati dalam usia yang relatif muda, 24 tahun. Ia meninggal akibat penyakit dari orang-orang miskin yang dilayaninya. Pada saat meninggal, ribuan orang miskin datang melayat sebagai bentuk penghormatan.

Dengan menghadirkan jenazahnya di Sydney, Paus Benediktus XVI menawarkan teladan kaum muda yang telah mengalami kehadiran Tuhan dan kasih yang mengubah dan membaharui hidupnya, sehingga menumbuhkan harapan di antara orang miskin yang mengalami ketidakberdayaan (hal. 213-214).

***
Kita memimpikan suatu dunia yang bebas dari kekerasan, dunia dengan keadilan dan harapan. Setiap orang hendaknya mengulurkan tangan kepada sesamanya, tanda perdamaian dan persaudaraan. Demikian ajakan lagu ”The Prayer” yang popular beberapa tahun lalu. Lagu ini pula yang menjadi memberi semangat Mgr Ignatius Suharyo, penulis buku ini, ketika menjalani tugas pelayanan di Keuskupan Agung Semarang. Sebab, kenyataan menunjukkan dunia yang berbeda.

Dalam konteks Indonesia, saat ini masyarakat sedang berjuang melawan korupsi, kekerasan, dan kerusakan lingkungan hidup. Dalam situasi semacam ini, menurut Uskup Haryo (panggilan Mgr Ignatius Suharyo, Red), perutusan untuk mewartakan pengharapan menjadi jelas. Dalam bahasa lain, iman mesti terlibat dalam upaya membangun harapan, di tengah situasi gamang dan kadang hopeless. Dalam buku ini uskup mengajak agar umat tetap teguh dalam iman, berpengharapan, dan penuh kasih, baik sebagai pribadi, warga masyarakat, gereja maupun negara. Dengan begitu, kita bisa melibatkan diri untuk membangun tata dunia yang lebih baik.

Buku ini merupakan buah pemikiran, pandangan, dan ajaran iman Mgr Haryo selama menjadi gembala umat di Keuskupan Agung Semarang (KAS). Di wilayah reksa pastoralnya, ia dikenal sebagai gembala yang murah hati, lembut, terbuka, dan bijaksana. Dengan keterbukaannya dia banyak membuat kebijakan pastoral yang memberdayakan umat.

”Silahkan umat dari berbagai elemen membuat karya, dengan siapa pun yang berkehendak baik. Kalau salah ya diampuni, kalau keliru yang dikoreksi.” Itulah wejangan Uskup Haryo di berbagai kesempatan, agar umat tidak takut bereksperimen dan berekplorasi dalam mengembangkan iman dan dialog dengan siapa saja. Maka, karena kebijaksanaannya, ke­lembutannya, dan ketegasannya menggembalakan umat di KAS, Uskup Haryo amat dicintai umat.

Umat KAS merasa kehilangan gembala saat Mgr Haryo meninggalkan Semarang untuk bertugas perutusan di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Namun umat juga bangga, karena gembalanya mendapat tugas terhormat di kota metropolitan yang penuh tantangan dan situasinya lebih kompleks. Buku ini juga dimaksudkan sebagai kenang-kenangan atas kepergian Uskup Haryo untuk bertugas di tempat yang baru, dengan satu sesanti, ”Mari dengan tekun bekerja terus membangun komunitas yang berpengharapan”.

Buku ini dapat menjadi bacaan atau referensi masyarakat secara luas, karena isi pokok dalam buku ini mengulas bagaimana persoalan hidup berbangsa dan bernegara. Dari tema-tema itu, Uskup Haryo selalu menyelipkan tema harapan. Dia menegaskan betapa pentingnya keutamaan pengharapan bagi umat manusia yang hidup pada zaman ini.

Buku ini mirip buku Crossing the Threshold of Hope (Melintasi Ambang Batas Pengharapan) yang terbit pada 1994. Buku tersebut mengupas berbagai persoalan aktual di dunia saat ini, di mana Paus Yohanes Paulus II sebagai nara sumber menjawab dengan tuntas dan mendalam persoalan aktual zaman ini.

Nah, buku tulisan Uskup haryo ini rupanya tak jauh berbeda dengan buku Crossing the Threshold of Hope. Hanya saja, Uskup Haryo menjawab dalam konteks persoalan Indonesia saat ini.

***

Sudah sekian tahun sejak reformasi berjalan, keadaan masyarakat, bangsa, dan negara tampaknya tidak menjadi lebih baik. Korupsi tetap merajalela, masyarakat miskin bertambah, lingkungan hidup semakin rusak dan sekian banyak masalah lain membuat hidup semakin sulit. Dalam keadaan semacam itu, buku ini hadir untuk ikut berpartisipasi menyumbangkan gagasan dan inspirasi untuk membangun komunitas yang berpengharapan. Harapan tidak sama dengan optimisme. Optimisme lebih bernuasa psikologis, sedangkan harapan bernuansa spiritual. Optimisme mudah hilang kalau ternyata perhitungan-perhitungan yang melandasi optimisme itu salah. Harapan tidak akan hilang, karena dilandasi oleh janji Tuhan sendiri. Maka, dalam dekade terakhir, Konferensi Waligereja Indonesia banyak mengeluarkan Surat Gembala atau seruan pastoral yang berkaitan soal pengharapan.

Pada 1997, ketika situasi sosial-politik-ekonomi di Indonesia tidak menentu, KWI menulis Surat Gembala ”Keprihatinan dan Harapan”. Ketika terjadi pembaharuan dan reformasi pada 1999, KWI menerbitkan Surat Gembala dengan judul ”Bangkit dan Tegak dalam Pengharapan”.

Pada 2001, ketika negara tidak menjadi lebih baik terbit lagi Surat Gembala dengan judul ”Tekun dan Bertahan dalam Pengharapan: Menata Moral Bangsa”. Berpengharapan menjadi keutaman orang beriman, terutama saat menghadapi dunia yang penuh tantangan ini.

Buku ini ditutup dengan kata-kata pengharapan yang membuat orang tidak takut akan segala rintangan: be not afraid (jangan takut). ”Karena itu, saudara-saudaraku yang terkasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab, kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan payahmu tidak sia-sia” (1 Kor 15:58).

Buku ini sungguh inspiratif dan menggugah kesadaran kita untuk mau berjuang dan berpengharapan di tengah kesulitan hidup pribadi, berbangsa, dan bernegara. (*)

Menggugat Asap Jahanam

By: Agus Sungkalang (Guru SMP dan SMA St. Fransiskus Asisi Pontianak)

DSC_0899

Pagi ini di sudut kota khatulistiwa,

tak terasa lagi segarnya udara pagi seperti biasa

yang ada hanya warna putih dan abu-abu membalut angkasa

tak tampak lagi matahari pagi dengan sinarnya

sebab wajahnya telah tertutup kabut yang tak biasa

…………………………………………….

pagi ini di sudut kota khatulistiwa,

yang ada hanya suara parau karena asap menyesakkan dada

klinik hingga rumah sakit pun dipenuhi oleh balita hingga manula

suara batuk gematuk bersahutan di mana-mana

melengkapi irama kota yang melara karena penghuninya yang merana

……………………………………………..

pagi ini di sudut kota khatulistiwa,

banyak tanya yang tak terjawab dengan rasa

semua saling menuding ini salah siapa…

rakyat kecil yang membakar gulma di lahan yang hanya sejengkal dua?

pengusaha yang membumihanguskan separuh belantara?

atau pemerintah yang memberikan ijin dan kredit lunak kepada para

pengusaha perkebunan raksasa?

Sudut Khatulistiwa, 2015  (23: 08)

HARI SARJANA DAN PROBLEMA PENGANGGURAN

DSC_0034
Agustinus, S.S.

          Berjalan seorang pria muda
Dengan jaket lusuh dipundaknya
Disela bibir tampak mengering
Terselip sebatang rumput liar

Jelas menatap awan berarak

………………     

    Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja
Mengandalkan ijazahmu

Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku
Tuk jaminan masa depan …..

          Masih ingatkah kita dengan lagu tersebut, tentu itu adalah sebuah lagu refleksi dari Bang Iwan Fals terhadap para Sarjana, yang ketika di zaman Soeharto sangat kesulitan untuk mencari pekerjaan. Masih muda, jaket lusuh, jalan gontai, lalu pergi mencari pekerjaan dengan hanya mengandalkan ijazah saja dan akhirnya ditolak. Mungkin berbeda dengan penulis, yang di zaman sekarang ini yang mungkin agak lebih mudah untuk mencari dan mendapatkan sebuah pekerjaan.

Hari Sarjana Nasional, yang merupakan penghargaan kepada para sarjana, selalu diperingati pada 29 September. Sebagai insan unggul, para sarjana merupakan aset bangsa yang diharapkan dapat memberi sumbangsih berarti bagi pembangunan. Secara ekonomi, mereka galibnya dapat berkontribusi secara maksimal terhadap peningkatan produktivitas bangsa, pertumbuhan ekonomi, dan pemerataan pendapatan. Sayangnya, hingga kini tahun 2015, masih banyak sarjana yang menganggur (selanjutnya disebut penganggur akademik). Alih-alih memberi sumbangsih kepada pembangunan bangsa, mereka justru menjadi beban pembangunan.

Hasil data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, dalam kurun waktu satu tahun, tingkat pengangguran di Indonesia mengalami penambahan sebanyak 300 ribu jiwa. Bahkan, dalam Februari 2015 saja sudah mengalami peningkatan dibandingkan dengan Agustus 2014, sebanyak 210 ribu jiwa. Sementara, jika dibandingkan dengan Februari tahun lalu bertambah 300 ribu jiwa. BPS juga mencatat, ada 7,4 juta pengangguran terbuka per Februari 2015. Ironisnya, kenaikan tersebut sebagian disebabkan sarjana yang menganggur. Kondisi ini mengkhawatirkan. Apalagi, akhir tahun ini, Indonesia akan mulai memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Ini artinya, SDM Indonesia tidak hanya bersaing dengan sesama anak bangsa saja, tapi juga dengan bangsa lain. Perguruan Tinggi (PT), termasuk universitas sebagai pencetak calon tenaga kerja mendapatkan tantangan untuk melahirkan SDM berstandar kompetensi global.

Sebetulnya, jumlah penganggur akademik dan potensi yang hilang bakal lebih besar lagi bila definisi penganggur diperluas hingga mencakup mereka yang setengah menganggur (jam kerja kurang dari jam kerja normal) dan mereka yang bekerja namun lapangan pekerjaan yang digeluti tak sesuai dengan kualifikasi pendidikan dan kompentensi yang dimiliki (disguised unemployment). Dalam soal ini, BPS menunjukkan data yang mencengangkan.  Betapa tidak, angkatan kerja berpendidikan sarjana yang bekerja pada Februari 2015, hanya sebesar 8,29 persen. Itu artinya, tak sedikit angkatan kerja berpendidikan sarjana yang tak terserap di sektor formal. Mereka terpaksa mengadu nasib di sektor informal untuk memperoleh pendapatan, meski lapangan pekerjaan yang digeluti tak sesuai atau lebih rendah dari kualifikasi pendidikan dan kompetensi yang dimiliki.

Ditengarai, salah satu penyebab masih tingginya jumlah penganggur akademik selain rendahnya kompetensi para sarjana adalah kesenjangan antara kualifikasi pendidikan dan kompentensi yang dimiliki oleh para penganggur dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Fakta miris juga diungkapkan oleh Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri. Menurut Hanif, salah satu faktor timbulnya pengangguran adalah tidak terserapnya lulusan pendidikan oleh dunia industri, karena tidak memiliki kompetensi dan kualifikasi yang dibutuhkan pasar kerja.

Tak bisa dimungkiri, sistem pendidikan nasional saat ini lebih dititikberatkan pada pengajaran akademik ketimbang pendidikan vokasional. Hal ini tercermin dari kecilnya rasio jumlah politeknik dan institut dibanding jumlah universitas. Padahal, sektor industri, yang pangsanya terhadap penyerapan angkatan kerja mencapai 13 persen, lebih membutuhkan lulusan politeknik maupun institut ketimbang sarjana “bermental akademik”. Karena itu, pemerintah mesti meningkatkan pendidikan vokasional untuk melahirkan lulusan dengan kemampuan khusus (skill) yang dibutuhkan oleh pasar tenaga kerja. Pemerintah juga mesti menciptakan kesempatan kerja yang lebih banyak lagi bagi para sarjana dengan mendorong investasi di sektor industri dan jasa serta sektor-sektor yang bersifat knowledge-intensive activities.

Bagi penulis, pendidikan vokasional itu sangat penting bagi mahasiswa. Pendidikan vokasional merupakan penggabungan antara teori dan praktik secara seimbang dengan orientasi pada kesiapan kerja lulusannya. Kurikulum dalam pendidikan vokasional, terkonsentrasi pada sistem pembelajaran keahlian (apprenticeship of learning) pada kejuruan-kejuruan khusus (specific trades). Kelebihan pendidikan vokasional ini, antara lain, mahasiswa secara langsung dapat mengembangkan keahliannya disesuaikan dengan kebutuhan lapangan atau bidang jurusan yang akan dihadapinya.

Bila ditelaah secara kritis, pengangguran tersebut disebabkan beberapa hal. Pertama,kompetensi lulusan yang masih rendah. Kecakapan sarjana dalam bidang studinya tidak menjangkau harapan publik sehingga gelar kesarjanaan yang disandang sering justru melahirkan ironi dan anomali menyedihkan. Dengan kemampuan yang pas-pasan, mereka akhirnya terlempar dari bursa kerja yang menuntut profesionalitas.

Kedua, tidak sesuai kebutuhan dunia kerja. Berbagai gelar kesarjanaan yang disandang tidak mempunyai peluang kerja strategis sehingga tumpukan sarjana tidak tersalurkan secara seimbang. Jurusan-jurusan yang tidak marketable atau memang pasar kerja yang membatasi menjadikan sarjana kehilangan arah gerak langkahnya pascalulus. Ketiga, adanya program studi yang jumlah lulusannya sudah terlalu melimpah. Jurusan itu terkhusus berada dalam jurusan ilmu sosial. Kajian ilmu sosial yang sangat beragam telah menghasilkan jumlah sarjana berjuta-juta. Akhirnya, mereka menumpuk dalam ”cuci gudang” yang tidak laku dalam bursa lapangan kerja. Terlebih, ilmu sosial berbasis pengalaman sehingga lapangan kerjanya pun lebih mengarah pada eksperimentasi yang penuh risiko.

Keempat, paradigma peserta didik dan stakeholder. Belajar di kampus sekadar dimaknai sebagai pencarian kerja sehingga proses belajar yang dijalani tidak begitu serius: asal lulus saja sebagai syarat formalitas mencari kerja. Itu merupakan persoalan paling mendasar dalam konteks tragedi pengangguran kaum terpelajar di Indonesia.

Paradigma yang berorientasi job oriented telah menjadikan mahasiswa sebagai ”gelas tak berisi” sehingga dalam menerima materi pembelajaran dari kampus, mereka tidak mampu membaca secara kritis dan tidak melakukan eksperimentasi kritis yang eksperimental dalam kajian keilmuan yang ditekuninya. Hasilnya adalah peserta didik yang ”bergentayangan” mencari kerja, tak tahu arah dan orientasi keilmuan yang menjadi disiplin belajarnya.

Merancang kerja masa depan yang memproyeksikan sarjana sebagai bagian dari penataan bangsa harus dimulai dari pergeseran paradigma- meminjam istilah Thomas Kuhn sehingga kaum terpelajar tidak ”terpenjara” dengan basis keilmuan yang ditekuninya. Sarjana harus keluar dari penjara penjurusan sehingga bisa bergerak leluasa dalam mencipta proyeksi kreativitas masa depan yang lebih mencerahkan.

Selain itu, perlu dibangun etos kemandirian bagi mahasiswa sehingga ketika lulus kuliah, bukannya mencari lowongan dalam bursa kerja, tetapi mampu bergerak memproyeksikan lapangan kerja yang bisa mengurangi pengangguran masyarakat awam. Membangun etos kemandirian tentu harus berlatih secara serius ihwal mentalitas entrepreneurship dan kecakapan hidup (life skill) sehingga berbagai terpaan menuju kemandirian bisa dijalani dengan sungguh dan nikmat.

Dan, bergurulah kepada Muhammad Yunus, seorang sarjana doktoral yang mampu mendirikan Grameen Bank di Bangladesh. Dia keluar dari jebakan kampusnya, kemudian bergabung dengan rakyat kecil mendirikan koperasi warga bernama Grameen Bank. Dengan Grameen Bank-nya, M. Yunus akhirnya sukses memberdayakan rakyat kecil dan pada 2006 mendapatkan Nobel Perdamaian Dunia. Spirit kemandirian yang dicontohkan M. Yunus pantas menjadi teladan sarjana Indonesia sehingga kaum sarjana mampu membuktikan diri sebagai pelopor terbentuknya lapangan kerja, bukan beban negara yang membuat bangsa semakin nestapa. (***)

(Guru SMP & SMA St. Fransiskus  Asisi Pontianak, Kalimantan Barat)

Cerpen Memperingati Hari Kartini (21 April 2015)

Penulis : Agustinus, S.S.

Guru SMP dan SMA St. Fransiskus Asisi Pontianak

DSC_0071

Habis Gelap Terbitlah Terang

Pagi itu, hari Selasa tanggal 21 April seorang wanita tua menarik gerobak sampah melintasi kantor kota walikota. Jalannya agak terpincang-pincang, entah karena kakinya sakit atau karena keberatan menarik gerobaknya. Sandal jepit yang mengalasi kakinya, seperti baju kaos dan roknya yang terlihat lusuh, sudah tak jelas warna aslinya. Entah karena terlalu lama usianya, atau karena terlalu banyak debu yang bersarang di sana. Karena mungkin berat, jalannya juga tertatih-tatih, menunjukkan betapa kerasnya hidup ini. Pengendara di belakangnya memperlambat laju motornya, memberi kesempatan kendaraan dari lawan arah. Beberapa pegawai kota yang memburu waktu, mengantar istrinya berkebaya lengkap motif  Kalimantan hendak upacara di kantor wali kota, mungkin bergumam: bikin macet jak, kote nih!

Karena hari ini bertepatan dengan hari peringatan tentang perjuangan kaum wanita Indonesia, tadi malam Si Yeni, cucunya, iseng-iseng bertanya kepada nenek tua itu.

“Tanggal 21 April itu hari ape ya Nek?”

Nenek hanya duduk terdiam, mengingat kembali masa-masa silam ketika ia tidak tamat SD. Hanya baju putih dan rok warna merah yang kembali muncul dalam sanubari ingatannya. Tiba-tiba…..

“Ya, hari Minggu atau hmmmm hari Selasa!” jawab Nenek Susi dangkal, tanpa mengena pada esensi pertanyaan cucunya. Yeni pun tak melanjutkan pertanyaannya. Ia tahu benar, tak ada jawaban yang lebih benar dari pada jawaban nenek tuanya itu.

Ya, ia benar. Memang tanggal 21 April tahun ini jatuh pada hari Selasa tahun ini 2015. Ia tidak salah sebab ia tidak lagi ingat akan pelajaran sejarah di sekolah dulu. Atau, ia memang tidak mengenal apa itu Hari Kartini, karena ia mungkin saja tidak pernah sekolah. Yang ia ingat hanyalah tugasnya setiap hari, menarik gerobak sampah. Dari ujung jalan, Bandara Supadio berhenti di depan setiap rumah, mengangkat tong sampah dari ban bekas lalu memuntahkan sampah bau itu ke perut gerobaknya. Begitulah seterusnya, dan mengakhiri jalannya di Jeruju (Tempat Pembuangan Sampah)

Memang benar bahwa Nenek Susi pernah mendengar ketika cucunya menghafal pelajaran Sejarah. Si Yeni, cucunya itu, mempunyai kebiasaan menghafal sambil membaca keras-keras kalimat yang dihafalnya. Supaya tidak mudah terlupa. Oleh karena itu, masih belum tergerus dari ingatannya ketika si Yeni membaca keras-keras: Buku karangan R.A. Kartini berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Kebetulan Yeni senang pelajaran sejarah di sekolahnya, di mana ia merupakan salah satu ketua osis sekolah swasta terkenal di kota Pontianak

Tentu saja Nenek Susi tak pernah tahu persis apa maksudnya itu, selain sekadar meraba-raba artinya. Nenek peyot itu berusaha mencari maknanya, sambil memandangi gerobak sampahnya yang sudah usang. Menerjemahkan ala orang bodoh dan miskin. Adakah itu artinya, sehabis malam membungkus bumi lantas terbentanglah siang di hamparannya? Tiba-tiba Nenek teringat dengan masa Pemerintahan Soeharto, yang di zaman itu sering terjadi demonstrasi mahasiswa, penjarahan di mana-mana, rakyat sangat menderita. Ketika Soeharto Lengser, terbitlah Habibie. Lamunan Nenek kembali. Kalau itu artinya, pikir Nenek bukankah itu hanyalah sebuah kebenaran umum yang cukup diterima saja? Kehendak Tuhan yang diawali ketika Ia menciptakan dunia dan mungkin akan diakhiri saat Ia mengirimkan kiamat di bumi ini?

Menurut Nenek Susi, dengan pikiran sederhananya, bahwa gelap diartikannya sebagai nasib rakyat kecil yang hidupnya tak seterang orang kaya. Lalu, terang dimaknainya sebagai rasa bahagia karena kemiskinan itu justru membuatnya tenang. Samar-samar pernah terlihat di televisi orang kaya seusianya yang bajunya bertuliskan ‘TAHANAN KPK’. Bagi Nenek Susi kemiskinannya tidak pernah membuatnya menjadi pesakitan seperti orang kaya yang di TV itu. Bisa saja orang miskin hidupnya terang, dan bisa saja yang kaya hidupnya gelap.

Meski berat, gerobak Nenek Susi sampai juga ke TPA Jeruju. Tempat Pembuangan Akhir, pembuangan sampah. Pengalamannya selama ini yang lebih dari tujuh belas tahun menjadikannya hafal betul bahwa sampah pun mempunyai kasta (golongan). Kasta brahmana dan kasta Sudra, kasta kaya dan kasta melarat.
Sampah dari rumah tingkat yang di bagian sampingnya ada kandang mercy, pajero, alphard, Innova atau setidaknya, kijang dan macan hitma, biasanya berupa kotak-kotak bungkus pizza, KFC, atau dunkin donat. Roti yang bentuknya budar seperti roda berselaput gula. Apalagi sampah dari hotel berbintang yang menjulang tinggi, setiap hari melahirkan sampah organik dan sampah anorganik yang mewah. Entah bagaimana rasanya ia tak pernah tahu. Lidahnya tak pernah bercerita tentang itu. Gambar-gambar itu saja yang bercerita kepadanya. Sedang sampah dari rumah-rumah kecil, biasanya hanya berupa sisa batang kangkung, kacang panjang, atau kulit terong yang dibungkus tas kresek.

Hebatnya, Nenek Susi tak pernah iri dengan semua itu. Apalagi sampai bertanya-tanya kepada Tuhan mengapa ada orang kaya dan orang miskin. Seperti lagunya Chrisye. Ia tak pernah protes ketika ia bingung hari ini mau makan apa, sementara makluk-makluk itu kebingungan mau makan di mana. Baginya, sampah-sampah karton dan kardus itu kadang bisa menghapus kebingungan itu, manakala ia sudah membawanya ke Pak Solihin, pengepul barang loak itu di Pasar Tengah dan menukarnya dengan sejumlah uang.

Nenek Susi, menambatkan gerobak tuanya di samping rumah sangat sederhana yang di sewa dari Pak RT. Rumah itu hanya beratapkan seng dan kardus dan terletak di bawah jembatan tol landak. Becak yang warnanya merah kusam bergambar salah satu calon anggota DPRD sudah ada di halaman, di bawah pohon. Pertanda Ka’mo Ujang, suaminya, yang semalaman mencoba mengais dinginnya malam untuk uang lima belas ribu sudah pulang. Begitulah, Ka’mo Ujang lebih sering pulang pagi. Bila malam, ia melingkarkan tubuhnya di jok becaknya dan membalut dengan sarung di dekat perempatan lampu merah Tanjung Pura, depan Pasar Tengah. Itu setelah lelah dan rasa kantuk mengalahkannya.

“Mak, sebaiknya hari ini Emak ndak usah memulung bah,” kata Ka’mo Ujang menyambut istrinya.

“Memangnye kenapa pak?”

“Ya, sekali-kali istirahat bah. Sehari dalam seminggu. Paling tidak hari Minggu kita pergi ke rumah Tuhan untuk berdoa dan mengucapkan syukur kepada Jubata.” Kayak mereka para pegawai itu.”

“Mereka kan ndak kerja sebulan juga di bayar bah Pak. Kalau kita, ndak kerja sehari berarti ndak makan.”

Ka’mo Ujang hanya manggut-manggut sambil menghabiskan sarapan paginya. Nasi putih, tempoyak, dan sambal ikan asin. Benar juga, pikirnya.

“Kalau gitu, mak pergi ke kantor walikota aja. Pasti di sana banyak kotak bekas kue dan botol atau gelas aqua.”

“Loh, di sana ada ape, pak?”

“Ada upacara bah mak.”

“Upacara ape?”

“Mana jak aku tahu mak, Bapak kan cuman nengok banyak para pegawai kota itu kumpul di sana!”

“Aok lah, nanti aku kesana.”

Masih tetap mengenakan pakaian kerja seperti saat ia menarik gerobak sampahnya, Nenek Susi menuju ke kantor walikota. Meski masih tetap berurusan dengan sampah, kali ini Nenek Susi tidak menarik gerobak. Karung plastik besar yang dibawanya. Terjinjing di punggungnya.

Di halaman kantor walikota, upacara itu dilakukan. Ibu-ibu, pegawai kantor walikota itu, memakai kebaya lengkap motif kalimantan serta pakaian tradisional batik Kalimantan Barat. Pak walikota dan wakil serta istri memakai baju adat Melayu. Lalu, dinyanyikanlah lagu ‘Ibu Kita Kartini”. Nenek Susi, tiba-iba ingat tadi malam ketika si Yeni menyanyikan lagu itu. Sebelum ia menanyainya tentang tanggal 21 April itu. Pertanyaan yang aneh!

Upacara telah selesai. Pesta di kantor wali kota pun usai. Mobil-mobil mewah kembali mengangkut para istri pegawai itu kembali ke rumahnya. Tidak seperti hari-hari biasanya, hari ini bapak-bapak pegawai itu seakan menjadi budak di kaki wanita. Dan, wanita seperti menjadi ratu sehari. Ibu-ibu itu sejak subuh telah pergi ke salon kecantikan. Layaknya, mau mengikuti acara wisuda anaknya. Hari kartini, ibu-ibu itu harus nampak cantik. Harus nampak bak seorang ratu. Konon, untuk ke salon itu mereka harus bayar mahal. Sama jumlahnya dengan gaji yang ia terima untuk tiga bulan. Gaji sebagai pengangkut sampah itu.

Tiba-tiba, Nenek Susi ingat tentang Hari Kartini seperti yang dinyanyikan Yeni tadi malam. Ya, hari ini 21 April adalah Hari Kartini. Lalu, nenek tersenyum. Tanpa disadarinya, bibirnya bersiul: “Ibu kita Kartini, putri sejati…” Mengingat dan mengucap sepotong-sepotong lagu pendek itu. Sambil terus memunguti kotak kue, gelas dan botol plastik.

Ia akan terus berjuang seperti Kartini sampai akhir hayatnya!

Pontianak, 15 April 2015