Voltaire

Voltaire

Voltaire – Dongeng Filsafat Perancis

Category: Books
Genre: Nonfiction
Author: Ida Sundari Husen
Voltaire – Dongeng Filsafat Prancis

Esai

Pengarang: Ida Sundari Husen

Penerbit: Indonesiatera

Tahun terbit: 2003

Bahasa: Indonesia

Halaman: 170

Senang sekali rasanya menemukan buku ini di suatu sudut rak buku pada sebuah toko buku yang baru saya kunjungi di ketika masih kuliah di Yogyakarta. Sebagai pengagum Voltaire, dan Ida Sundari Husen, seorang ahli kesusastraan Perancis dari Universitas Indonesia, saya menemukan sekaligus dua hal favorit dalam buku ini. Si penulis, dan buku-buku dari penulis yang ditulisnya. Tulisan Husen telah sering memuaskan kehausan saya tentang kritik-kritik setajam pisau Voltaire, tentu saja telah memukau saya dengan tulisan-tulisannya yang ngeri sekaligus universal.

Buku Voltaire – Dongeng Filsafat Perancis merupakan bagian dari disertasi Husen yang mengulas dan membandingkan tiga tulisan Voltaire yang paling terkenal, yaitu Candide, Zadig dan Si Lugu. (Tulisan Si Lugu telah pula diulas dalam blog ini). Secara spesifik, disertasi beliau membahas ironi dalam ketiga dongeng Voltaire tersebut. Sebenarnya Voltaire banyak pula menulis karya-karya lain, seperti puisi, drama, esai, sejarah, namun ia justru terkenal oleh dongeng-dongengnya yang semula dianggap sebagai karya sampingan penghibur hati, atau alat tersamar manakala ia tidak dapat mengkritik keadaan secara terbuka. Dongeng-dongeng Voltaire banyak dikenal orang karena sifatnya yang mengena atas kritikan sosial saat itu dan isinya yang tetap aktual sampai sekarang karena menyangkut masalah manusia yang universal.

Seperti umumnya tulisan Husen yang sistematis dalam hal konteks, buku ini dibuka dengan pendahuluan mengenai keadaan Perancis abad ke-18, yaitu periode saat Voltaire hidup dan berkarya. Meninjau keadaan politik dan perubahan-perubahan di Eropa pada saat itu, serta perkembangan pemikiran di Perancis, kita seakan diajak mengunjungi milieu dan konteks sejarah saat Voltaire hidup. Dilanjutkan dengan ulasan mengenai riwayat hidup Voltaire, yang mengajak kita mengenal Voltaire secara lebih biografis.

Kemudian untuk memudahkan pembaca yang mungkin belum mengenal Voltaire, secara singkat diulas empat dongeng filsafat Voltaire, mulai dari proses penyusunan, latar belakang dan inti pesan yang hendak disampaikan. Selain Zadig, Candide dan Si Lugu, ada satu dongeng lagi, yaitu Micromegas, yang turut diulas disini. Dongeng-dongeng filosofis Voltaire memang ditulis pada usianya yang telah matang, ketika Voltaire telah merasakan asam garam kehidupan. Reaksi terhadap apa yang terjadi di masyarakat, kegiatan politik atau sastra, bergema dalam dongneng-dongengnya, dan ditulis dalam gaya yang kocak, ringan, namun penuh dengan ironi. Menghibur sekaligus mengkritik. Dengan dongeng-dongengnya itu secara tersirat ia mengajak pembaca untuk bersikap toleran, adil dan giat bekerja.

Intisari pemikiran Voltaire, yang dipetik dari karya dongeng-dongeng filsafatnya, dibahas Husen dalam tema-tema sebagai berikut:

– Hubungan antar manusia

– Rohaniwan dan lembaga agama

– Kaum bangsawan dan tokoh politik

– Tokoh perempuan

– Teks-teks satire tentang individu dan masyarakat

– Kekhasan gejala budaya zaman Voltaire

– Filsafat hidup dan diskusi metafisika

Menelusuri setiap tema di atas serasa merasakan kembali suara Voltaire yang selalu menggaungkan nilai kemanusiaan yang universal dan yang inti. Terhadap bangsawan yang menghinanya karena ‘tak bernama’, Voltaire melontarkan jawabannya yang terkenal, “Aku tidak seperti mereka yang mencemarkan nama yang mereka warisi. Aku akan mengabadikan nama yang kubuat sendiri!” (hal 13). Dalam hal rohaniwan dan lembaga agama, Voltaire mengungkapkan dalam Zadig, “… matahari, bulan dan bintang adalah benda seperti yang lain-lainnya, yang tidak perlu harus lebih dihormati daripada pohon dan cadas….” (hal 68), ketika melerai diskusi yang hampir menjadi pertikaian antara orang Perancis, Mesir, Khaldea, India dan Cina. Maksudnya adalah pemujaan agama yang berbeda memang tampak berbeda, namun intinya semua memuja Sang Pencipta dibalik hal-hal itu semua, dan karenanya, “… tidak ada alasan untuk bertengkar….” (hal 69; dan Bab 12 dalam Zadig). Persepsi Voltaire tentang agama sangat mendasar: hendaknya agama itu hanya mengajarkan kesederhanaan, perikemanusiaan dan amal (hal 69). Menurutnya, seringkali pertentangan antar umat beragama terjadi karena hal sepele, misalnya, seperti yang diungkapkan dalam Bab7 dalam Zadig, orang bertengkar gara-gara tidak sepakat dengan kaki sebelah mana mereka harus masuk kuil, ke arah mana mereka harus menghadap ketika sembahyang, dan menurutnya kefanatikan seringkali merupakan sumber malapetaka di dunia ini (hal 70).

Dalam hal perang, Voltaire menyiratkan dalam Si Lugu, pendapat ironisnya mengenai prajurit yang berada di medan pertempuran dan menjadi mangsa pertama senjata maut, yang sesungguhnya tidak mempunyai urusan apa-apa dengan masalah yang dipertengkarkan. Semakin ironis dengan kenyataan bahwa peperangan yang banyak memakan korban itu seringkali dikendalikan oleh para pemimpin sambil duduk di belakang meja tulis. Jika kita perhatikan, keadaan dunia di abad 21 ini tidaklah jauh berbeda dengan yang dialami Candide dan tokoh-tokohnya di medan perang, misalnya. Sehingga, Andre Gide, seorang pengarang Perancis abad ke-20 yang tidak menyukai Voltaire, menulis dalam Journal-nya: “… untuk memperlihatkan bahwa manusia itu bukan main menderitanya di muka bumi ini, sama sekali tidak diperlukan nalar yang tinggi. Agama pun mengajarkannya kepada kita. Voltaire pun mengetahuinya… Seandainya ia kembali berada di antara kita sekarang, betapa ia akan kecewanya, karena dalam banyak hal ia tidak berhasil….” (hal 155). Voltaire memang menyadari hal-hal buruk yang ada di dunia, namun ia juga percaya pada usaha manusia untuk memperbaikinya, dan mengusulkan suatu jalan keluar yang praktis dan membumi, seperti ungkapannya dalam Candide yang terkenal tentang kerja, “Pekerjaan menjauhkan kita dari tiga hal: rasa bosan, dosa dan kemiskinan.”

Ada banyak lagi ulasan dongeng filsafat Voltaire yang dihadirkan oleh Husen dalam buku ini, yang tentu saja tidak mungkin untuk diulas di sini semuanya. Pada bagian penutup, Husen kembali menggemakan ajakan terkenal Voltaire, yaitu, “Kita harus menggarap kebun kita”, yang merupakan suatu usaha manusia dalam rangka membatasi keburukan di dunia ini semaksimal mungkin. Menurut Husen, gagasan Voltaire dapat dipandang sebagai pesimisme yang dinamis, yang sama sekali tidak mengecilkan hati, melainkan memberikan kepercayaan atas kemampuan manusia untuk maju dan memperbaiki nasibnya, seperti yang diungkapkan dalam salah satu sajak Voltaire:

“Suatu hari nanti segalanya menjadi baik,

itulah harapan.

Segalanya baik sekarang,

itu hanyalah khayalan.”

(hal 157).

Cirendeu, 13 June 2007, 17.57.