Pentingnya Memahami Standardisasi Helm SNI

Oleh : Agustinus Sungkalang, S.Sas.

Mulai diberlakukannya peraturan undang-undang No. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan jalan pasal 106 ayat 8 yang mengatakan semua pengendara sepeda motor harus menggunakan helm berlabel SNI per tanggal 1 April 2010 (yang lalu) menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat pengguna motor di Indonesia. Disebutkan dalam UU tersebut mengatakan bahwa pengendara dan atau penumpang yang tidak memakai helm dikenakan pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda sebesar Rp. 250.000. Dengan aturan ini, seluruh pengendara kendaraan bermotor roda dua wajib menggunakan helm yang sudah melewati uji standar dari laboratorium sesuai dengan ketentuan SNI 1811:2007 yang diakui di 153 negara.
Mungkin ini salah satu upaya dari pemerintah yang patut didukung khususnya Badan Standar Nasional (BSN) sebagai lembaga pemerintah yang mempunyai tugas pokoknya dalam mengembangkan dan membina kegiatan standarisasi di Indonesia. Di mana BSN sejak tahun 2007 telah mengeluarkan SNI 1811:2007 untuk persyaratan produsen helm.
Penulis berpikir, dengan dikeluarkannya SNI tersebut maka diharapkan hal ini akan dapat dimanfaatkan oleh pihak produsen helm untuk memproduksi helm sesuai dengan persyaratan dan ketentuan SNI tersebut, dan juga melindungi industri dalam negeri dari masuknya helm luar negeri yang tidak berkualitas.
Di sini, selain produsen yang dipersyaratkan, Kepolisian RI juga telah mengeluarkan Undang-Undang No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang diberlakukan secara efektif tanggal 1 April 2010. Salah satu pasal dari UU tersebut menyatakan “Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan wajib dilengkapi dengan perlengkapan kendaraan bermotor”. “Perlengkapan sebagaimana dimaksud adalah helm berstandar nasional Indonesia (SNI)”. Untuk itu, agar ketentuan-ketentuan tersebut dapat berjalan sesuai dengan tujuan awal, maka diperlukan langkah-langkah sosialisasi yang nyata dan jelas sehingga masyarakat luas akan dapat memahami dan merasakan bagaimana manfaat dan pentingnya sebuah helm berlabel atau embos SNI. Sosialisai dan edukasi adalah persoalan yang menjadi prioritas dimana masyarakat menyadari pentingnya helm SNI.
Pertanyaannya sekarang, apakah sosialisasi dan edukasi tersebut sudah dilakukan secara menyeluruh dan baik? Mungkin sebagian di kota-kota besar seperti di Jakarta sudah dilaksanakan, contoh yang dilakukan oleh Badan Standardisasi Nasional di Jakarta yaitu dengan menggelar kegiatan barter helm SNI khusus untuk pengendara motor, tetapi bagaimana dengan daerah-daerah yang lainnya, apakah sudah dilakukan upaya yang efektif agar masyarakat juga berminat untuk pentingnya menggunakan helm SNI?
Memang, kenyataannya di lapangan peraturan tentang pemakaian helm SNI yang sudah diberlakukan sejak hari kamis kemarin tak semua masyarakat paham seperti apa sih…helm yang lolos kualifikasi SNI itu? Padahal hukumannya lumayan berat, kurungan satu bulan atau denda Rp. 250.000.
Nah, agar jangan sampai kena tertilang gara-gara tidak memakai helm standar SNI, sebelum membeli helm kita wajib tahu mengenai kualifikasi helm SNI tersebut. Jangan sampai kita salah memilihnya. Ini juga kan untuk keselamatan kita dalam berkendaraan. Penulis, ingin berbagi tips penting. Pertama dari segi material, bahan helm yang akan nanti kita beli harus memenuhi kriteria sebagai berikut; (a) bahan helm yang kita beli tersebut harus terbuat dari bahan logam, tidak berubah jika ditempatkan di ruang terbuka pada suhu 0 derajat Celcius sampai 55 derajat celcius selama paling sedikit 4 jam dan tidak terpengaruh oleh radiasi ultraviolet, serta harus tahan dari akibat pengaruh bensin, minyak, sabun, air, deterjen dan pembersih lainnya. (b) bahan pelengkap helm harus tahan lapuk, tahan air dan tidak mudah terpengaruh oleh perubahan suhu. Kalau kita lihat, cuaca di kota Pontianak curah hujannya kan sangat tinggi walaupun sudah memasuki musim kemarau. Nah, di sini tadi pentingnya memilih bahan pelengkap helm tersebut. (c) bahan-bahan yang bersentuhan dengan tubuh tidak boleh terbuat dari bahan yang dapat menyebabkan iritasi atau penyakit kulit, dan tidak mengurangi kekuatan terhadap benturan maupun perubahan fisik sebagai akibat dari bersentuhan langsung dengan keringat, minyak dan lemak si pemakai.
Untuk yang kedua ini, dilihat dari segi konstruksinya. Misalnya kan kalau kite sudah ada di toko tempat penjualan helm, sebaiknya konstruksi helm yang akan nanti kita beli harus memenuhi syarat ini, (a) helm itu harus terdiri dari tempurung keras dengan permukaan halus, lapisan peredam benturan dan tali pengikat dagu, (b) ingat, tinggi helm sekurang-kurangnya 114 milimeter diukur dari puncak helm ke bidang utama yaitu bidang horizontal yang melalui lubang telinga dan bagian bawah dari dudukan bola mata, (c)tempurungnya terbuat dari bahan yang keras, sama tebal dan homogen kemampuannya, tidak menyatu dengan pelindung muka dan mata serta tidak boleh mempunyai penguatan setempat., (d) tali pengikat dagu lebarnya minimum 20 milimeter dan harus benar-benar berfungsi sebagai pengikat helm ketika dikenakan di kepala dan dilengkapi dengan penutup telinga dan tengkuk
Selanjutnya, (e) tempurung di helm itu tidak boleh ada tonjolan keluar yang tingginya melebihi 5 milimeter dari permukaan luar tempurung dan setiap tonjolan harus ditutupi dengan bahan lunak tidak boleh ada bagian tepi yang tajam, (f) lebar sudut pandang sekeliling sekurang-kurangnya 30 derajat di atas dan 45 derajat di bawah bidang utama, (g) helm harus dilengkapi dengan pelindung telinga, penutup leher, pet yang bisa dipindahkan, tameng atau tutup dagu, (h) memiliki daerah pelindung helm (kaca), (i) lubang ventilasi dipasang pada tempurung sedemikian rupa sehingga dapat mempertahankan temperatur pada ruang antara kepala dan tempurung, (j) helm harus dapat dipertahankan di atas kepala pengguna dengan kuat melalui atau menggunakan tali dengan cara mengaitkan di bawah dagu atau melewati tali pemegang di bawah dagu yang dihubungkan dengan tempurung, dan (k) perhatikan juga keliling lingkaran bagian dalam helm biasanya untuk ukuran S = antara 500- kurang dari 540 , M= antara 540- kurang dari 580, L= antara 580- kurang dari 620, dan XL = lebih dari 620.
Sebenarnya, penjelasan saya tentang dua kriteria standardisasi helm SNI di atas hanya untuk membantu masyarakat yang memang belum paham seperti apa sih..syarat-syarat atau kriteria dari helm SNI tersebut. Biasanya, pengendara cuman tahu helm SNI ialah helm standar yang ada tulisan SNI-nya. Itu memang benar, tetapi selain itu para pengendara juga harus memperhatikan kualifikasi bahan pelengkap yang terdapat dalam helm tersebut.
Perlu juga masyarakat ketahui, menurut data BSN tahun 2010 ini ada delapan perusahaan anggota Asosiasi Industri Helm Indonesia (AIHI) yang produknya sudah SNI, Kedelapan perusahaan ini memproduksi 19 merek helm ber-SNI, antara lain, Ink, Kyt, MDS, MBC, Hiu, Cargloss Helmet, NHK, GM, VOG, Maz, Mix, JPN, Besti, Crosx, SMI, SHC, Otogoki, Caberg dan HBC.
Akhir kata penulis, mari sebagai warga yang taat aturan kita dukung perwujudan tindak lanjut dalam pelaksanaan sosialisasi Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang bertema “Pilih Helm SNI, Pilih SELAMAT” agar benar-benar bermanfaat bagi para pengguna jalan raya. Semoga! (Staf Pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia SMP & SMA St. Fransiskus Asisi Pontianak, Alumnus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Jurusan Sastra Indonesia, spesialisasi ilmu bahasa terapan dan jurnalistik)