Pelestarian Bahasa dan Sastra Lisan Kalimantan Barat

Studi Folklore

Studi Folklore

Bahasa dan sastra lisan Kalimantan Barat memiliki keberagaman dalam tata istilah lokal masyarakat etnik yang menaunginya. Setiap daerah memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri dalam mengidentifikasi sastra lisan dengan lafal bahasa daerah masing-masing sesuai dengan kelompok etnik yang ada di Kalimantan Barat.Dewasa ini kebudayaan etnik dalam bentuk bahasa dan sastra lisan menjadi salah satu isu sangat penting bagi para pengamat dalam bidang ini. Hal ini terjadi karena warna modernitas dan globalisasi mulai menggusur estetika etnik lokal—dengan menggantikannya pada kesenangan yang bersifat materialistis dan kapitalis yang tidak berpihak pada entitas budaya lokal. Tergusurnya kebudayaan lokal ini menyebabkan masyarakat etnik dapat kehilangan identitas mereka. Pengaruh globalisasi yang melanda masyarakat membuat perubahan signifikan dalam pola hidup, ritual, dan tingkah laku masyarakat etnik. Pengaruh yang mengglobal ini membuat bahasa dan sastra lisan agak terganggu keberadaannya. Kita mafhum bahwa sastra lisan sudah banyak yang mulai tidak dipraktikkan lagi sepenuhnya dalam kehidupan masyarakat lokal. Bahkan, beberapa bahasa ada yang terancam punah atau pupus dari muka bumi Kalimantan (lihat Collins, 2006).[2]

Kenyataan ini menggugah dan menantang kita untuk melakukan usaha pelestarian dan pendokumentasian bahasa dan sastra lisan Kalimantan Barat dengan cara dan strategi yang terencana, berkelanjutan, dan benar. Pertanyaanya, sudahkah usaha yang tepat itu kita lakukan? Secara sederhana dapat dijawab, mungkin sudah, mungkin juga tidak!Berdasarkan pemikiran-pemikiran di atas, tulisan ini memaparkan pola-pola penting yang perlu dipertimbangkan dalam usaha menyusun kebijakan atau politik kebudayaan lokal dalam rangka pelestarian bahasa dan sastra lisan Kalimantan Barat. Beberapa politik kebudayaan lokal yang perlu dilakukan adalah:

1. pewarisan, penelitian, dan pendokumentasian,
2. rekonstruksi apresiasi masyarakat, dan
3. menggalang kerja sama antarlembaga.

Pewarisan, Penelitian, dan Pendokumentasian

Masyarakat Kalimantan Barat sangat dekat dengan tradisi niraksara atau keberlisanan (bandingkan Ong 1982; Havelock 1986). Keberlisanan masyarakat merupakan fakta-fakta yang harus direkonstruksi menjadi aura dan aktivitas positif dalam kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu, proses transfer atau pewarisan bahasa dan sastra lisan menjadi isu penting dalam melestarikan identitas etnik lokal.

Bahasa dan sastra lisan etnik Kalimantan Barat cenderung mengalami pergeseran dan perubahan. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan dan perubahan zaman yang terjadi dalam masyarakat. Apabila tidak ditangani dengan baik, sesungguhnya khazanah lokal tersebut dapat pupus.

Kepupusan bahasa dan sastra lisan berkaitan dengan penutur dan prilaku penuturnya dalam menyikapi bahasa dan sastra lisan etnik yang mereka miliki. Apabila penuturnya masih banyak, bahasa ibu tentu dapat dikatakan aman dan terjaga. Sebaliknya, apabila penutur suatu bahasa itu sedikit, bahasa tersebut terancam punah. Fakta ini tidak sejalan dengan keamanan sastra lisan etnik karena bisa saja jumlah penutur suatu bahasa etnik tersebut banyak tetapi prilaku masyarakatnya sudah mulai tidak mengamalkan lagi sastra lisan dalam kehidupan mereka.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sastra lisan menjadi tidak aman atau terancam pupus.[3]Oleh karena itu, dalam pewarisan bahasa dan sastra lisan, sesungguhnya harus dimulai dalam ranah keluarga terlebih dahulu, seperti transfer dari nenek atau orangtua kepada anak-cucunya. Dari ranah ini dapat dikembangkan ke dalam ranah sosial dan budaya, seperti, melalui tokoh adat kepada masyarakatnya dan oleh para penutur lisan kepada keluarga besar dan masyarakat sekitar komunitas tersebut. Bahkan, bisa berkembang pula menjadi ranah budaya yang bersifat ekonomi jika bahasa etnik tersebut dimunculkan ke dalam bentuk korpus[4] sastra etnik dan pertunjukkan sastra lisan tertentu. Pola pewarisan bahasa dan sastra lisan dapat dilakukan, baik secara tradisional maupun modern. Secara tradisional, masyarakat etnik harus menyenangi dan menghargai bahasa dan sastra lisan yang mereka miliki. Mereka harus mengamalkan warisan luhur nenek moyang dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mengamalkan dan mempraktikkan bahasa dan sastra lisan dalam kehidupan harian—sesungguhnya proses enkulturasi telah berjalan dengan sendirinya.Selain itu, pewarisan juga dapat diperankan oleh individu-individu tertentu melalui pencatatan ke dalam potongan-potongan kertas tulis secara sederhana dengan pengetahuan lisan yang mereka miliki.

Pencatatan yang telah dilakukan tersebut dapat dikumpulkan, kemudian diwariskan kepada generasi muda (anak dan cucu mereka) (bandingkan Dedy Ari Asfar, 2005)[5] Secara modern, pewarisan dapat dilakukan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi global. Pewarisan tersebut dapat dilakukan dengan membuat rekaman terhadap semua bahasa dan sastra lisan yang dimiliki masyarakat Kalimantan Barat, baik rekaman yang menggunakan tape recorder maupun rekaman visual dengan menggunakan handycam.

Rekaman yang telah dilakukan tersebut dapat disebarluaskan dengan memindahkannya ke dalam bentuk CD, DVD, MP3, dan lain-lain dalam jumlah yang banyak. Hal ini dapat dilakukan secara komersial atau nonkomersial demi kepentingan pewarisan dan penyebarluasan khazanah lokal agar diketahui masyarakat umum, baik kalangan etnik lokal maupun pendatang.Pewarisan bahasa dan sastra lisan juga dapat memanfaatkan teknologi informasi yang berbasis internet. Kekayaan lokal ini dapat di-online-kan dengan memanfaatkan teknologi maya yang tanpa batas (cyberspace). Dengan memasuki dunia maya yang tidak terbatas, khazanah lokal dapat dikenal dan diakses oleh berbagai kalangan, baik kalangan dalam negeri maupun mancanegara. Oleh karena itu, perlu dibuat satu laman khusus yang menampung dan menyebarkan khazanah tradisi lokal Kalimantan Barat, misal http://www.budayakalimantanbarat.

com yang salah satunya memuat khazanah bahasa dan sastra lisan Kalimantan Barat.Usaha lain yang harus dilakukan adalah pendokumentasian melalui penelitian. Penelitian ini harus meliputi semua tatanan linguistik, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Dengan demikian, tata bahasa daerah tertentu dapat ditulis dengan komprehensif dan tepat.

Penelitian lainnya adalah pengumpulan kosakata dan korpus bahasa daerah agar dapat dibuat kamus-kamus bahasa daerah. Aspek lain yang juga harus dilakukan adalah dengan melakukan pemetaan bahasa dan sastra lisan sehingga terpetakan persebaran bahasa dan sastra lisan etnik Kalimantan Barat.

Namun, penelitian bahasa dan sastra lisan harus diperkaya dengan korpus lisan yang dicatat secara fonetik dalam jumlah yang maksimum sehingga tuturan dan ujaran dapat dilestarikan serta dapat dijadikan bahan ajar muatan lokal siswa di sekolah. Oleh karena itu, hasil penelitian harus diterbitkan dan disebarkan dalam bentuk cetak dan elektronik secara massal.

Merekonstruksi Apresiasi Masyarakat

Penelitian bahasa dan sastra lisan harus diakui terkadang mengalami stagnan dan cenderung tidak melibatkan dan mengadvokasi masyarakat kampung itu sendiri. Biasanya, atas nama dokumentasi, peneliti cenderung berjalan sendiri dan tidak membuat pemilik (penutur) itu merasa bertanggung jawab untuk menjaga sendiri kekayaan lokal yang mereka miliki. Walhasil, dengan pola dokumentasi individual peneliti—bahasa dan sastra lisan lokal justru terancam pupus dalam komunitas masyarakat etnik karena penutur dan cerdik pandai tradisi lokal itu pun tutup usia (mati).Yang hidup dan tersisa hanya dokumen sang peneliti.

Dokumen ini pun belum tentu dapat dijamin akan aman, langgeng, dan bertahan lama, bisa saja bencana alam melanda dan merusakkan data sang peneliti; bencana kebakaran yang membumihanguskan data; serta file-file dan dokumen yang rusak, usang, dan/atau tidak dapat didengar kembali rekaman hasil penelitiannya karena termakan usia dan lain hal. Akan tetapi, usaha begini bukan berarti tidak bermanfaat, namun sebagai salah satu usaha pendokumentasian dan pelestarian dengan cara akademik.

Strategi penting dalam mewariskan bahasa dan sastra lisan ini, selain dokumentasi melalui penelitian adalah dengan melakukan advokasi terhadap masyarakat pemilik tradisi tersebut. Masyarakat kampung harus dilibatkan, dibuka mata hati dan pikirannya agar menjaga dan mengamalkan bahasa dan sastra lisan dalam perikehidupan sehari-hari mereka. Artinya, partisipasi masyarakat lokal dalam preservasi dan enkulturasi khazanah lokal mereka sendiri merupakan usaha signifikan yang harus dilakukan.

Menumbuhkan dan menciptakan apresiasi positif masyarakat kampung terhadap bahasa dan sastra lisan mereka memang bukan persoalan mudah. Namun, usaha sistematis dan berkelanjutan harus dilakukan agar kekayaan lokal tidak pupus seiring dengan matinya para penutur sastra lisan dan terpaan globalisasi dalam kehidupan masyarakat kampung.Satu hal yang pasti bahwa masyarakat kampung pernah suatu ketika dahulu menyenangi, mengalami, menyelami, dan mengamalkan tradisi lokal dalam kehidupan mereka secara total.

Oleh karena itu, perlu usaha untuk merekonstruksi apresiasi masyarakat terhadap tradisi lokal yang pernah sangat digandrungi itu dengan cara kekinian.Cara-cara sistematis, terencana, dan berkelanjutan yang harus dilakukakan adalah dengan merekonstruksi apresiasi masyarakat terhadap tradisi lokal, seperti:

1. mengadakan perlombaan dan pertunjukan sastra lisan masyarakat adat antarkampung secara periodik;
2. memberi penghargaan atau award kepada perseorangan, komunitas, dan kampung yang masih menjaga sastra lisan serta mewariskan atau mengenkulturasi segala sastra lisan yang dimiliki kepada generasi muda mereka;
3. melatih pemuda-pemudi kampung sebagai penyalin sastra lisan dan agen konservasi sastra lisan;
4. menjadikan kampung-kampung etnik sebagai laboratorium lapangan untuk para peneliti dan peminat tradisi lokal[6];
5. mengukir bahasa dan sastra lisan menjadi keberaksaraan dalam nada-nada narasi modern dalam jumlah yang relatif banyak, seperti menerbitkannya dalam bentuk buku dan penulisan bahan ajar berbahasa daerah; dan
6. menjadikan bahasa dan sastra lisan sebagai mata pelajaran muatan lokal yang utama ”dibangku” formal, terutama pada sekolah-sekolah berkomunitas etnik di segenap penjuru Kalimantan Barat.

Merekonstruksi enam strategi dalam kehidupan masyarakat etnik Kalimantan Barat merupakan suatu upaya agar masyarakat mengapresiasi bahasa dan sastra lisan dengan baik sehingga tercipta kecintaan dan kegemaran terhadap tradisi lokal yang hidup dan berkembang di kampung mereka bak leluhur mereka dahulu. Bahkan, menjadikan mereka sendiri sebagai agen penjaga dan pelaksana khazanah lokal tersebut.

Oleh karena itu, apabila khazanah lokal ini sudah digemari kembali dan memasyarakat di tataran akar rumput, kesinambungan bahasa dan sastra lisan akan berlanjut dan terbentuk dalam masyarakat kampung itu.Dengan demikian, bahasa dan sastra lisan dengan sendirinya akan mendapatkan penghargaan dan apresiasi positif dari masyarakat internal kampung dan luar kampung. Bahkan, masyarakat akan terus mementaskan khazanah lokal tersebut dalam denyut nadi kehidupan mereka.

Pada konteks ini, jika keenam aspek apresiasi di atas ter-rekonstruksi dengan baik dalam kehidupan masyarakat kampung, akan terjadi ”hukum ekonomi”. Artinya, semakin sering dan banyak permintaan untuk terus mempraktikkan dan mengamalkan kebudayaan lokal maka akan semakin banyak pula khazanah lokal yang diamalkan dan dipraktikkan. Bahasa sederhananya, jika bahasa dan sastra lisan itu masih disenangi dan dipraktikkan, dengan sendirinya khazanah lokal akan terus hidup dan berkembang. Malahan, khazanah lokal akan menjadi penyempurna nada-nada modernitas kebudayaan global. Oleh karena itu, pelestarian dan pendokumentasian bahasa dan sastra lisan harus berdasarkan partisipasi aktif masyarakat lokal (community-based).

Menggalang Kerja Sama Antarlembaga

Hubungan kerja sama antarlembaga pengembangan, penggiat, dan pembina bahasa dan sastra lisan di Kalimantan Barat harus dioptimalkan. Kerja sama tidak terbatas pada acara yang bersifat seremonial belaka apalagi acara yang tidak memiliki output jelas. Selain itu, jangan sampai terjadi tumpang tindih atau pengulangan kegiatan yang sama antarlembaga sehingga dapat menimbulkan kemubaziran, misal penelitian terhadap komunitas A telah dilakukan oleh suatu lembaga dan lembaga yang lain pun membuat kajian aspek yang sama terhadap komunitas A tersebut. Oleh karena itu, diperlukan komunikasi dan kerja sama antarlembaga.

Pemerintah daerah harus mampu memfasilitasi dalam pengkajian, pengembangan, dan pembinaan bahasa dan sastra daerah. Hal ini dapat dilakukan bersama lembaga pemerintah dan nonpemerintah (LSM) lain yang ada di Kalimantan Barat. Pemerintah daerah harus menyediakan uang dan ruang untuk pemberdayaan bahasa dan sastra daerah. Duduk bersama dalam menyusun strategi dan politik kebudayaan lokal dalam melestarikan dan mendokumentasikan tradisi daerah, seperti bahasa dan sastra lisan etnik.

Penguatan peran dan kerja sama antarlembaga akan memberi dampak positif dalam pengembangan bahasa dan sastra lisan etnik di Kalimantan Barat. Hubungan antarlembaga harus memiliki orientasi pemberdayaan terhadap bahasa, sastra lisan, dan para penuturnya.

Kerja sama antarlembaga tidak terbatas pada lembaga yang bergerak dalam bidang kebudayaan saja tetapi pada lembaga bisnis. Artinya, kerja sama itu tidak hanya bersifat sosial dan budaya tetapi berorientasi pemberdayaan ekonomi berbasis bahasa dan sastra lisan.

Ekonomisasi bahasa dan sastra lisan ini sesungguhnya dapat dilakukan dengan menjalin kerja sama dengan pelaku bisnis pariwisata, seperti pemilik hotel, restoran, dan sebagainya. Para pelaku bisnis pariwisata memberi ruang dan tempat kepada penutur sastra lisan untuk mempertunjukkan kepiawaiannya dalam bertutur secara rutin. Dengan demikian, pertunjukkan yang tadinya hanya berorientasi tradisional berubah menjadi profesional dan dihargai dengan layak.

Penutup

Sudah saatnya bahasa dan sastra lisan dipikirkan dan direncanakan dengan pola-pola yang tepat sasaran. Penelitian tidak sekadar direncanakan dengan anggaran alakadarnya demi mengejar rutinitas mekanistik yang sekadar ada atau yang penting ada. Namun, usaha ini harus dimaksimalkan lagi dan diintensifkan pada usaha menjadikan masyarakat sebagai ”peneliti” sekaligus ”peserta”.[7]

Selain itu, usaha merekonstruksi tradisi dan masyarakat lokal harus dilakukan secara berkala dan berkesinambungan. Oleh karena itu, politik kebudayaan lokal harus diterapkan dan dilakukan secara serius, terencana, dan konsisten. Masyarakat etnik harus diselamatkan dan diberi ”pentas” yang megah dalam kampung mereka sendiri, tidak hanya di tempat lain atau perkotaan. Artinya, masyarakat kampung harus diberi tempat dan peran untuk menjaga dan mewariskan kearifan lokal yang mereka miliki.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pemberdayaan dan pelatihan penduduk kampung sebagai tenaga konservasi tradisi harus segera dilakukan. Dalam konteks ini, masyarakat lokal harus dilibatkan, terlibat, dan berpartisipasi aktif dalam pengembangan bahasa dan sastra lisan etnik mereka.

Masyarakat etnik di kampung harus dapat mengapresiasi bahasa dan sastra lisan mereka secara positif dengan semangat dan kebanggaan karena identitas dan entitas mereka direpresentasikan dalam kearifan lokal yang masih mereka amalkan tersebut. Oleh karena itu, kekayaan lokal tersebut harus diarahkan, tidak saja pada tahap dokumentasi kearifan dan pengetahuan lokal melainkan juga pada tahap pemberdayaan masyarakat lokal dengan merekonstruksi apresiasi masyarakat kampung terhadap tradisi mereka secara terencana dan berkelanjutan.