Guru Profesional dan Pembaharu Perubahan

FOTO (Dokumentasi Penulis)

¯      Instruktur pada Institute Language and Course Intensive Culture (ILCIC) (Lembaga Bahasa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2005-2007)

¯       Redaktur bahasa di Warta Kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

(2004-2006)

¯       Les English  ELTI (English Language Training International) 2 Month

¯       Staff Pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia SMP & SMA St. Fransiskus

Asisi  (2009-sekarang)

Oleh : Agustinus Sungkalang, S.Sas.

Di tengah berbagai macam kebijakan pendidikan yang memangkas kreatifitas dan profesionalitas guru, ada dua cara yang serentak mesti dilakukan oleh guru agar tetap bisa bertahan dalam kinerja profesionalnya. Pertama, bersikap kritis atas berbagai macam kebijakan pendidikan pemerintah yang menindas otonomi dan profesionalitasnya. Kedua, bersikap kritis terhadap diri sendiri agar tidak semakin diperalat sebagai kepanjangan tangan birokrat, melainkan menemukan kembali kebebasan dan otonominya sebagai pembaharu perubahan.

Masyarakat berubah, identitas guru juga berubah. Pepatah Latin mengatakan, tempora mutantor et nos mutamur in illis (waktu berubah dan kita pun berubah karenanya). Ungkapan bijak ini bagi saya, merupakan perjalanan hidup setiap individu, terlebih lagi bagi mereka yang menghayati panggilannya sebagai guru yang sesungguhnya adalah pembaharu perubahan. Memiliki visi sebagai pembaharu perubahan merupakan cermin paradigma peningkatan mutu kualitas SDM manusia Indonesia, terutama pada peserta didiknya. Lebih dari itu, guru bisa berperanan lebih aktif dalam membangun  tatanan baru masyarakat yang lebih adil dan manusiawi melalui kinerja pendidikan mereka.

Guru yang profesional adalah guru yang memiliki visi sebagai pembaharu perubahan. Gagasan ini menjadikan guru harus peka dan tanggap terhadap berbagai perubahan, pembaharuan serta perekmbangan ilmu pengetahuan dan teknologi sejalan dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan zaman. Di sinilah tugas guru semestinya harus senantiasa mengembangkan wawasan ilmu pengetahuan, meningkatkan kualitas pendidikannya hingga apa yang diberikan kepada peserta didiknya tidak lagi terkesan ketinggalan zaman. Bahkan tidak sesederhana itu saja, ciri guru ideal di era globalisasi seperti saat ini perlu tampil sebagai pendidik, pengajar, pelatih, inovator  dan dinamisator secara sekaligus dan integral dalam mencerdaskan anak didiknya.

Salah satu indikator utama unggul tidaknya suatu sekolah adalah ditentukan faktor mutu gurunya. Guru dituntut memiliki profesionalisme dibidangnya. Artinya guru tidak hanya harus memiliki pengetahuan yang luas tentang bidang yang diajarnya, namun seluruh komponen yang berkaitan dengan pendidikan harus ada pada diri para guru itu sendiri. Hal itu pula didasarkan atas asumsi bahwa persoalan peningkatan mutu pendidikan tentu bertolak pada karakter seorang pendidik. Oleh sebab itu, semakin banyak guru yang berkualitas di suatu sekolah, tentu akan semakin berkualitas pulalah sekolah tersebut. Hal ini penting menurut penulis, di tempat penulis mengajar sangat ditanamkan sekali pemahaman soal seperti itu. Keprofesionalan seorang Kepala Sekolah dalam menjalankan fungsi dan wewenangnya, ini yang membuat guru-guru di tempat saya semakin termotivasi dalam mendidik.

Di sini penulis mencatat, ada beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh guru kedepannya. Tantangan pertama yang akan dihadapi guru dalam mengukuhkan identitas dirinya sebagai pembaharu perubahan adalah menyadari berbagai macam tarikan kepentingan kekuasaan yang menggelayuti profesi mereka sebagai guru. Guru selalu berada dalam tegangan kelompok kepentingan yang berpotensi mengerdilkan ciri konstruktif dan liberatif yang mereka miliki. Guru bisa menjadi pelanggeng status quo atau pembangun tatanan baru. Guru mampu terlibat dalam proses pencerahan, pemberdayaan, dan partisipasi dalam masyarakat. Tantangan kedua, guru juga bisa akan terjebak pada kelompok kepentingan tertentu yang menjadikan mereka sekadar alat-alat kepentingan ideologis kelompok mapan.

Dalam hal ini, ada dua fungsi penting peranan guru yang harus tetap dipertahankan, yaitu fungsi konservatif guru dan fungsi liberatif guru. Ini sebenarnya tergantung dari bagaimana masyarakat memandang lembaga pendidikan. Kita lihat, dari pandangan konservatif mengatakan bahwa salah satu fungsi pendidikan adalah sebagai mekanisme pemerataan kesempatan belajar bagi semua. Pendidikan akan mengidentifikasi dan menyeleksi individu yang memiliki kemampuan intelektual, bakat-bakat, dan motivasi yang kuat, tidak peduli mereka berasal dari kalangan mana, entah kaya maupun miskin. Untuk itu, pengalaman mengenyam bangku pendidikan akan membekali mereka dengan kemampuan, keterampilan dan pengetahuan yang membuat mereka dapat semakin hidup secara bermartabat dalam masyarakat.

Dengan pendidikan, mereka yang kurang beruntung dalam masyarakat menjadi setara dengan mereka yang memiliki previlese, entah karena status sosial maupun warisan kekayaan turun-temurun yang memungkinkan anak-anak orang kaya menikmati keistimewaan dalam kehidupan sosial mereka. Dalam konteks ini, guru memiliki fungsi liberatif, yaitu membebaskan mereka dari belenggu kemiskinan dan membuat anak-anak orang miskin mengalami mobilitas sosial dalam masyarakat.

Penulis (yang juga guru) sangat berkeyakinan, dengan menjalankan dua fungsi di atas melalui kinerja profesionalnya guru akan bisa berperanan lebih aktif dalam menentukan sikap dan langkahnya untuk memeluk inspirasi demokratis. Jika pendidikan merupakan sebuah sarana pembebasan yang memungkinkan setiap orang berpartisipasi aktif dalam membentuk tatanan sosial dalam masyarakat, inspirasi demokratis merupakan jiwa yang menghidupi kinerja guru sebagai pembaharu perubahan.

Tidak mudah menjadi seorang pembaharu perubahan, jika seorang guru tidak memiliki horizon visi dan inspirasi dalam menjalankan amanat pendidikannya. Guru sebagai ujung tombak pendidikan tidak lain adalah menjadi pemimpin (leader) bagi diri sendiri dan bagi peserta didiknya sehingga mereka bersama-sama mampu membangun sebuah tatanan baru sesuai dengan cita-cita dan harapannya. Pandangan ini mengandaikan bahwa dalam diri individu ada potensi untuk berkembang. Untuk itu setiap individu guru memiliki potensi untuk menjadi pemimpin. Guru merupakan leader dan pembaharu perubahan pendidikan karena tanpa keterlibatan guru setiap usaha untuk memperbarui dunia pendidikan akan gagal. Dalam setiap pembaruan sekolah, inisiatif perubahan yang tidak menyentuh kehidupan guru tidak akan mengubah banyak hal.

Catatan terakhir penulis, guru merupakan profesi dan panggilan hidup yang diperuntukkan untuk mengubah hidup orang lain (tentunya peserta didik) dan dengan demikian mengubah hidupnya sendiri dan masyarakat. Lembaga pendidikan melalui kinerjanya sesungguhnya dapat membantu menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang lebih baik dari yang sekarang ini ada kalau guru benar-benar dapat merealisasikan peranannya sebagai pembaharu perubahan. Namun, pertanyaan penting saya adalah “Apakah para guru mau menyadarinya dan sedia membentuk diri menjadi pembaharu perubahan?”. (Staf Pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia SMP & SMA St. Fransiskus  Asisi Pontianak, Alumnus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Jurusan Sastra Indonesia, spesialisasi ilmu bahasa terapan dan jurnalistik)