Republik Debu


Tiada lagi rumah-rumah yang hangat, nan nyaman, yang tertinggal hanyalah

janji kosong berupa debu, akibat ulah ketamakan manusia,

musnahlah rasa gembira para penduduk pribumi berganti dengan rintihan kesakitan, karena kelaparan

Senyuman derita para anak-anak yang tempat bermainnya tersingkir akibat pembangunan kerajaan semu, yang mungkin tak lama dan hanya akan berubah menjadi serpihan kenangan pahit semata.

Lambat-laun pemerintah juga merubah janji-janjinya menjadi debu

Debu yang hanya berterbangan kian kemari

Dulu, waktu yang merubah kita menjadi debu, tapi sekarang kita perlahan-lahan dibentuk menjadi debu oleh tangan-tangan baja

Tangan-tangan baja selalu memandang rendah warga republic debu

Pikirnya warga debu hanya sekelompok debu yang tak berguna dan sia-sia belaka

tetapi warga debu tidak tinggal diam, mereka berteriak lantang dengan sebatang pena dan selembar kertas

yang suaranya dapat menggetarkan singgasana tangan-tangan baja.

(Pontianak, 29 Agustus 2011)