Asal-usul Suku Dayak Taman: Kabupaten Kapuas Hulu

Agustinus Sungkalang, S.S.

Sub suku Dayak Taman atau sering juga dikenal dengan istilah orang Taman adalah satu di antara subsuku Dayak yang bermukin di hulu Sungai Kapuas, yang umumnya terdapat di Kecamatan kedamin dan sebagian kecil juga terdapat di Kecamatan Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu.
Dalam masyarakat Dayak Taman terdapat empat strata sosial, yaitu samagat, pabiring (bisa juga di sebut bala samagat), banua, dan paangkam. Strata sosial ini lebih mirip dengan kasta. Kasta yang paling tinggi yaitu samagat pada masa lampau selalu menjadi pembicaraan orang Taman. Sedangkan, yang rendah adalah paangkam yang lebih mirip dengan budak atau tawanan perang. Kasta paangkam tidak banyak, karena kasta ini ada jika ada tawanan perang atau seseorang dari kasta ulun yang punya hutang dengan samagat. Yang paling menyedihkan dari kasta ini adalah menjadi tumbal saat kasta samagat mengadakan upacara adat toras (upacara adat ngangkat tulang). Pangkam ini disembelih untuk menemani arwah kasta samagat. Namun, kebiadaban ini dihapuskan oleh salah satu tokoh Dayak Taman yaitu Balle Sariamas Pollo Kayu yang berkasta pabiring. Menurut masyarakat suku ini hakikatnya sudah dihapuskan. Yang menjadi pemimpin pada suku ini tidak lagi berdasarkan kasta-kasta atas, tetapi sudah berdasarkan demokrasi. Namun, demikian yang masih sukar dihilangkan pengaruh kasta ini adalah pada adat perkawinan. Dalam hal ini anggota masyarakat Dayak Taman keturunan kasta samagat cenderung mempertahankan jumlah adat yang lebih tinggi dibandingkan dengan anggota masyarakat biasa.
Suku Dayak Taman memiliki keragaman budaya yang sampai saat ini masih dipertahankan, seperti menganyam manik, tikar, membuat Mandau, dan tradisi kesenian seperti menari, bersyair, dan lain-lain. Satu diantara potensi yang mendukung lestarinya budaya pada suku ini ialah budaya yang umumnya sudah punah pada sub-suku Dayak di Kalimantan yaitu pola pemukiman rumah betang panjang. Dalam hal ini, setiap pemukiman orang Taman didirikan rumah adat betang panjang. Sudah tidak terhitung lagi jumlah sarjana yang lahir dari rumah betang panjang ini. Politikus kawakan seperti PalaunSoeka (alm.), Drs. S. Massardy Kaphat, Drs. Laurens Mangan, Ba’I Sawang Ama Sundin (Kepala Hukum Adat Dayak Kapuas Hulu zaman penjajahan Belanda), termasuk anaknya, Martinus Sundin, (orang Dayak Taman Pertama yang masuk agama Katolik), dan juga Baroamas Massoeka Janting (Pendiri Partai Dayak dan Anggota BPH) semuanya berasal dari suku tersebut. Selain itu, doktor pertama di Kalimantan Barat bidang hukum adat yaitu Prof. Dr. Thambun Anyang, S.H. juga berasal dari suku Dayak Taman.
Dayak Taman dalam pengelompokan yang dilakukan oleh Tjilik Riwut (1993) masuk ke dalam rumpun Uud Danum (Ot Danum). Pengelompokan ini jika ditinjau dari aspek linguistik hakikatnya meragukan, karena bahasa yang dituturkan oleh Orang Dayak Taman lebih banyak memperlihatkan reduplikasi yang juga akan dijumpai pada subsuku Dayak Kalis, Lau’, dan Dayak Tamanbalo. Reduplikasi ini terjadi bahkan hampir menempati semua posisi baik posisi awal terbuka maupun pada suku kata akhir tertutup.
Berdasarkan fakta linguistik ini, pengelompokan oleh para penulis di atas tidak terlalu mendasar, meskipun jika di tinjau dari aspek budaya akan mungkin mendukung. Sebagai contoh upacara Dallo’ pada suku Uud Danum memperlihatkan kemiripan dengan upacara toras.
Wilayah penyebaran Dayak Taman jika dibedakan dengan Dayak Taman Kalis, Tamanbalo, Lau’ hanya terdapat di Kecamatan Putussibau dan Kedamin yang tersebar di Sungai Kapuas, yaitu Kampung Sayut, Sauwe, Melapi 1 (Patamuan), Melapi 2, Melapi 3, Melapi 4, Melapi 5, Ingko’ Tambe, UrangUnsa Ulu, dan UrangUnsa Ilir. Sedangkan Sungai Mendalam, terdapat dua kampung yang hakikatnya tidak berjauhan jaraknya yaitu Kampung Semangkok 1 dan Semangkok 2. Di Sungai Sibau juga terdapat dua kampung (tidak ada rumah betang), yaitu di kampung Sibau Ulu dan Sibau Ilir. Menurut Yohanes (1993), suku ini juga tersebar di Kecamatan Batang Lupar, Embaloh Hulu, Embaloh Hulu, Manday, bahkan juga terdapat di Serawak, Malaysia.
Dayak Taman mengklaim sukunya pada zaman dahulu hampir menguasai sepanjang Sungai Kapuas bagian hulu, dari perbatasan dengan sintang yaitu di Silat Hilir hingga Riam Matahari, dan sepanjang Sungai Mendalam. Anggapan ini mungkin sulit diterima karena tidak ada bukti-bukti sejarah yang dapat mendukung cerita ini. Namun, kenyataan saat ini kelompok suku Dayak Taman umumnya bermukim di wilayah DAS Kapuas bagian hulu dan juga dekat muara Sungai Mendalam (satu diantara cabang Sungai Kapuas yang bagian hulunya dihuni oleh suku Dayak Kayaan).
Kalimantan Review

(Sumber: Sujarni Alloy, Albertus, Chatarina Pancer Istiyani
MOZAIK DAYAK: Keragaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat,
2007)