ETOS KERJA TINGKATKAN KOMPETENSI DAN KAPASITAS GURU

Sanggau, KR
Persekolahan Santo Fransiskus Asisi merupakan persekolahan yang berada dibawah naungan Yayasan Karya Sosial Pancur Kasih yang memiliki suatu visi dan misi dalam menjawab tantangan dunia pendidikan, melalui visi membebaskan manusia dari penindasan, pemiskinan, dan pembodohan menuju manusia mandiri dan bertanggung jawab serta misi melahirkan manusia yang militan, proaktif, inovatif, kreatif dan siap menjadi pemimpin. Sehingga memberikan pandangan dan wawasan bagi para peserta didik tidak hanya dapat melepaskan diri dari kebodohan tetapi juga menjadi manusia yang mandiri yang militan, proaktif, inovatif dan kreatif dalam menhadapi tantangan hidup. Berpegang kepada visi dan misi dari Persekolahan Santo Fransiskus Asisi tersebut, maka guru-guru dan para staff harus memiliki etos kerja dalam diri pribadinya.
Sehubungan dengan hal di atas, maka guru-guru dan staff Persekolahan Santo Fransiskus Asisi mengadakan lokakarya etos kerja bersama tanggal 19 – 22 Juni 2013 bertempat di Wisma Laverna, Sanggau. Kegiatan ini diikuti oleh 28 peserta dari unsur guru dan staff Persekolahan Santo Fransiskus Asisi Pontianak. Fasilitator yang diundang dalam lokakarya tersebut adalah Direktur Ruai TV, Stepanus Masiun dan Tim-nya.
Dalam pemaparannya, Stepanus Masiun mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi guru Asisi. “Ini kegiatan yang bagus dan sangat penting, perlu saya sampaikan bahwa proses pemberdayaan itu atau peningkatan kapasitas dan kompetensi guru itu harus dilakukan secara sistematis dan konsisten. Tidak bisa dilaksanakan sekali-kali terus hilang bertahun-tahun,” tutur Masiun.
Masiun menjelaskan kebutuhan dan peningkatan kapasitas itu diperlukan karena zaman semakin berubah dan semakin modern, apalagi seorang pendidik itu perlu untuk menambah dan meningkatkan pengetahuannya serta menambah informasi. “Dengan adanya lokakarya ini, tentu ada pengetahuan-pengetahuan dan up date perkembangan wawasan guru. Jadi, hal ini idealnya bisa dilaksanakan 3 bulan sekali, sebab ini tentu ada nilai-nilai yang lebih didapatkan oleh seorang guru, selain pengetahuan. Dan ini merupakan kesempatan yang baik untuk menjalin hubungan atau relasi personal antara guru, kepala sekolah, dan staff tata usaha. “Saya senang dengan pertemuan ini, karena antara guru dan kepala tidak ada geb atau sekat, justru suasananya sangat cair” ungkap Masiun.

Lebih lanjut, Masiun memaparkan ke depannya guru-guru harus terus-terus belajar dan meningkatkan keterampilannya dalam pengajaran, dan pengetahuan wawasan, mengapa? Setiap hari selalu ada perkembangan, dan anak-anak menganggap guru bukan lagi sebagai sumber pengetahuan, sekarang anak-anak bisa membuka internet di sana banyak sekali informasi pengetahuan yang bisa dibaca. “Jika guru, tidak mengup date informasi maka ia akan ketinggalan zaman dan informasi dari anak-anak, dan tidak relevan untuk mengajar anak-anak lagi di kelas dan yang lebih penting lagi ke depan antara pihak sekolah dengan yayasan itu harus seiring terupdate mengenai perkembangan-perkembangan,” tegas Masiun.
Sementara itu Mario, pria lulusan Universitas Indonesia, Jurusan Psikologi yang juga sebagai fasilitator dalam lokakarya tersebut mengungkapkan bahwa kegiatan ini sudah sangat tepat dan bisa dilaksanakan secara reguler. Tujuannya tentu untuk meningkatkan performa mengajar, melakukan evaluasi dan sebagai sarana guru bisa saling share (berbagi) pengalaman serta meningkatkan kinerjanya di masa mendatang. “Tentu ke depan saya berharap harus ada peningkatan kapasitas guru, mulai dalam hal kemampuan mengajar, teknik berkomunikasi, pengembangan bahan ajar/alat peraga, dan guru benar-benar berkembang secara professional,” ujar Mario
Menurut Mario, kegiatan Lokakarya ini harus dibuat program khusus dan budgetnya yang terukur, karena ini adalah bagian kegiatan dari sekolah. Dan tentunya yayasan juga diminta untuk lebih aktif untuk memfasilitasi dan melihat kebutuhan-kebutuhan apa yang diperlukan oleh sekolah, supaya dapat membuat kegiatan sesuai dengan kebutuhan.
Georgius, S.P.,M.Si., sebagai Kepala Sekolah SMA St. Fransiskus Asisi, yang juga hadir sebagai peserta dalam Lokakarya tersebut mengungkapkan bahwa kegiatan lokakarya ini sangat bagus dalam rangka meningkatkan kapasitas bapak ibu guru, tentunya didukung fasilitas di Laverna yang sangat lengkap sehingga membantu kegiatan ini berjalan dengan sukses. “Kegiatan ini bisa menjembatani atau sebagai wadah aspirasi sekolah kepada Yayasan untuk mensinergikan dalam kaitan pengembangan sekolah Asisi ke depannya. Saya berharap, ke depan, guru harus meningkatkan kompetensi dan etos kerjanya, jika keduanya ini saling sinergi maka profesionalisme guru akan semakin meningkat. Tentu juga, harus menjalin hubungan yang lebih baik, terutama komunikasi, program-program yang disinergikan yang tentu melibatkan yayasan,” ungkapnya.
Dengan demikian, melalui kegiatan lokakarya etos kerja, diharapkan para guru dan staff Persekolahan Santo Fransiskus Asisi dapat memperoleh pandangan akan pentingnya memiliki etos kerja dalam diri pribadi, sebagai sebuah semangat dalam menjalankan tugas dan amal bakti sebagai pendidik, yang tidak hanya memberikan pengetahuan umum kepada siswa, tetapi juga menanamkan nilai-nilai ajaran Santo Fransiskus Asisi kepada siswa serta menjadi mitra yang berkualitas sebagai aktivis dalam Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih.***
SUNGKALANG ASISI