Si U’lek U’lek Akun

Cerita Rakyat: Suku Dayak Taman
Sanggar Sari Budaya Pontianak

Oleh Agustinus Sungkalang

Pada zaman dahulu kala, segala binatang, tumbuhan, serta setan/jin masih bersahabat dengan manusia. Mereka masih bisa berkomunikasi secara langsung satu dengan yang lainnya.
Pada waktu itulah, hidup seorang manusia bernama Si Ulek-Ulek Akun. Ia hidup berdua saja dengan ibunya, sedangkan ayahnya sudah lama meninggal sejak si ulek-ulek akun masih di dalam kandungan ibunya.
Si Ulek-Ulek Akun merupakan seorang pemuda yang sangat pemalas. Siang malam kerjanya hanya makan dan tidur saja. Sementara ibunya pontang-panting bekerja dari matahari terbit hingga matahari terbenam pergi ke hutan mencari kayu bakar untuk di jual ke pasar. Hasil penjualan kayu bakar itu dibelikan untuk keperluan makan mereka.
Suatu hari saat Si Ulek-Ulek Akun sedang tidur tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara burung yang ditelinga si ulek-ulek akun sayup-sayup kedengaran memanggil namanya. “Ulek-Ulek Akun, bangunlah, sumpit dan bunuhlah aku!”, panggil seekor burung hantu dari atas pohon di belakang pondok.
Rupanya burung hantu itu adalah jelmaan dari roh Ayah Si Ulek-Ulek Akun. Burung hantu itu terus memanggil Si Ulek-Ulek Akun, akhirnya ulek-ulek akun dengan mata setengah terpejam, bangun dan mengambil sumpit peninggalan ayahnya.
Puuussshhh…..Ceeekkkb…Buuuubb…., Burung hantu jatuh ketanah dan mati.
Si Ulek-Ulek Akun tidur lagi. Tiba..tiba..bangkai burung hantu yang sudah mati, yang ia simpan diatas para-para kayu api itu masih bisa memanggil Si Ulek-Ulek Akun. Ulek-Ulek Akun terperanjat, ia duduk dan mencari sumber suara itu. “Ulek- Ulek Akun, bersihkan buluku, masaklah dan makanlah aku sampai habis”, panggil burung hantu itu berulang kali.
Akhirnya….Si Ulek-Ulek Akun bangun dan berdiri. segera ia menghidupkan api didapur, membersihkan bulu burung itu dan memotong –motongnya. Setelah itu dimasaknya dan memakan habis daging burung itu sesuai perintah si bangkai burung itu.
Ulek-Ulek Akun akan tidur lagi. Akan tetapi, belum sempat nyenyak ia tertidur, sayup-sayup kedengaran olehnya ada suara yang memanggil namanya. Ia pun duduk dan memasang telinganya, rupanya suara itu berasal dari dalam perut Si Ulek-Ulek Akun.
“Ulek-Ulek Akun, keluarkan aku dari dalam perutmu, sambil engkau berlari kesana kemari dan memanjat-manjat dinding”, perintah daging burung hantu itu dari dalam perut Si Ulek-Ulek Akun.
Si Ulek-Ulek Akun dengan bersungut-sungut membuka celananya, berak sambil berlari-lari dan memanjat-manjat dinding, sesuai perintah si daging burung. ha..ha..ha..ha..Tai Si Ulek-Ulek akun berceceran kemana-mana, yang dalam bahasa Tamannya “Tati tararan-raran”.
Belum selesai Si Ulek-Ulek Akun beraknya, tiba-tiba keajaiban pun terjadi. Tai’ Si Ulek-Ulek Akun yang tersangkut di lantai sekonyong-konyong berubah menjadi perabot rumah tangga dan perhiasan yang indah-indah, sedangkan tai’ yang jatuh ke tanah berubah menjadi tanaman yang siap dipanen dan sebagian lagi berubah menjadi hewan peliharaan yang gemuk-gemuk siap untuk disembelih.
Bertepatan dengan selesainya Si Ulek-Ulek Akun berak, ibunya pun sudah berada di pintu dan sempat menyaksikan keajaiban itu. Ibunya juga terkejut bukan kepalang.
Akhirnya ibu dan anak berpelukan dan berlutut. berdoa mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. mereka hidup berkecukupan dan bahagia sepanjang hidupnya.
Demikianlah cerita ini…………
Pesan moral yang ingin disampaikan adalah :
1. Kita tidak boleh meniru sifat Si Ulek-Ulek Akun yang pemalas itu.
2. Keajaiban Tuhan tidak terjadi pada semua orang. karena itu, janganlah kita menunggu keajaiban seperti yang terjadi pada Si Ulek-Ulek Akun.
3. Manusia wajib berusaha, bekerja keras dan berdoa mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kasih dan karunia-Nya kepada kita.

….TERIMA KASIH….
.