Asisi Adakan IHT Kurikulum 2013

Oleh: Agustinus Sungkalang Assisi

Mulai diterapkannya kurikulum 2013 ini oleh pemerintah menjadi suatu tantangan zaman bagi satuan pendidikan di seluruh Indonesia untuk mengimplementasikan kurikulum tersebut. Menurut penjelasan resmi dari Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ada empat hal  yang menjelaskan mengapa KTSP diubah, yaitu: tantangan masa depan, kompetensi masa depan, fenomena negatif yang mengemuka, serta persepsi masyarakat tentang KTSP. Tim penyusun Kurikulum 2013 mencatat sejumlah tantangan masa depan yang harus dihadapi oleh setiap orang Indonesia di abad ke-21 ini. Di antaranya adalah: globalisasi, lingkungan hidup, kemajuan teknologi informasi, konvergensi antara ilmu dan teknologi, pola ekonomi berbasis pengetahuan, serta pergeseran ekonomi dunia.

Hadirnya Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan kurikulum dari sebelumnya. Dinamika keberadaan kurikulum tersebut perlu disikapi oleh dunia pendidikan khususnya para pendidik. Oleh karena itu, pengenalan terhadap keberadaannya perlu disosialisasikan, sehingga pada saatnya para pelaksana di lapangan sudah siap saat kurikulum terbaru dilaksanakan secara formal.

Menjawab hal tersebut, Persekolahan Santo Fransiskus Asisi Pontianak mengadakan kegiatan “In House Training (IHT) Kurikulum 2013” sebagai langkah persiapan pemberlakuan kurikulum 2013 secara nasional pada tahun pelajaran 2014/2015. Dengan menghadirkan tiga narasumber yang ahli dibidangnya, Dr. Leo Sutrisno (Guru Besar Universitas Tanjung Pura), Drs. Napoli Abdullah (Pengawas SMA Dinas Pendidikan SMA), dan Maryono, S.Pd.,M.Pd. (Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kota Pontianak). Kegiatan IHT tersebut dilaksanakan mulai tanggal 29 s.d. 30 Januari 2014, bertempat di Aula Persekolahan Santo Fransiskus Asisi Pontianak.

Menurut ketua panitia pelaksana IHT Asisi, Vandrektus Derek, A.Md mengatakan bahwa tujuan diadakannya kegiatan tersebut dapat menyatukan konsep, mempersiapkan administrasi, dan melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara benar. Lebih lanjut, dijelaskan bahwa dasar dilaksanakannya kegiatan IHT kurikulum 2013 adalah program kerja waka kurikulum SMP dan SMA St. Fransiskus Asisi, Persiapan Akreditasi Sekolah, dan RDG tentang pentingnya Kurikulum 2013 serta pembentukan Tim Pengembang Kurikulum.

Dalam paparan intelektualnya, Dr Leo Sutrisno membuka sesi pertama dengan menampilkan kondisi pendidikan Indonesia dalam menjawab tantangan global serta posisi Indonesia dalam pentas dunia. “Dilihat dari data Archipelago Economy: Unleasing Indonesia’s Potential (McKinsey Global Institute, September 2012), Indonesia akan (diramalkan) menjadi negara dengan tata ekonomi ke-7 terbesar pada tahun 2030, tetapi dilihat dalam laporan Martin Prosperity Institute (Creativity and Prosperity: The Global Creativity Index. 2011) ditunjukkan bahwa Indeks Kreativitas orang Indonesia itu sangat rendah (sekitar 0.04). Angka ini jauh di bawah dari Indeks Kreativitas orang Malaysia (sekitar 0.44). Indeks Kreativitas orang Swedia paling tinggi (sekitar 0.93). Amerika Serikat sedikit di bawahnya (sekitar 0.90). Satu-satunya negara yang Indeks Kreativitasnya di bawah Indonesia adalah Kambodia,” tegas Dr Leo.

Dr. Leo menjelaskan temuan ini tidak jauh berbeda dari temuan Analisis Hasil Programme for International Student Assessment PISA, Trends in International Mathematics and Science Study-TIMSS dan Progress in International Reading Literacy Study – PIRLS (2009). Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan,Hampir semua siswa Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai level 3 saja, sementara negara lain banyak yang sampai level 4, 5, bahkan 6. Untuk itu, Dengan keyakinan bahwa semua manusia diciptakan sama, interpretasi dari hasil ini hanya satu, yaitu: yang kita ajarkan berbeda dengan tuntutan zaman maka perlu penyesuaian kurikulum.”

Menjawab hal tersebut, Dr Leo memaparkan bahwa Tujuan Pendidikan di Indonesia sesuai pasal 3 UU No 2 Sisdiknas Tahun 2003 adalah memanusiakan manusia. “Untuk ruang lingkup materi, materi yang tidak esensial atau tidak relevan bagi siswa ditiadakan dan yang sesuai dengan kebutuhan siswa dipertahankan, sedangkan kedalaman materi disesuaikan dengan tuntutan perbandingan internasional [s/d reasoning]. Kurikulum 2013 ini pembelajarannya lebih pada pendekatan saintifik, yaitu di mana spara siswa dilatih dan diajak mencari pengetahuan.” papar Dr. Leo.

Senada dengan hal yang sama, Pengawas SMA Dinas Pendidikan Kota Pontianak, Drs Napoli menuturkan bahwa kurikulum 2013 ini merupakan satu pendekatan dengan mengedepankan pendekatan saintifik. Dalam pemaparan materinya tentang “Pendekatan Strategi Pembelajaran” kurikulum 2013 menyediakan ruang gerak bagi para siswa dan guru untuk mengembangkan kemampuannya di tingkat analisis, evaluasi dan berkreasi karena bahan ajar dikurangi tetapi jumlah jam pelajaran ditambah. “Konsekuensinya, cara pembelajarannya harus berubah. Karena guru tinggal menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) diharapkan mereka lebih banyak (90%) mengalokaasikan waktunya untuk pembelajaran sehingga lebih efektif,” ungkap Drs Napoli.

Drs. Napoli menjelaskan bahwa cara pembelajaran lama yang pada umumnya para guru lakukan adalah ‘memberi (penge)tahu(an)’ dan para siswa ‘menerima’. “Cara belajar baru diarahkan agar para guru dan para siswa bersama-sama ‘mencari (penge)tahu(an)’. Guru mengajak para siswanya ‘mencari pengetahuan’. Tentu, tidak sekedar mengajak, tetapi juga memberi bimbingan, memberi arahan. Karena itu, guru tidak dapat lagi ‘berdiri di pinggir jalan dengan telunjuk jari menunjukkan’. Para guru harus berjalan bersama para siswanya. Misalnya, ketika membimbing siswa dalam penulisan Karya Ilmiah Remaja, siswa harus diberikan pemahaman dengan perspektif dari sudut pandang yang berbeda. Satu obejek yang diamati, tetapi dengan riset yang berbeda.” tegas Drs Napoli.

Sementara itu, Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kota Pontianak, Maryono mengungkapkan dalam materinya “Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran/Bahan Ajar” menjelaskan bahwa dalam pendekatan saintifik ada lima hal yang harus dipaparkan guru dalam RPP yang akan disusun pada kurikulum 2013 ini. Pertama, siswa menangkap realita/kenyataan. Mereka sadar bahwa sumber ilmu pengetahuan itu berada di alam semesta, di dunia nyata. Karena itu, perhatiannya mesti ditujukan kepada alam semesta itu. Dalam praktik hidup sehari-hari, alam semesta itu berupa realita yang berada di sekitar kita. Menangkap realitia itu dilakukan baik secra langsung (dengan bantuan indera) maupun secara tidak langsung (membaca atau mendengarkan pengalaman orang lain). Kedua, ’mengamati’ realita/kenyataan itu. Nah, yang perlu dilatih adalah memfokuskan perhatiannya agar pengamatannya sungguh tepat pada sasaran. Karena itu, siswa dihadapkan pada pertanyaan kritis yang mendasar ”Apakah pengamatannya tepat pada sasaran?”

Langkah selanjutnya, Paryono menjelaskan adalah ’mengumpulkan data/infornasi’. Di sini para siswa diminta untuk memperoleh data/informasi yang objektif para ilmuwan menggunakan berbagai cara dan mengembangkan alat-alat pengumpul data/infromasi serta cara-cara melakukannya. Siswa dilatih unutk memilih alat dan cara pengumpul data yang paling cocok. Siswa dihadapkan pada pertanyaan kritis dan mendasar yang kedua, ”Apakah pengumpulan data/informasi yang dilakukan benar?

Langkah keempat adalah ‘menganalisis data/informasi’. Data/informasi yang telah dikumpulkan perlu diolah agar dapat dipahami. Para ilmuwan juga mengembangkan berbagai cara dalam menganalisis data/informasi. Pada umumnya analisis data itu dilakukan baik secara deskriptif maupun secara inferensial. Para siswa perlu dilatih mengembangkan analisis yang argumentatif, artinya dapat meyakinkan orang lain bahwa cara berpikirnya benar. Para siswa dihadapkan pada pertanyaan ketiga, “Apakah penalaran yang digunakan sahih?” Sedangkan, bagian terakhir adalah ‘menarik kesimpulan’. Setelah data/informasi dianalisis (dipahami polanya) langkah berikutnya adalah mengambil inti sarinya, menyimpulkan. Setelah kesimpulan dibuat, ilmuwan tidak langsung berhenti. Mereka melakukan refleksi diri, mepertanyakan kembali kesimpulan yang telah dibuatnya itu. Siswa juga perlu dilatih unutuk bertindak reflektif. “Apakah kesimpulannya betul?”

“Dari penjelasan di atas, maka dapat kita pahami bahwa kurikulum baru ini materinya disusun secara seimbang antara: sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pendekatan pembelajarannya siswa diajak mencari tahu, serta penilaiannya bersifat otentik dan menggali potensinya berdasarkan portofio”, papar Maryono.