GURU DAN REVOLUSI MENTAL

Oleh: Agustinus Sungkalang, S.S.

Sejarah mencatat, mulai dai tahun 1994 setiap tanggal 25 Nopember kita melaksanakan Peringatan Hari Guru Nasional. Pada 25 November 2014 ini, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ini genap berusia 69 tahun. Usia yang cukup matang dan dewasa bagi sebuah organisasi. Selama kurun waktu tersebut, banyak pengabdian yang telah disumbangkan, banyak aktivitas yang telah dilaksanakan, banyak perjuangan yang telah dikerjakan, banyak kegiatan perlindungan terhadap pendidikan yang telah diberikan. Di samping itu, telah juga banyak peristiwa, persoalan, tantangan, dan kendala yang telah dihadapinya. Berbicara tentang pendidikan di Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari peran dan peranan guru. Tanpa guru yang berkualitas, tidak mungkin dihasilkan keluaran pendidikan yang diharapkan bangsa ini.

Ada hal yang menarik, penulis cermati bahwa tema peringatan Hari Guru Nasional Tahun  2014 dan HUT ke-69 PGRI ini adalah “Mewujudkan Revolusi Mental Melalui Penguatan Peran Strategis Guru”. Sebagai seorang pendidik, penulis memahami bahwa tema tersebut sangat relevan untuk bangsa Indonesia sekarang ini. Peran guru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sungguh besar dan sangat menentukan. Guru merupakan salah satu faktor yang strategis dalam menentukan keberhasilan pendidikan dan pelaku utama dalam mempersiapkan pengembangan potensi peserta didik untuk masa depan bangsa.

Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Kita tahu bahwa, sejak masa penjajahan, guru selalu menanamkan kesadaran akan harga diri sebagai bangsa dan menanamkan semangat nasionalisme kepada peserta didik dan masyarakat. Pada tahap awal kebangkitan nasional, para guru aktif dalam organisasi pemuda pembela tanah air dan pembina jiwa serta semangat para pemuda pelajar. Dedikasi, tekad dan semangat persatuan dan kesatuan para guru yang dimiliki secara historis tersebut perlu terus dipupuk, dipelihara dan dikembangkan sejalan dengan tekad dan semangat era global untuk masa depan bangsa.

Sebagai seorang pendidik, saya sejalan dengan pemikiran Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah yang baru, Bapak Anies Baswedan yang mengaku akan menurunkan konsep revolusi mental dalam dunia pendidikan di Indonesia. Namun, revolusi mental itu bukan difokuskan kepada anak-anak, melainkan para pendidik, yaitu guru. Seperti terjadi di banyak negara, pemerintah dan masyarakat justru memposisikan profesi guru sangat terhormat baik secara formal maupun sosial. Guru sebagai profesi dicanangkan sejak tahun 2004. Pencanangan tersebut merupakan pengakuan formal atas profesi guru sebagai profesi yang bermartabat. Hal ini diharapkan menjadi tonggak awal bangkitnya apresiasi tinggi pemerintah dan masyarakat terhadap profesi guru, ditandai dengan adanya reformasi pengembangan profesi guru meliputi peningkatan kualifikasi dan kompetensi, sertifikasi, pemberian penghargaan, perlindungan dan perbaikan kesejahteraan.

Penulis sepakat, bahwa kemajuan suatu bangsa tergantung dari besarnya perhatian dan upaya bangsa yang bersangkutan dalam mendidik generasi muda. Jika anak bangsa memperoleh kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengembangkan bakat dan kecakapannya, mendalami pengetahuan, serta mengembangkan disiplin, watak, kepribadian dan keluhuran budinya, maka bisa dikatakan bangsa tersebut akan memiliki masa depan yang cerah. Oleh karena itu, berbagai upaya untuk meningkatkan profesionalitas guru, harkat dan martabat bagi bangsa yang sedang membangun mutlak diperlukan.

Kembali ke tema peringatan Hari Guru Nasional Tahun  2014 dan HUT ke-69 PGRI  “Mewujudkan Revolusi Mental Melalui Penguatan Peran Strategis Guru”. Dalam hal ini, revolusi mental yang digagas melalui peran strategis guru menjadi suatu konsep tepat untuk mencetak guru berkualitas dan menggeliatkan harapan bangsa. Mengapa harus mental guru? Karena guru menjadi poros utama memajukan pendidikan Indonesia. Dalam dunia pendidikan, guru menjadi penentu  masa depan bangsa. Maka dari itu, revolusi mental guru sangat urgen dilakukan. Hal itu tentu berkaitan dengan karakter, moral, cara berpikir dan logika bertindak guru.

Memang dalam pedoman HGN Tahun  2014 dan HUT ke-69 PGRI ini, ada tiga tujuan utama yang dicapai, yaitu pertama, meningkatkan peran strategis guru dalam membangun sikap, keterampilan dan pengetahuan melalui implementasi Kurikulum 2013. Kedua, meneladani semangat dan dedikasi guru sebagai pendidik profesional dan bermutu dalam peningkatan mental bangsa. Ketiga, meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat akan pentingnya kedudukan dan peran strategis guru dalam membangun bangsa Indonesia yang cerdas, kompetitif, dan bermartabat.

Setidaknya, dalam memperingati Hari Guru Nasional Tahun  2014 dan HUT ke-69 PGRI  ini, ada empat aspek yang harus diperhatikan oleh Pak Anies Baswedan, agar guru benar-benar bisa menjadi lokomotif perbaikan bangsa melalui gerakan revolusi mental. Pertama, perbaiki kesejahteraan guru di Indonesia, terutama guru-guru yang mengabdi di daerah perbatasan! Selama ini, sebagian besar guru bekerja sesuai argo. Mereka datang ke sekolah hanya untuk mengajar dan bukan mendidik. Tak jarang waktu mengajar pun disunat karena menjalani pekerjaan lain untuk menambah penghasilan. Tapi penulis sepakat, kembali ke topik tulisan yang diawal tadi bahwa adanya apresiasi tinggi pemerintah  SBY dan masyarakat terhadap profesi guru, ditandai dengan adanya reformasi pengembangan profesi guru meliputi peningkatan kualifikasi dan kompetensi, sertifikasi, pemberian penghargaan, perlindungan dan perbaikan kesejahteraan, patut kita dukung, tentu dengan perbaikan-perbaikan. Penulis berharap, pemerintahan Jokowi dapat lebih cepat menyejahterakan guru, termasuk segera mengangkat guru bantu dan guru honorer. Bila kesejahteraan guru semakin baik, kita percaya mereka akan mendidik anak bangsa dengan lebih baik, sekaligus menjadi model manusia Indonesia yang telah mengalami revolusi mental.

Kedua, pelatihan guru. Sebagian Kurikulum 2013 sebetulnya telah mengadopsi sistem pendidikan yang terbukti sukses dijalankan sekolah-sekolah swasta tertentu untuk melahirkan siswa berprestasi dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan hendaknya mengundang para guru yang terbukti berhasil mendidik siswanya untuk berbagi kiat sukses mendidik kepada koleganya dengan memadukan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan. Guru-guru tersebut juga menjadi model bagi koleganya. Ketiga, penyebaran guru yang harus merata. Ketimpangan penyebaran guru di Indonesia harus segera diatasi agar revolusi mental tak hanya berlangsung di Pulau Jawa, tetapi juga di luar Jawa, termasuk Kalimantan Barat, yang selama ini masih perlu menciptakan guru-guru berkualitas yang siap untuk mendedikasikan dirinya bagi kemajuan pendidikan di daerah.

Keempat, menjadikan guru sebagai profesi mulia dan bergengsi. Melalui perbaikan kesejahteraan, kita berharap mulai saat ini pemerintah, terutama Kementerian Menpan dan Perguruan Tinggi mampu merekrut bibit-bibit unggul untuk dididik menjadi guru. Calon guru bukan lagi berasal dari mahasiswa yang gagal lolos tes pada jurusan-jurusan favorit atau pilihan terakhir saat masuk perguruan tinggi, tetapi mereka yang benar-benar terpanggil memperbaiki kehidupan bangsa. Untuk itu, seleksi calon guru pun dilakukan lebih ketat.

Akhir kata dari penulis, bentuk konkret revolusi mental adalah menempatkan guru sebagai salah satu tiang negara. Guru yang mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk meningkatkan kualitas didiknya karena tugas mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, pada saat bersamaan kesejahteraannya juga harus ditingkatkan. Dengan begitu, revolusi mental diciptakan melalui pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi.

Banyak hal yang perlu direvolusi, namun yang paling utama adalah mental guru. Karena guru adalah sumber ilmu dan pengetahuan, tanpa dua hal itu maka kemajuan hanya impian. Jadi, kemajuan pendidikan menjadi awal kemajuan bangsa dan hal itu harus dilakukan lewat revolusi mental guru. Revolusi bukan segalanya, namun segalanya bisa berawal dari sana. Selamat Hari Guru Nasional Tahun 2014 dan HUT ke – 69 PGRI! (*)

(Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMP & SMA St. Fransiskus  Asisi Pontianak, Alumnus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)