RESENSI BUKU

LIFE WITHOUT LIMITS

Judul Buku      : Life Without Limits; Tanpa Lengan dan Tungkai Aku Bisa Menaklukkan Dunia
Penulis             : Nick Vujicic
Terbit               : Cetakan I, Mei 2011
Penerjemah      : P. Herdian Cahya Khrisna

Kategori          : Nonfiksi, Pengembangan Diri dan Inspirasional

Ukuran            : 13.5 x 20 cm

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Halaman          : x + 259 halaman
ISBN               : 978-979-22-6966-6 (Pemerintah)

Harga              : Rp. 55.000,-

Sinopsis

 Life Without Limits adalah buku inspiratif yang ditulis oleh orang biasa. Nick Vujicic, yang terlahir tanpa lengan dan tungkai, mengatasi cacat tubuhnya dengan menjalani kehidupan yang mandiri, kaya dan penuh; menjadi teladan bagi siapa pun yang mencari kebahagiaan abadi. Dia merupakan pembicara motivasi sukses internasional. Pesan utamanya: tujuan terpenting siapa pun adalah menemukan tujuan hidup, terlepas dari kesulitan apa pun atau rintangan apa pun yang sepertinya mustahil dilalui. Nick menceritakan cacat fisik dan pertempuran emosi yang dialaminya saat berusaha mengatasi keadaannya semasa kecil hingga dewasa. Dia berbagi tentang imannya terhadap Tuhan menjadi sumber kekuatan utamanya dan menjelaskan bahwa dia menemukan tujuan kehidupan menginspirasi orang lain untuk menjadikan kehidupan mereka serta dunia lebih baik—dia mendapatkan kepercayaan diri untuk membangun kehidupan tanpa batas yang produktif dan membawa berkah.

Kekuatan Terbesar Dibalik Kekurangan

Melihat sampul buku ini, pikiran kita langsung mengarah ke difabilitas, yaitu orang yang mempunyai keterbatasan fisik/cacat fisik. Nicholas James Vujicic (dibaca Voy-a-chich), yang disapa Nick. Nick lahir di Australia tanggal 4 Desember 1982 dengan Tetra-amelia syndrome, suatu kelainan langka yang menyebabkan ketiadaan lengan dan tungkai. Saat itu, kelahiran Nick menimbulkan kegelisahan Ayah dan Ibunya tentang masa depannya nanti. Ibunda Nick belum bisa menerima takdir Tuhan yang diberikan kepada anak pertamanya itu. Bahkan, ketika tubuh mungil Nick yang masih merah disandingkan dengannya, ibunya berkata; “Singkirkan dia..! aku tidak mau menyentuh atau melihatnya. (hal 5.)

Tidak dapat disangkal bahwa Nick menjalani kehidupan yang sangat sulit. Akan tetapi, setelah melalui perjalanan panjang penemuan jati diri, tujuan dan pengalaman hidup, Nick memilih untuk memanfaatkan kekurangannya sebagai suatu kelebihan. Nick menyadari bahwa Tuhan memberinya karunia untuk memotivasi dan menghibur orang lain. Kegigihannya untuk bangkit menjadi orang sukses ditopang oleh keimanannya yang kuat kepada Tuhan dengan berpedoman pada Al-Kitab, “Apapun cobaan yang kalian hadapi, terimalah dengan sukacita.”

Pilihan Nick telah membawanya menjadi seorang penginjil dan pembicara motivasi kelas internasional yang telah berkeliling dunia untuk berbicara di depan jutaan orang. Nick juga seorang sarjana akuntansi dan perencanaan keuangan yang kini memiliki beberapa perusahaan termasuk organisasi nirlaba Life Without Limbs, dan bintang film pemenang penghargaan Doorpost Film Project 2009 yang berjudul The Butterfly Circus. Selain melakukan berbagai hal yang bisa meringankan beban orang lain, namun Nick juga suka melakukan hal-hal yang murni untuk kesenangan pribadi. Ia menjalani hidup layaknya orang normal! Nama Nick Vujicic sudah terkenal di dunia maya. Beberapa videonya di You Tube telah banyak diunggah oleh jutaan orang. Nick berenang, bermain basket, bermain musik, main skateboard, melakukan perencanaan bisnis, dan berkeliling dunia untuk memotivasi orang. Ia menjalani kehidupan yang tanpa batas. Jika orang tanpa lengan dan tungkai ini saja mampu hidup seperti itu, mengapa kita tidak?

Pengalaman mengatasi tantangan baik secara fisik maupun mental yang dialami Nick karena kondisi tubuhnya, dituangkan  dalam buku berjudul Life Without Limits: Tanpa Lengan dan Tungkai, Aku Bisa Menaklukkan Dunia. Buku ini diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama yang berisi 12 bab. Melalui halaman-halaman bukunya, pemuda tak berlengan dan bertungkai ini akan menuntun kita untuk menerima dan mencintai diri sendiri sebagaimana adanya, menemukan tujuan hidup, menyalakan iman dan harapan, berani menghadapi tantangan, bertahan dalam cobaan, bangkit dari kegagalan, dan akhirnya mendobrak segala batasan, mencintai kehidupan sepenuhnya dan mendorong anda untuk memberi dan menjadi berkat bagi orang lain.

Selanjutnya, ada juga pengalaman menarik dengan keterbatasannya, ia sangat pesimistis membayangkan hubungan percintaan dengan wanita. Suatu saat ketika Nick berbicara di hadapan sekitar tiga ratus murid remaja, ia membeberkan beberapa kisah suka duka yang pernah ia jalani, dan ketika sesi tanya jawab dibuka, ada seorang gadis yang terpesona dengan kepribadian Nick, lalu ia berjalan ke depan ruangan, dan kemudian memeluk Nick. Di saat itulah Nick mengaku bahwa itu merupakan pelukan terhangat dalam kehidupannya. (hal 22). Gadis itu adalah Kanae Miyahara, yang telah dinikahi Nick pada 12 Februari 2012 lalu.

Secara keseluruhan, buku yang ditulis dengan bantuan Wes Smith ini bagus dan sangat inspiratif. Penuturannya sederhana namun mengena, menarik dan jauh dari menjemukan. Banyak kutipan bagus yang bisa ditemukan di dalamnya. Buku ini disajikan dengan bahasa yang mengalir dan komunikatif, seolah-olah pembaca digiring untuk ikut menapaki kisah perjalanan hidup seorang yang memiliki keterbatasan fisik sejak lahir. Terjemahan ke bahasa Indonesia oleh P. Herdian Cahaya Khrisna sangat bagus, namun kenikmatan membaca masih terganggu dengan beberapa kesalahan penulisan. Meskipun buku yang telah memasuki cetakan keempat di Indonesia ini ditulis dengan nafas Kristiani, namun masih dapat dinikmati pembaca non-Kristiani. Jadi, bacalah buku inspiratif ini dan mulailah menjalani kehidupan tanpa batas seperti Nick!

Kehidupanku adalah sebuah kesaksian tentang kenyataan bahwa kita tidak memiliki batasan kecuali batasan yang kita buat sendiri. Hidup tanpa batas berarti mengetahui bahwa kau selalu memiliki sesuatu untuk diberikan, sesuatu yang mungkin bisa meringankan beban orang lain.(hal. 242)