“GURU YANG DEMOKRATIS”

Proses belajar yang demokratis akan

DSC_0908 terarah dan lebih lancar apabila dimulai sejak kanak – kanak selama belajar. Maka sangat baik apabila sejak di taman kanak – kanak sampai dengan perguruan tinggi, siswa dibantu untuk mendalami, memahami, melatihi, dan menghayati hidup berdemokrasi.

Pendidikan demokrasi di sekolah tersebut hanya berjalan dengan baik dan lancar, bila guru atau pendidik yang mengajarkan demokratis dalam tugas mereka. Gurulah yang menjadi tombak pendidikan di sekolah formal. Bila mereka mampu menghayati nilai pendidikan, maka mereka akan mampu mendidik siswa secara demokratis, sedangkan apabila guru tidak demokratis, maka akan sulit bagi guru untuk membantu siswa bersikap demokratis.

  1. Tugas Guru                                                                                                      Secara umum, tugas guru itu ada dua: mendidik dan pengajar. Mendidik artinya mendorong dan membimbing siswa agar maju menuju kedewasaan yang secara utuh. Kedewasaan itu mencakup kedewasaan intelektual, emosional, sosial, fisik, seni, spiritual, dan moral. Ini berarti bahwa siswa perlu dibantu untuk berkembang secara holistik, secara menyeluruh, tidak hanya segi intelektual saja. Siswa dibantu agar emosinya seimbang dan tertata, sehingga tidak terlalu emosional dalam bersikap. Sebagai makhluk sosial, siswa juga dibantu untuk mengambangkan kepekaan terhadap sesama dan rela hidup dengan orang lain. Secara fisik pun, siswa juga dibantu agar menjadi manusia yang sehat jasmaninya. Unsur estetis, seni juga perlu dikembangkan sehingga perasaan dan hati siswa berkembang halus. Segi spiritual dan moral sangat penting dalam hidup yang dalam dan dasar bertindak baik. Maka kedua segi itu juga menjadi perlu dikembangkan pada diri siswa. Kedua segi itu penting dalam membangun pribadi manusia yang utuh, maka salah satu nya tidak dapat dihilangkan dalam proses pendidikan.

Sedangkan mengajar artinya membantu dan melatih siswa agar mau belajar uuntuk mengetahui sesuatu dan mengembangkan pengetahuan. Dalam pengertian UNESCO, belajar berarti berarti belajar untuk mengetahui (to know), untukk melakukan sesuatu (to do), uuntuk menjadi diri sendiri (to be), dan untuk hidup bersama (to live together). Sehingga belajar tidak hanya berkaitan dengan belajar untuk mengetahui sesuatu (to know) tetapi siswa dibantu untuk dapat melakukan dan bertindak sesuai dengan yang diketahuinya. Siswa berdasarkan pengetahuanya juga dapat mempergunakan untuk kehidupan bersama dengan orang lain. Dan yang sangat penting siswa dapat mengembangkan dirinya lewat  pengetahuan yang dipelajarinya. Dengan demikian pengetahuan tersebut merupakakn bagian dari hidupnya dan mempengruhi kehiduapan mereka menjadi lebih berkembang maju. Tian Sehingga dalam pengertian belajar diatas siswa mempunyai kompetensi yang mendalam tentang bahan yang dipelajari.

Menurut filsafat kontruktivisme, tugas guru tidak menjalankan tugasnya secara otoriter  tidak hanya memberikan pengetahuan namun lebih menjadi fasilator sehingga siswa  sendiri  berkembang menjadi siswa yang berkembang dan menjadi manusia dewasa secara utuh. Maka model yang ditonjolkan adalah model yang aktif bukan guru yang dominan. Pusat seluruh proses pendidikan adalah siswa, sedangkan tugas guru  adalah fasilitator (dengan merangsang, menantang, dan menyiapkan pengalaman, dll) agar siswa sendiri belajar sehingga berkembang dan menjadi lebih dewasa.

  1. Guru sebagai Pengajar yang Feodalistik otoriter atau Dri mengajaremokratis

Salah satu tugas guru adalah sebagai seorang pengajar yang mana tugas mengajar merupakan membantu siswa agar mereka dapat berpikir dan akhirnya dapat mengerti bahan yang sedang dipelajari secara benar. Sehingga siswa bertambah pengetahuan mereka. Dalam tugas mengajar secara ekstrem dibedakan menjadi dua aliran besar yakni mengajar secara feodalistik otoriter dan mengajar secara demokrati. Kedua model tersebut dipengaruhi oleh dasar ffilsafat pendidikan yang melatar belakangi gagasan guru.

  1. a)      Pengajaran feodalistik otoriter

Pengajaran yang feodalistik lebih banyak dipengaruhi oleh filsafat pendidikan klasik yang menekankan bahwa siswa itu tidak tahu atau belum tahu apa – apa, sedangkan guru itu yang mempunyai dan mengetahui  pengetahuan. Dengan demikian maka guru lah yang berfungsi memasukan pengetahuan pada siswa. Siswa hanya akan memperoleh pengetahuan bila mereka menerima apa yang diberi oleh guru. Dalam hal ini siswa dianggap seperti tabula rasa, krtas putiih yang harus diisi oleh guru. Siswa sering digambarkan sebagai gelas kosong yang harus diisi oleh guru dengan air pengetahuan

Dalam sistem filsafat di atas, pengethuan merupakan sesuatu yang sudah terbentu. Tugas guru adalah membawa dan memasukannya dalam otak siswa, maka mau tidak mau siswa harus menerima saja secara pasif dan gurulah yang secara aktif memasukan pengetahuan tersebut. Paulo Freire merangkkum model pembelajaran diatas sebagai pengajaran sistem bank (banking bank yang mana “guru mengajar dan  siswa diajar, guru mengetahui semua, dan siswa tidak tahu apa – apa, guru berpikir dan siswa dipirkan, guru berbicara dan siswa mendengarkan, guru mendisiplinkan dan siswa didisiplinkan, guru memilih dan mendesakkan pilihanya dan siswa  hanya ikut, guru bertindak dan siswa memabayangkan bertindak lewat tindakan guru, guru memilih isi program dan siswa menganbil begitu saja, guru adalah subjek, dan siswa adalah objek dari proses belajar” (Freire, 1990).

Dari sistem tersebut terlihat bahwa gurulah yang aktif dan siswa sama sekali pasif sebagai objek pengajaran. Gurulah yang berbicara, yang menjelaskan, yang menjadi sumber pengajaran. Guru adalah penentu semuanya baik dalam memilih bahan, mempersiapkan bahan, termasuk mengolah bahan. Otoritas yang tinggi adalah guru. Siswa hanya harus tunduk, diam, mendengarkan, dan mengikuti petunjuk. Dalam praktiknya, guru dapat menjadi otoriter dan memaksakan semua kehendaknya pada siswa. Siswa ttidak diberi kesempatan untuk mengungkapkan gagasan atau pendapatnya. Bahkan yang terjadi, banyak siswa yang dimatikan kreativitasnya dan dimarahi apaila mengganggu dikelas. Salah satu cara mematikan siswa adalah dengan menjadikan jalan pikiran guru adalah satu – satu nya yang benar. Jalan pikiran, cara siswa memcahkan persoalan, bila tidak sesuai dengan yang diajarkan  guru disalahkan.

  1. b)     Pengajaran demokratis

Berbeda dengan filsafat pendidikan klasik, filsafat konstruktifme, lebih menekaknkan bahwa baha siswa itu sudah tahu sesuatu meskipun belum sempurna, bawa siswa tidak maha tahu, dan bahwa siswa dapat belajar sendiri. Menurut filsafat konstruktivisme dianggap pengetahuan sebagai bentukan (konstruktiksi)siswa sendiri. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah jadi dan tingal dimasukkan dalam pikiran siswa, tetapi suatu proses yang harus digeluti, dipikkirkan, dan dikontruksikan oleh siswa. Filsafat ini menyatakan bahwa siswa hanya akan menjadi tahu apabila mereka sendiri belajar. Tanpa belajar sendiri, siswa tidak akan pernah tahu. Maka tugas utama guru adalah membantu siswa agar mau belajar secara aktif.

Dari sistem tersebut terlihat bahwa siswa lah yang terpenting. Muridlah yang yang aktif baik dalam mengulangi bahan, mempersiapkan bahan, termasuk mengolah bahan. Otoritas yang tinggi adalah Siswa. Siswa harus aktif bertanya, aktif mengerjakan sesuatu bahan, aktif membuat laporan, aktif dalam membuat laporan, dan aktif mengungkapkan gagasanya.

Dari sistem tersebut terlihat bahwa peran guru berubah. Guru lebih dianggap sebagai fasilitator.Guru lebih membantu siswa agar aktif dan menemukan pengetahuan mereka. Dalam pengertian ini tugas gurulah tugas guru lebih merangsang siswa belajar, mendukung, dan memberikan motivasi agar terus belajar, memnatau dan mengevalusi yang ditemukan siswa. Dalam pengertian pembelajarn konstruktivis, guru bukanlah penentu utama lagi. Hubungan guru dan siswa menjadi hubungan yang dialogis, saling membantu dan saling belajar.

Secara ringkas fungsi guru sebagai fasilitator dan moderator dalam membantu siswa belajar secara konstruktivis dapat diringkas dalam tindakan – tindakan berikut ini

1)      Sebelum guru mengajar

Mempersiapkan bahan yang mau dajarkan

Mempersiapkan alat – alat peraga/pratikum yang kan digunakan

Mempersiapkan pertanyaan dana rahan untuk merangsang siswa aktif belajar

Mempelajari keadaan siswa,, mengerti kelemahan dan kelebihan siswa

Mempelajari pengetahuan awal siswa

2)      Selama proses pembelajaran

  • Mengajak siswa aktif belajar
  • Siswa dibiarkan bertnya
  • Menggunakan metode ilmiah dalam proses penemuan sehingga siswa merasa memenukann sendiri pengetahuanya
  • Mengikuti pikiran dan gagasan siswa
  • Mengikuti pikiran dan gagasan siswa
  • Menggunakan variasi motede pembelajaran seperti studi kelompok, studi di luar kelas, di luar sekolah.
  • Kunjungan tempat pengembangan ilmu pengetahuan seperti museum, tempat laboratorium, dll
  • Mengadakan pratikum terpimpin maupun bebas
  • Tidak mencerca siswa yang berpendapat salah maupunn bebas
  • Menerima jawaban alternative dari siswa
  • Kesalahan konsep siswa ditunjukkan dengan arif
  • Menyediakan dana anomaly untuk menantang siswa berpikir
  • Siswa diberi waktu berpikir dan merumuskan gagasan mereka
  • Siswa diberi kesempatan mengungkapkan pikiranya
  • Siswa diberi kesempatan untuk mencari pendekatan dan caranya sendiri dalam belajar dan menemukan sesuatu
  • Evaluasi yang kontinu dengan segala prosesnya

3)      Sesudah proses pembelajaran

  • Guru memberikan PR dan mengumpulkan serta mengkoreksinya
  • Memberi tugas lain untuk pendalaman
  • Tes yang membuat siswa berpikir, bukan hafalan

4)      Sikap yang perlu dimiliki oleh guru

  • Siswa dianggap bukan tabula rasa, tetapi subjek yang sudah tahu sesuatu
  • Model kelas : Siswa aktif, guru menyertai
  • Bila ditanya siswa dan tidak dapat menjawab, tidak usah marah dan mencerca
  • Menyediakan ruang Tanya jawab dan diskusi
  • Guru dan Siswa saling belajar
  • Yang penting bukan bahan selesai, tetapi siswa belajar untuk belajar sendiri
  • Memberikan ruang siswa untuk boleh salah
  • Hubungan guru – siswa diagonal
  • Pengetahuan yang luas dan mendalam
  • Mengerti konteks bahan yang mau yang diajarkan
  1. c)      Mengajar Berfikir

Raths, dkk. (1986) dalam buku Teaching for Thinking memberikan beberapa cara konkrit yang dapat digunakan guru dalam membantu siswa berpikir antara lain:

  • Guru hendaknya mendengarkan gagsan dan pemikiran siswa
  • Guru memajukan diskusi terbuka dimana siswa bebas mengungkapkan pikiranya
  • Guru perlu memberikan waktu pada siswa untuk berpikir, letika guru mengajukan pertanyaan. Guru supaya tidak menjawab pertanyaan secara langsung, tetpai melemparkannya kepada siswa – siswa lain untuk mencoba menjawab
  • Guru perlu menerima ide dan gagsan siswa.
  • Guru hendaknya  memupuk kenyakinan siswa untuk berani tampil dengan gagasannya yang otentik
  • Guru perlu memberikan umpan balik yang memajukan pemikiran siswa, bukan mematikan

Beberapa praktek lain yang dapat ikut memajukan pemikiran siswa antara lain:

  • Setiap kali guru bertanya, maka jawaban dibuat tidak lengkap sehingga siswa ditantang untuk masih menambah gagasan lain
  • Diberi ruang kreasi bagi siswa dalam menjawab persoalan atau mengungkapkan persoalan mereka
  • Diberi ruang untuk berpikir dan mengungkapkan pemikirannya, baik secara pribadi maupun bersama dalam kelompok
  • Ruang majalah dinding yang dapat diisi dengan macam – macam gagasan Persoalan masyarakat dapat dibawa untuk dibawa dalam kelas uuntuk dibahas dengan kritis dalam kelas
  • Soal evaluasi lebih ditekankan pada soal terbuka dimana siswa bebas mengungkapkan gagasanya
  • Pemberian tugas rumah yang menuntut kreativitas dan pemikiran siswa sendiri
  • Siswa diberi kebeasan untuk mencari data dan masukan dari sumber – sumber lain, seperti perpustakan, internet, dll
  1. Guru sebagai pendidikan yang Otoriter atau Bebas
  2. a)  Pendidikan otoriter
  • Memberikan nilai moral yang baik
  • Memberikan banyak peraturan agar siswa tidak menyeleweng dan berlaku seenaknya
  • Menasehati dan memantau siswa apakah hidup dalam jalan yang benar
  • Memberikan nilai tradisi yang dianggap baik agar tetap sopan dan menaati nilai tradisi
  • Menghukum bila siswa salah agar bertobat dan memperbaiki diri
  • Memberikan contoh hidup  baik agar siswa melihat dan mencontohnya
  • Memantau dan mengawasi siswa secara lebih ketat
  1. b)  Pendidikan demokratis
  • Model pencarian bersama

Dalam model klasik sering pendidik menggunakan cara indokriminasi dimana siswa tinggal menerima nilai itu begitu saja. Dalam pendekatan modern nilai dipelajari secara bersama oleh siswa dan guru. “Value clarification”, klrifikasi nilai, penggalian nillai dari masalah yang dialami siswa atau terjadi diadalam masyrakat, menjadi cara yang banyak digunakan oleh pendidik.

  • Multinilai

Siswa tidak hanya di kenalkan di pertemukan dengan 1 nilai yg di anggap bener, tetapi juga di perkenalkan dengan macam – maacam nilai sehingga siswa di ajak untuk memili nilai yang ingin di hidupi dan bertanggung jawab akan nilai itu. Siswa juga diajak untuk dapat secara kritis menerima nilai – nilai itu. Dan yang lebih penting lagi, siswa diajak untuk melihat bahwa setiap siswa dapat mengambil nilai yang berbeda, yang ingin dihidupindan diharapkan mereka dapat saling menghargai niali lain dan hidup bersama orang yang mempunyai nilai lain.

  • Non diskriminatif dan non opresif

Unsur penting dari demokrasi adalah sikap non diskriminatif dan non opresif. Non diskriminatif adalah tidak membedakan orang dalam perlakuan berdasarkan agama, suku, tingkat ekonomi, kekayaan, melainkan menghargai tiap orang sama sebagai pribadi siapapun mereka. Sedangkan sikap non opresif berarti tidak menindas atau memaksakan kehendak kepada orang lain apalagi dengan kekerasan. Dalam pendidikan guru diharapkan dapat menanamkan kedua sikap tersebut dalam diri anak didik.

  1. c)      Budi pekerti

Isi budi pekerti tersebut mencakup tiga komponen besar yaitu kelakuan, kerajinan, dan kerapian.Setiap komponenn mengandung deretan panjang tingkah laku yang diharapkan dipunyai siswa untuk menjadi anak baik. Dalam lembaga sekolah tingkah laku yang sesuai yaitu seperti : nilai kejujuran, disiplin,pennghargaan terhadap orang lain, dan tanggung jawab.

Banyak guru yang memasukkan nilai hormat, patuh dan taat guru sebagai salah satu isi isi budi pekerti.  Diharapkan isi budi pekerti jangan sampai melatih  siswa menjadi untuk takut mengungkapkan pikirkanyang kreatif dan benar meski berbeda dengan pendapat guru.