Imperialisme Bahasa Asing

DSC03413

Oleh : Agustinus, S.S. (Guru Asisi Pontianak)

Judul tulisan ini mulai muncul dalam benak penulis ketika ada seorang mahasiswa PPL perguruan tinggi Negeri di Pontianak menyampaikan beberapa persoalan kebahasaan dalam konteks kekinian (secara universal). Pertanyaannya tersebut berkisar soal (1) Mengapa bahasa Indonesia yang digunakan sekarang ini cenderung semakin amburadul? (2) Bagaimanakah masa depan bahasa Indonesia jika keamburadulan pemakaian bahasa tidak segera disadari dan dibetulkan? Pertanyaan yang bersifat intrinsik ini mengundang penulis untuk mencoba mengulasnya. Begini, bahasa Indonesia yang dipakai secara amburadul dan campur-campur, memang sekarang ini cenderung banyak dan mudah ditemukan di sana-sini. Warga masyarakat Indonesia dari barbagai lapisan, banyak yang memakai bahasa Indonesia yang demikian ini dalam keseharian hidupnya. Dalam hemat penulis, terdapat tiga hal mendasar yang perlu dicermati berkenaan dengan realitas kebahasaindonesiaan ini.
Pertama, keamburadulan pemakaian bahasa disebabkan oleh sikap dan perilaku pragmatis yang berlebihan. Sikap dan perilaku berbahasa yang demikian menyebabkan orang tidak cermat dan teliti dengan aneka bentuk kebahasaan yang digunakan. Sikap yang terlalu pragmatis dalam aktivitas berbahasa, menyebabkan orang terlampau kaku dan terlalu terpaku pada faset-faset (segi pembicaraan) kemengertian serta kepahaman substansi pesan dalam berkomunikasi. Orang sepertinya lupa, bahwa pesan (message) yang disampaikan harus sepenuhnya dimengerti dan dipahami lewat unsur-unsur kebahasaan yang sungguh-sungguh terwujud secara tepat dan benar. Kedua, keamburadulan bahasa yag dipicu oleh realitas imperialisme linguistik asing terhadap sosok bahasa Indonesia. Sikap verbalistis dalam berbahasa Indonesia, menyebabkan semakin amburadul dan kian berantakan tidak karuan. Orang malahan banyak yang demikian bangga dengan bahasa amburadul yang mereka gunakan dalam bertutur sapa dengan sesama.
Banyak orang mengira, bahwa dengan menggunakan kata-kata dan frasa asing ditengah perwacanaan mereka justru akan meningkatkan prestise (harga diri/gengsi). Demikian juga yang kita temukan di dalam dunia perfilman, kita seringkali cenderung merasa bangga dengan aneka film yang datang dari negeri mancanegara. Juga lagu-lagu dan musik negeri manca yang pada saat-saat sekarang ini sepertinya telah menjelma menjadi kekuatan mahahebat yang terus merasuki kaum muda. Pada sisi yang berbeda, lihatlah pula banyak institusi dalam negeri yang telah menerapkan standar pengukuran penguasaan berbahasa asing seperti halnya TOEFL, TOEIC, GRE, GMAT, dll, untuk menentukan kapasitas calon sumber daya manusianya. Semuanya itu dengan tidak tersadari, menyebabkan bahasa Indonesia yang notabene adalah bahasa nasional, bahasa resmi, dan bahasa negara, semakin terpuruk dan tidak mendapatkan cukup perhatian yang benar-benar proporsional dari segenap masyarakat bahasa Indonesia.
Bagi negara yang tidak memiliki bahasa resmi sendiri seperti halnya Nigeria dan Zaire, adalah wajar mperialisme linguistik itu dibiarkan terjadi hingga demikian mendominasi. Berbeda dengan masyarakat bangsa Indonesia yang telah menyatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan, bahasa resmi kenegaraan, dan bahasa nasional, tidak sepantasnya membiarkan warga masyarakatnya diterjang badai imperialisme linguistik asing seperti yang terjadi sekarang ini.
Ketiga, keamburadulan berbahasa Indonesia yang disebabkan oleh telah luluh-lantaknya nasionalisme bangsa. Nasionalisme adalah sikap kolektif bangsa yang lazim dituangkan dalam simbol-simbol kebangsaan. Berkenaan dengan telah ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, bahasa resmi, dan bahasa negara, kita patut bertanya mengapa bahasa kita hingga kini tidak cukup daya untuk melawan imperialisme bahasa asing dalam negeri kita. Jawabnya tentu saja, karena pena bahasa kita tidak sehebat kekuatan dan kedahsyatan senjata. Ketajaman pena bahasa kita belum sepenuhnya mampu membantu membangun semangat nasionalisme bangsa hingga menjadi sungguh-sungguh kuat dan benar-benar terandal. Sayang bahwa ketidaktajaman pena bahasa itu telah berlanjut cukup lama. Dalam pada itu, kita ternyata juga demikian gemar tertegun-tegun menikmati karya-karya dari negeri manca. Kita sering lupa sejadi-jadinya, bahwa dengan sikap yang demikian ini penumpulan dan pembusukan bahasa Indonesia ke dalam, sesungguhnya sedang berproses terjadi dan menggerogoti.
Hasil akhirnya tentu saja, keterpurukan dan ketidakberdayaan bahasa, budaya, dan aspek-aspek kebangsaan lainnya. Kita juga tidak mengerti secara tepat dan pasti, apakah pada masa mendatang keamburadulan pemakaian bahasa juga bakal tetap menghadang. Maka perlu juga direfleksikan, apakah di sepanjang bulan-bulan dan tahun terakhir penghujung 2009 ini kita tidak justru semakin jatuh tersungkur pada bidang-bidang pemakaian bahasa yang cenderung seremonial dan basa-basi belaka. Kita juga tidak sepenuhnya menyadari, basa-basi dan seremoni bahasa yang kita lakukan selama ini, tidak bakal dapat menumbuhkan apa pun dalam masyarakat kita. Semoga!