Cerpen Pendidikan : Bukan Untuk Sebuah Ijazah

Pendidikan bukan Untuk Ijazah

Larut malam menyelubungi setiap sudut bumi dengan kegelapan. Aku masih berpacu dengan beberapa tumpuk buku yang ada di meja belajarku. Sunyi. Tapi sesekali aku mendengar suara jangkrik bernyanyi atau nyamuk bergumam. Cukup mengganggu, tapi ku anggap mereka temanku. Ini adalah perwujudanku untuk akhir pendidikan formalku di bangku SMA. Ini merupakan  perjuangan memenangkan apa itu sebuah pendidikan.

Ayam berkokok, kumandang adzan membangunkan alam sadarku. Ternyata aku tidak memakai bantal kesayanganku, tapi buku fisika yang di pinjami temanku ku jadikan bantal menyangga kepalaku. Aku menengok ke luar jendela, langit masih cukup gelap, tapi cahaya matahari yang kejinggaan sudah mengintip dari ufuk timur.

Membawa buku setumpuk dengan kacamata bening untuk menutupi mata ngantukku, dan ikatan rambut yang tidak teratur. Elvara La beberapa teman-teman menyebutku dengan nama itu. Sungguh membosankan. Melintas aku di depan guru Matematikaku, ku lihat ia sedang membaca buku matematika yang tebal. Aku selalu pensaran sama guruku yang satu ini, ia sudah menjadi guru matematika di sekolahku menginjak 2 tahun, dan statusnya masih menjadi mahasiswa di universitas ternama di kotaku. Dia adalah satu-satunya guru yang tidak mempermudah muridnya untuk belajar atau memberi kisi-kisi soal ujian.

Hampir aku mendekatinya untuk menanyakan soal matematika yang ia berikan lusa kemarin. Tapi belum juga aku mengatakan sepatah kata pun, guru satu ini seperti sudah tau apa yang mau aku lakukan di depannya.

“Harap kerjakan sendiri, disana sudah saya tuliskan referensi yang bisa kalian dapat di perpustakaan Nasional.” Astaga, tanpa aku bertanya dia seudah menjawabnya, dan pergi begitu saja seperti tidak mau tau akan pertanyaanku. Bisa gila hidupku dengan model guru seperti dia.

Hari ini mata pelajaran yang paling aku suka. Fisika dan Bahasa Inggris. Karena sudah mendekati Ujian Nasional mata pelajaran yang di berikan hanya mata pelajaran yang akan  keluar di Ujian Nasional nanti. Sudah seperti mahasiswa saja, seharian hanya membahas 2 mata pelajaran saja. Dan mata pelajaran terakhir adalah Fisika. Tapi, betapa bahagianya wajah teman-temanku ini setelah tau bahwa guru fisika di kelasku tidak datang. Sial, padahal udah dari tadi aku menunggunya. Dari pada aku duduk diam tanpa kegiatan, hanya mendengar celoteh teman-temanku hingga jam pulang, aku segera bolos sekolah dan menuju “Rumah Pelangi” , tempat aku mengumpulkan anak-anak jalanan dan kurang mampu di salah satu desa dekat sekolahku. Dan aku berperan sebagai pengajarnya, sendiri.

Biasanya aku datang setelah jam pulang sekolah, dan ini kali pertamaku datang lebih awal. Masih sepi, belum ada satu suara pun di dalam “Rumah Pelangi”, sembari menunggu mereka aku duduk di depan gubuk yang telah kakak ku bangun untuk “Rumah Pelangi”. Aku membaca sedikit materi fisika ku. Tiba-tiba dari arah samping aku mendengar beberapa orang bercakap-cakap. Ku tengok kesamping ternyata 3 orang muridku sudah datang, mereka Hasan, Toni, dan Rani. Mereka menyalamiku dengan wajah sumringah. Ini benar-benar jadi kehormatan sendiri bagiku.

Tak lama kemudian yang lain datang, jumlah semua muridku ada 11 orang. Dan syukur semua datang. Aku memulai mengajar mereka dari materi Pkn. Walau umur mereka hampir beda-beda, tapi aku mengambil materi yang sama, dan dengan sabar melatih mereka hingga mengerti. Hari ini benar-benar bukan hari baikku. Kena semprot pagi tadi sama guru paling killer disekolah, guru fisika yang tidak datang, dan kali ini ada wali murid yang memaksa pulang anaknya untuk membantu menumbuk padi. Kali ini aku tak mau diam, karena ibu muridku ini sudah berkali-kali seperti ini, dan selalu aku biarkan, tapi tidak untuk kali ini.

“Maaf ibu, kita belajar tidak lebih dari 2 jam kok, ya paling tidak izinkan Hanif untuk belajar selama 1,5 jam lah.” Tahanku.

“Heh anak ingusan, saya dan Hanif hanya hidup berdua, saya dan dia ini bekerja bersama untuk menghidupi keluarga kita. 1 jam Hanif dan saya bisa menumbuk 2,5 kg padi, kalau 1,5 jam di kurangi penghasilan saya berkurang donk?” Bantah Ibu Hanif.

“Hanya berkurang sekitar 2 Kg kan bu? Bisa di lanjutkan hari esok kan? Lagian Hanif Cuma belajar sekali dalam seminggu, sedangkan pekerjaan itu di lakukan setiap hari, sama sekali tidak berpengaruh banyak kan bu?” Aku tetap berusaha untuk menahan.

“Eh, apa kamu bisa ngasih ijasah ke anak saya, kalau anak saya sudah pintar? Apa dia bakal jadi guru nanti kalau dia sudah besar?” Untuk pertanyaan ini aku hanya terdiam.

“Tidak bisa ngasih ijazah kan?” Bentak Ibu hanif.

“Saya memang tidak bisa memberi ijazah bu, tapi memang saya tidak bertujuan untuk member mereka ijazah, yang mau saya berikan disini adalah pendidikan, dan pendidikan itu tidak di tentukan dengan ijazah.”

“Lalu apa nanti yang akan menjadi hasil dari 1,5 jam tiap minggu ini? ijasah tidak, derajat naik juga enggak, rugi donk saya sama Hanif?” semua terdiam, kudengar dari belakang, anak-anak berbisik membenarkan kata Ibu Hanif.

“Tidak bu, yang akan di hasilkan di sini adalah sebuah karakter anak yang berpendidikan, bukti pendidikan itu bukan ijazah atau derajat bu, tapi perubahan karakter dari seorang anak tersebut, lihatlah mereka, yang dulu hanya main-main dan tidak menunjukkan kesopanan terhadap orang yang lebih tua dari mereka, sekarang mereka lebih sopan dan mau belajar.”

Semua hening. “satu hal lagi, mereka sekarang melakukan suatu hal pasti akan memikirkan akibatnya bagaiman, mereka membeli suatu barang mereka akan menghitung uang kembalian mereka dan sebagainya. Dan pendidikan itu tidak harus di sekolahan yang di depannya ada papan tulis atau layar computer, tapi cukup dengan kesabaran dan berdasarkan suatu kebenaran mendidik mereka. Juga tidak harus membayar guru untuk mendidik mereka, tapi kita sendiri sebagai orang tua yang paling penting mendidik anak.” Lanjutku.

Ibu Hanif hanya terdiam, ia menatap Hanif yang tertunduk ada senyum yang mengembang di wajah wanita paruh baya ini. sedikit lega hatiku, tapi bikin sakit hati juga melihat Ibu Hanif pergi tanpa pamit, atau menatapku. Aku melanjutkan kegiatanku. Dan syukur tidak ada lagi kendala untuk mengajar mereka, malah anak didikku bertambah beberapa orang.

Ujian Nasional tinggal 1 hari, dan hari ini tidak ada pembelajaran sama sekali. Hari yang tersisa ini digunakan sebagai do’a bersama. Satu orang yang kulihat beda hari itu, yaitu guru matematika ku. Ia terlihat rapi dan sedikit segar di wajahnya. Mungkin Hidupnya sudah Bahagia. Pikirku. Setelah acara do’a bersama selesai, ku sempatkan menghampiri guru matematikaku, kali ini aku tak akan kehilangan kesempatan. Ku lihat ia berjalan menuju ruang guru.

“Pak Anas?” Teriakku, sebuah keberuntungan yang luar biasa ia mau menoleh.

“Maaf pak, ini kan bisa di katakana hari terakhir saya bejumpa dengan bapak untuk bertanya. Boleh?” Tanyaku dengan sedikit gemetar yang jelas di suaraku.

“Boleh, namamu Dinda kan?” Astaga, dan ini kejutan yang sangat dahsyat, aku kira bapak satu ini tidak tau namaku, karena hampir 2 Tahun mengajar disini, ia tidak pernah menyebut namaku. Segera ku anggukan kepalaku.

“Sebenarnya bukan materi matematika sih pak, tapi saya Cuma penasaran saja sama bapak, kenapa bapak tidak pernah memberi kita materi langsung, kenapa kita harus bersusah payah mencari buku-buku referensi itu sendiri? Terus kenapa bapak tidak pernah member prediksi soal yang akan keluar nanti?”

“Bapak mau Tanya? Apa tujuan kalian menempuh ujian nasional ini?” tanyanya balik.

“Lulus pak.” Jawabku polos.

“Lulus aja? Kalau kamu tidak di beri ijazah mau?” tanyanya lagi.

“Ya enggaklah pak, masak saya sekolah 3 tahun disini Cuma dapat peringkat lulus saja.”

“Jawaban pasaran, hampir semua siswa berkata seperti itu. Saya jawab sekarang pertanyaan mu.” Pak Anas menghela nafas dalam.

“Saya Cuma mau menyadarkan kalian. Sekolah ini adalaha wahana pendidikan bagi kalian, dan hampir semua siswa takut tidak lulus tidak mendapat ijazah, jadi mereka susah payah Cuma mau mendapat ijazah saja donk? Bukankah pendidikan itu adalah bagaiamana merubah kita dari tidak tau apa-apa menjadi tau, yang bodoh menjadi sedikit pintar? Kalau kalian dapat ijazah tapi dengan menghafal latihan kalian, atau bahkan kalian mencontek, rugi donk kalian? Sebenarnya saya pengen sekali melihat satu siswa saja tidak lulus, apakah kalau ada satu siswa tidak lulus itu pendidikan ia gagal?”

Astaga harusnya akau sudah tau jawabannya sejak aku menjawab pertanyaan ibu Hanif kemarin. Tapi telat untuk berkata di depan pak Anas.

“Tidak, sekolah itu tidak gagal, hanya mereka menunda ijazah keluar, karena satu perubahan dalam diri seorang anak itu sudah menunjukan pendidikan yang diberikan kepada dia berhasil. Jadi jelaskan pendidikan itu bukan Ijazah atau peringkat kelulusa saja.” Pak Anas meninggalkan aku yang terdiam mematung.

Benar. Aku membenarkan kata pak Anas. Pendidikan itu bukan sebuah ijazah atau peringkat kelulusan, tapi sebuah perubahan baik pada diri kita sendiri.

Semoga cerpen pendidikan ini bermanfaat bagi pembaca. Terima kasih.