Agustinus Asisi, S.S.

 Life Skill vs Mata Pelajaran

Sebuah studi yang dilakukan oleh Bank Dunia terhadap 150 negara antara lain menyimpulkan bahwa faktor keunggulan negara ditentukan oleh inovasi (40%), networking (25%), teknologi (20%), dan sumber daya alam (10%). Data tersebut menunjukkan, betapa pentingnya inovasi dalam membangun bangsa, sementara sumber daya alam ternyata tidak besar kontribusinya. Oleh karena itu, dapat dimengerti jika banyak negara yang sebenarnya tidak memiliki sumber daya alam dapat menjadi negara maju, karena memiliki sumber daya manusia yang inovatif.

Simpulan studi ini merupakan tantangan bagi dunia pendidikan untuk mengembangkan kreatifitas anak didik, karena kreatifitas merupakan modal awal dari kemampuan berinovasi. Secara jujur harus diakui, bahwa selama ini sekolah belum berhasil menumbuhkembangkan kreatifitas siswa, sehingga dapat dipahami jika lomba-lomba karya inovatif belum banyak memunculkan karya cemerlang.

Jika kita sepakat, bahwa tujuan anak bersekolah adalah untuk mendapatkan bekal guna menggapai kesuksesan setelah dewasa kelak, berarti apa yang dipelajari dan dikembangkan di sekolah seharusnya juga hal-hal yang diperlukan untuk menghadapi dan memecahkan problema kehidupan. Jika paradigma pendidikan yang digunakan adalah pendidikan berbasis luas, maka orientasi pendidikan seharusnya berupa pengembangan adalah kecakapan hidup atau life skill, yaitu kecakapan untuk menghadapi dan memecahkan problema kehidupan secara arif dan kreatif. Arif dalam arti memperhatikan kepentingan berbagai pihak, sedangkan kreatif artinya dengan menggunakan cara-cara yang tidak konvensional tetapi tetap efektif dan efisien.

Dengan pola pikir tersebut, maka rancangan pendidikan seyogyanya tidak diarahkan pada penguasaan bidang ilmu tetapi penguasaan kompetensi kehidupan. Oleh karena itu, kurikulum seharusnya dirancang dengan pendekatan berbasis kompetensi (competency based curriculum) dan bukan pendekatan berbasis keilmuan (scientific based curriculum). Namun harus diingat bahwa kompetensi yang dimaksud bukan penguasaan materi ajar (keilmuan), tetapi penguasaan kecakapan hidup (life skill). Dalam pola pikir ini, ilmu pengetahuan diposisikan mirip dengan “perpustakaan” atau “gudang ilmu pengetahuan”, sehingga penggunaanya dalam pendidikan dipilih bagian-bagian yang cocok untuk pembentukan/pengembangan kompetensi yang diinginkan.

Prof. Muchlas Samani, dalam bukunya “Menggagas Pendidikan Bermakna”  mengatakan salah satu negara yang relatif sangat serius dalam mengembangkan pendidikan kecakapan hidup (life skill education) adalah Hongkong. Melalui Basic Education Curriculum Guide: Building in Strength 2002, Hongkong tampak berusaha menyempurnakan pendidikannya dengan memasukkan life skill ke dalamnya. Dalam naskah tersebut dimuat, apa yang mereka sebut sebagai National Learning Goals, yang ternyata isinya juga mirip dengan life skill yang kita hasilkan lewat proses induksi.

Negara lain yang juga getol mengembangkan konsep pendidikan yang mirip life skill adalah New Zealand. Dari berbagai dokumen, diketahui bahwa mereka telah merumuskan pada tahun 1993, dalam The New Zealand Curriculum Framework. Mereka menyebutnya dengan istilah “the essential skill”, yang ingin dikembangkan melalui pendidikan di negara tersebut. Dalam dokumen tersebut tertulis, the essential skill merupakan kecakapan yang diperlukan generasi muda, untuk dapat berpartisipasi secara efektif dalam kehidupan di masyarakat.

Penggunaan kata life skill dalam makna lain, juga terjadi pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada pasal 26, ayat (3) disebutkan bahwa pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Rumusan tersebut mengesankan bahwa pendidikan kecakapan hidup merupakan bentuk “program pendidikan”, seperti program pendidikan kepemudaan dan sebagainya. Jadi, bukan suatu substansi pendidikan.

Seperti yang telah diuraikan di atas, ternyata life skill yang terbukti merupakan bekal kesuksesan orang, belum mendapat perhatian dalam praktik pendidikan di sekolah. Penulis tidak mengatakan life skill kurang mendapat perhatian, tetapi belum menjadi prioritas utama dari pendidikan di Indonesia. Mengapa demikian, karena guru lebih menekankan pada penguasaan materi ajar yang tercantum di dalam kurikulum.

Pertanyaannya, apakah materi ajar tersebut tidak penting? Sangat penting, tetapi itu saja tidak cukup sebagai bekal kesuksesan hidup. Materi ajar yang proses pembelajarannya ditekankan pada tataran kognitif, baru mencakup satu bagian, yaitu specific skill. Praktik pendidikan di sekolah menunjukkan, pada umumnya guru mengajarkan isi mata pelajaran sebagai wujud kecakapan spesifik. Misalnya, guru bahasa Indonesia mengajarkan Bahasa Indonesia seakan semua siswa dipersiapkan menjadi ahli bahasa, guru Teknologi Informasi dan Komunikasi mengajarkan teknologi komputer seakan semua siswa akan menjadi ahli komputer, dan seterusnya. Jangan lupa, bahwa dari satu kelas yang diajarkan tersebut sangat sedikit atau bahkan tidak ada siswa yang akan menjadi ahli bahasa Indonesia dan ahli komputer, sehingga yang diperlukan adalah belajar menggunakan bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi, memberikan pendapat dan menjadi pembicara yang baik, menggunakan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai alat untuk memahami penggunaan teknologi.

Jadi, bagi siswa yang tidak akan menjadi ahli bahasa, seharusnya pelajaran bahasa diarahkan untuk mengembangkan generic skill. Demikian pula mata pelajaran lainnya, seperti Fisika, Biologi, TIK, Bahasa Inggris, Ekonomi dan sebagainya. Akan tetapi, jika siswa berbakat atau akan menekuni bidang tersebut sebagai profesi, maka pembelajaran diarahkan sebagai spesific skill.

Fenomena seperti ini, yang tampaknya menjadi alasan Charles Handy, seorang bussines philosopher, yang menganjurkan untuk merombak total pendidikan kita. Dalam artikel berjudul Finding Sense in Uncertaintty, dia menjelaskan pendidikan selama ini berangkat dari asumsi yang keliru, yaitu bahwa semua problema di dunia ini telah diketahui dan guru mengetahui cara pemecahannya. Jadi, tugas guru adalah menyampaikan problema serta cara pemecahannya, dan setelah itu pendidikan dianggap selesai. Padahal, seyogyanya, problema itu terus berubah dan tentu guru belum mengetahui, apalagi cara pemecahannya. Charles Handy menegaskan belajar tentang ilmu pengetahuan tetap penting, tetapi hal itu kini lebih mudah dilakukan, karena banyak sumber informasi yang dapat dipelajari. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya diarahkan untuk membantu siswa belajar bagaimana memperoleh ilmu pengetahuan itu dan yang tidak kalah penting adalah apa yang harus dilakukan dengan ilmu pengetahuan itu. Penulis ingin membulatkan pendapat Charles Handy tersebut, bahwa pendidikan seharusnya diarahkan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memperoleh pengetahuan, dan bagaimana menggunakannya untuk memecahkan problema kehidupan dengan arif dan kreatif.

Akhir kata, sudah saatnya kita yang merasa sebagai pendidik atau orang yang peduli pendidikan mencari solusi agar pendidikan benar-benar mampu mengantarkan anak didik menyiapkan diri guna menghadapi masa depannya. Ungkapan Michael Porter, Profesor administrasi bisnis di Harvard Bussines School, bahwa sebaiknya kita tidak hanya berpikir tentang how to do, tetapi juga harus berpikir what to do, tampak relevan untuk direnungkan. Dalam pendidikan, kita sebagai pendidik tidak hanya memikirkan metode belajar yang cocok dengan anak kita, tetapi juga harus berani mempertanyakan “Apakah materi yang dipelajari anak-anak memang sudah tepat”. Pengertian tepat untuk materi belajar, tentunya harus dikembalikan pada filosofi belajar itu apa dan untuk apa anak harus belajar di sekolah.

Semoga.!***

(Guru SMP & SMA St. Fransiskus  Asisi Pontianak, Kalimantan Barat, Alumnus Universitas Sanata Dharma )