DSC_0899

Oleh:
Agustinus S.S.

Judul tulisan di atas muncul dalam benak penulis ketika merasa prihatin dengan kasus-kasus yang terjadi pada siswa kita sekarang ini. Hampir semua guru di Indonesia dan orang tua setuju bahwa pendidikan karakter merupakan bagian penting dalam sebuah proses pendidikan. Jika kita membaca bagaimana situasi sosial masyarakat kita saat ini, seperti maraknya perkelahian antarpelajar dan mahasiswa, tindak kekerasan yang terjadi, baik di jalanan maupun di sekolah, perilaku tidak jujur yang tercermin dalam tindak korupsi, pemanfaatan jabatan, budaya menyontek, ketidakdewasaan pribadi seperti tercermin dalam penyalahgunaan obat-obatan, penyimpangan perilaku seksual di kalangan remaja dan masih banyak daftar yang bisa penulis sampaikan, kita semua pasti sepakat bahwa sudah saatnya pendidikan karakter dilaksanakan secara sistematis, strategis, utuh dan menyeluruh di sekolah sehingga program pendidikan karakter menjadi semakin efektif.

Yang menjadi pertanyaan pokok bagi penulis adalah tentang seputar pendidikan karakter bukanlah apakah pendidikan karakter perlu diterapkan di sekolah, melainkan bagaimana menerapkan pendidikan karakter dalam dinamika dan praksis pengelolaan sekolah kita. Bertanya tentang “bagaimana”, kita mesti memiliki konsep yang jelas tentang pendidikan karakter itu sendiri sehingga praksis pendidikan karakter di lingkup pendidikan terarah dan utuh. Lebih lagi, di tengah-tengah kesibukan sekolah yang sudah banyak dijejali dengan beban administrasi dan pengajaran, serta tuntutan dari luar tentang akuntabilitas pendidikan berupa Ujian Nasional (UN), berbicara tentang pendidikan karakter memiliki banyak konsekuensi.

Sumardianta, dalam bukunya Guru Gokil Murid Unyu mengatakan bahwa karakter merupakan ciri khas yang melekat pada kepribadian seseorang dan tercermin dalam sikap, perilaku, dan cara merespons stimulus pengaruh dari luar. Semakin kuat karakter seseorang, semakin rendah tingkat responsnya terhadap stimulus. Semakin lemah karakter seseorang, semakin tinggi responsnya terhadap stimulus. Karakter berarti: apa yang tetap orang lakukan walau tidak ada yang sudi memperhitungkan; apa yang membuat orang tetap tegar ketika orang lain tidak ada yang menghargai; apa yang membuat orang tetap bahagia saat orang lain tidak ada yang mendukung; dan apa yang tetap orang percayai saat seseorang melakukan kesalahan.

Nah, bagaimana strateginya agar siswa-siswa yang penulis maksud bisa bertumbuh dengan karakter yang kuat? Mereka jelas harus difasilitasi dan didukung sistem persekolahan yang bagus, dengan pengajaran bermakna (good school). Pengajaran bermakna (contextual learning) ditandai empat sikap para guru yang memperagakan passion for knowledge learn, share, formulate, and practice. Para guru yang senantiasa berkeinginan yang kuat mempelajari pengetahuan baru; selalu memperkaya diri dan sesama dengan saling berbagi pengetahuan; berani memformulasikan konsep dan pemikiran baru; dan mampu mengaitkan pengetahuan yang diajarkan dengan kebutuhan hidup sehari-hari siswa.

Sekarang ini, penulis mengamati bahwa pendidikan tingkat dasar hingga menengah, praktis terperangkap monokultur. Kurikulum dan pengajaran nyaris sama. Semua bermuara pada Ujian Nasional (UN), dan ini penulis sangat rasakan sebagai seorang guru. Faktor pembeda sekolah-sekolah itu hanyalah tinggi rendahnya perolehan nilai UN. Padahal, sekolah unggulan yang menghasilkan para alumni berkarakter kuat memiliki value yang terus dijaga, dirawat, dan dihidupi. Nilai itu melembaga dalam prinsip-prinsip etika yang tertanam kuat dalam perilaku seluruh siswa dan civitas akademik.

Salah satu unit bisnis pendidikan dan pelatihan, MarkPlus Institute of Marketing (MIM) Jakarta merumuskan enam pilar utama institusi penghasil manusia-manusia (siswa) berkarakter kuat: trustworthiness, responsibility, respect, fairness, caring, dan citizenship. Enam pilar ini secara universal mencakup nilai-nilai etika yang berlaku di masyarakat pada umumnya tanpa memiliki bias kepentingan politik dan agama. Pertama, trustworthiness (kejujuran) mengacu pada perilaku tidak bohong, tidak berdusta, dan berani hidup susah karena mempertahankan kebenaran. Inilah komponen karakter paling mendasar. Seorang siswa harus solid dalam perkara integritas. Kejujuran harus melekat pada diri seseorang di mana pun, kapan pun, dan saat dia bersama siapa pun. Warna pilar ini biru yang mencerminkan setia pada prinsip.

Kedua, responsibility (tanggung jawab) berfokus pada tanggung jawab. Pilar kedua ini menghendaki siswa harus disiplin dan bertanggung jawab terhadap konsekuensi pilihan hidup. Tanggung jawab ini dilambangkan warna hijau yang diadopsi dari konsep kelestarian lingkungan hidup. Ketiga, respect (hormat) yang berarti siswa diajarkan untuk memperlakukan orang lain dengan penuh rasa hormat. Mengikuti aturan emas semua ajaran kebajikan tentang belas kasih: perlakukanlah semua orang dengan baik sebagaimana engkau ingin diperlakukan! Warna emas melambangkan pilar karakter kedua berdasarkan konsep “the golden rule”. Respect, seperti halnya emas, memang sangat bernilai. Dia diterima dan dihargai di belahan bumi mana pun.

Keempat, fairness (keadilan) artinya siswa tidak boleh berprasangka buruk, tidak boleh memberi stigma, dan tidak boleh gegabah menyalahkan pihak lain. Prinsip keadilan ini mengacu pada penampang belahan buah jeruk yang merata berwarna oranye. Kelima, caring (kepedulian) yang berfokus pada tindakan peduli didasari prinsip cinta transformasional. Banyak melayani tak berharap kembali. Ringan tangan dan ringan kaki dalam membantu orang lain. Karakter siap melayani dan memaafkan ini diwakili warna merah layaknya jantung hati sebagai simbolisasi cinta tak bersyarat.

Keenam, citizenship (kewarganegaraan) artinya siswa diajarkan berbicara mengenai keterlibatan aktif dalam pengembangan komunitas sekitar. Bekerja sama dan bertetangga dengan baik. Mematuhi hukum dan menghargai otoritas. Citizenship merupakan konsep menjadi warga negara yang baik. Warna ungu melambangkan citizenship karena pada zaman kerajaan dulu jubah eksklusif ungu hanya digunakan para bangsawan.

Dari penjelasan di atas, dapat penulis pahami bahwa kejujuran dan integritas sebagai pilar utama karakter siswa Indonesia menjadi barang langka yang penting dan mendesak. Sudah terlalu banyak bencana kemanusiaan (pembunuhan aktivis HAM), bencana birokrasi (korupsi), dan bencana korporasi (Lapindo Brantas) bermula dari ketidakjujuran. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa nilai UN sesungguhnya dikatrol semata demi mempertahankan sistem evaluasi yang tidak penting dan mendesak itu. Integritas mesti dijadikan visi persekolahan agar Indonesia menjadi berkarakter dan bermartabat.

Hormat kepada sesama juga harus dikedepankan sebagai kultur persekolahan. Sudah menjadi salah kaprah seragam sekolah tidak pernah menyembunyikan segregasi kaya dan miskin. Sekolah bukanlah tempat ramah bagi mereka yang menyandang masalah sosial dan kesesakan ekonomi. Tanggung jawab mesti mendarah daging sebagai nilai persekolahan karena kecenderungan pelajar semakin seenaknya sendiri akibat krisis keteladanan dari pendidik maupun figur. Prinsip keadilan mesti dirumuskan sebagai misi persekolahan.

Akhir kata dari penulis, bahwa untuk membangun siswa Indonesia yang berkarakter dan unggul diperlukan enam pilar utama institusi penghasil manusia-manusia (siswa) berkarakter kuat: trustworthiness, responsibility, respect, fairness, caring, dan citizenship. Banyak riset menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang didesain dengan baik akan memiliki dampak pada prestasi akademis siswa (Jannakos, 2005). Pendidikan karakter tidak dapat terlepas dari pengembangan kemampuan akademik siswa. Semoga.!***

(Guru SMP & SMA St. Fransiskus  Asisi Pontianak, Kalimantan Barat)