In house training

In house training

Oleh: Agustinus S.S.

Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu proses pengembangan potensi individu siswa. Melalui pendidikan, potensi yang dimiliki oleh individu siswa akan diubah menjadi kompetensi. Kompetensi mencerminkan kemampuan dan kecakapan individu dalam melakukan suatu tugas atau pekerjaan. Tugas pendidik atau guru dalam hal ini adalah memfasilitasi anak didik sebagai individu untuk dapat mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi kompetensi sesuai dengan cita-citanya. Oleh karenanya, program pendidikan dan pembelajaran seperti yang berlangsung saat ini harus lebih diarahkan atau lebih berorientasi kepada invidu peserta didik.

Ada hal yang sangat menarik, ketika penulis membaca buku Julia Jasmine, M.A. berjudul Mengajar Dengan Metode Kecerdasan Majemuk yang mengatakan bahwa kecerdasan intelektual tidak hanya mencakup dua parameter saja, bahasa dan matematika, tetapi dapat dilihat dari aspek kinetis, musikal, visual-spatial, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Jenis-jenis kecerdasan intelektual tersebut dikenal dengan sebutan kecerdasan jamak (Multiple Intelligences). Lebih lanjut Julia Jasmine memaparkan bahwa semua anak pada dasarnya lahir dengan potensi untuk menjadi jenius sesuai dengan bakat dan talentanya masing-masing (Julia, hal 52).

Paradigma pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan kecerdasan selayaknya mengacu pada perkembangan otak manusia seutuhnya. Realitas pembelajaran dewasa ini menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar lebih banyak mengacu pada target pencapaian kurikulum dibandingkan dengan menciptakan siswa yang cerdas secara utuh. Akibatnya, peserta didik dijejali dengan berbagai informasi tanpa diberi kesempatan untuk melakukan telaah dan perenungan secara kritis, sehingga tidak mampu memberikan respons yang positif. Mereka dianggap kertas kosong yang siap menerima coretan informasi dan pengetahuan saja.         Di Indonesia, novel bestseller yaitu Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata juga menggambarkan sosok seorang guru bagaimana Ibu Muslimah yang telah mempraktikkan pembelajaran yang mengutamakan pengembangan potensi yang dimiliki oleh para siswanya. Dalam keterbatasan yang ada pada sekolahnya, Ibu Muslimah memanfaatkan ketidakterbatasan potensi yang dimiliki anak didiknya. Ia sadar betul bahwa setiap individu memiliki kelebihan yang perlu diasah dengan tepat. Kesadaran itulah yang mengantarkan seorang guru dari Belitung tersebut untuk memperoleh penghargaan dari pemerintah. Tetapi bagi penulis, sesungguhnya penghargaan terbesar bagi seorang pendidik adalah di saat ia dapat menyaksikan kesuksesan yang diraih para anak didiknya dengan memaksimalkan potensi yang ia miliki walaupun ditengah keterbatasan.

Menurut Paul Suparno dalam bukunya Teori Intelegensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah mengatakan bahwa pada dasarnya siswa adalah individu yang unik. Setiap siswa memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Tidak semua individu memilki profil intelegensi yang sama. Setiap individu juga memiliki bakat dan minat belajar yang berbeda-beda. Pada era informasi ini memang sangat dirasakan pengetahuan bagaikan air bah yang sangat sulit dibendung, berbagai media sebagai sarana pembelajaran terpampang di depan kita dan sangat mudah meraihnya, dengan demikian tidak semua individu harus mempelajari semua informasi. Setiap individu siswa harus bersifat selektif dalam menentukan keterampilan dan pengetahuan yang akan dipelajari. Individu siswa harus memiliki pilihan untuk memilih apa yang ingin dipelajari dan bagaimana mempelajarinya.

Teori mengenai kecerdasan majemuk adalah salah satu perkembangan paling penting dan menjanjikan dalam pendidikan  dewasa ini. Teori kecerdasan majemuk merupakan validasi tertinggi terhadap gagasan bahwa perbedaan individu adalah penting. Pemakaian teori ini dalam pendidikan sangat bergantung pada pengenalan, pengakuan, dan penghargaan terhadap setiap minat dan bakat masing-masing pembelajar. Teori kecerdasan majemuk bukan hanya mengakui perbedaan individual untuk tujuan-tujuan praktis, seperti pengajaran dan penilaian, tetapi juga menganggap serta menerimanya sebagai sesuatu yang normal, wajar, bahkan menarik, dan sangat berharga.

Menurut Howard Gardner dalam Paul Suparno (2004:57) menegaskan bahwa kecerdasan adalah kemampuan untuk melakukan abstraksi, serta berpikir logis dan cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru. Lebih lanjut dijelaskan, bahwa kecerdasan (inteligensi) secara umum dipahami pada dua tingkat yakni : Pertama, kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kedua, kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. Howard Gardner menjelaskan terdapat delapan jenis kecerdasan (1983) yang sudah diidentifikasinya dan sangat penting bagi siswa, yaitu pertama, kecerdasan linguistik yakni kecerdasan yang berisi kemampuan untuk berfikir dan menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara tertulis maupun lisan, dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya. Peserta didik dengan kecerdasan bahasa yang tinggi umumnya ditandai dengan kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan suatu bahasa seperti membaca, menulis karangan, membuat puisi, menyusun kata-kata mutiara, dan sebagainya.

Kedua, kecerdasan matematis yakni kecerdasan logis matematis memuat kemampuan siswa dalam berpikir secara induktif dan deduktif, berpikir menurut aturan logika, memahami dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir. Ketiga, kecerdasan visual spasial yakni memuat kemampuan siswa untuk lebih memahami secara lebih mendalam hubungan antar objek dan ruang. Peserta didik ini memiliki kemampuan menciptakan imajinasi bentuk dalam pikirannya. Keempat, kecerdasan kinestetik yakni kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah. Hal ini dapat dijumpai pada siswa yang unggul pada salah satu cabang olahraga, seperti bulu tangkis, sepakbola, basket, renang, menari baik balet maupun lainnya. Kelima, kecerdasan musikal yakni kemampuan siswa untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada disekelilingnya, termasuk dalam hal ini adalah nada dan irama. Siswa tipe ini cenderung senang sekali mendengarkan nada dan irama yang indah, bisa melalui senandung yang dilagukan sendiri, ataupun mendengarkan dari alat musik misalnya tape recorder, radio, pertunjukan orchestra, atau alat musik yang dimainkannya sendiri.

Keenam, kecerdasan interpersonal yakni menunjukkan kemampuan siswa untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan sekelilingnya. Ketujuh, kecerdasan intrapersonal yakni kemampuan siswa untuk peka terhadap dirinya sendiri dan senang melakukan intropeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahan yang ada pada diri sendiri dan mencoba memperbaikinya. Kedelapan, kecerdasan naturalis yakni kemampuan siswa untuk peka terhadap lingkungan alam.

Dari paparan di atas, penulis berpendapat, bahwa Gardner memaknai konsepnya tentang kecerdasan majemuk (multiple intellegensi) ini, mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang konvensional mengenai kecerdasan dari tunggal menjadi majemuk. Kecerdasan tidak terbatas pada kecerdasan intelektual yang diukur dengan menggunakan beberapa tes intelegensi yang sempit saja atau sekadar melihat prestasi ditampilkan seseorang melalui ujian dan semacamnya. Akan tetapi, kecerdasan juga menggambarkan kemampuan seseorang pada bidang seni, spasial, olahraga, berkomunikasi, dan cinta akan lingkungan.

Akhir kata penulis, setiap siswa memiliki potensi yang unik yang harus dikembangkan menjadi kompetensi. Pendidikan merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mengembangkan potensi individu menjadi kompetensi. Dalam mengimplementasikan teori kecerdasan majemuk di sekolah, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu: masyarakat dan orang tua, guru, kurikulum, fasilitas pembelajaran dan sistem penilaian, sedangkan kegiatan dapat dilakukan dengan cara menyediakan hari-hari karir, study tour, biografi, pembelajaran terprogram, eksperimen, majalah dinding, papan display, membaca buku-buku untuk mengembangkan kecerdasan majemuk, membuat tabel perkembangan kecerdasan anda, atau human intelligence hunt. ***

(Guru SMP & SMA St. Fransiskus  Asisi Pontianak, Kalimantan Barat)